
_____
____
Di sebuah gedung kepribadian, seorang laki-laki yang sudah tak lagi muda tengah berdebat dengan laki-laki yang lebih muda, dan sepertinya itu adalah anaknya.
Mereka adalah Arman dan juga Fadil yang tengah datang untuk berkunjung, dan melihat keadaan Arman sekarang. Meskipun Arman selalu berperilaku buruk padanya namun Fadil tetaplah memaafkannya, sebagai bakti dari anak kepada orang tuanya.
Arman terus merengek minta di bebaskan dari penjara, dia sudah tidak tahan lagi ada di penjara yang seperti neraka baginya. Dia bisa menjadi gila jika semakin lama beras di sana.
" Fadil, tolong Papa. Papa sudah tidak tahan berasa di sini, Fadil. Papa hampir gila!." Ucap Arman yang sudah merasa sangat frustasi dengan nasibnya sekarang.
" Fadil sudah berusaha, Pa. Tapi semuanya membutuhkan proses. Pengacara juga sudah berusaha keras. Kamu semua berusaha untuk Papa bisa bebas. " Jawab Fadil.
" Halah! Dari kemarin kamu bilang itu itu terus terus sampai kapan Papa akan di sini. " Ucap Arman yang sama sekali tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Fadil.
Sudah berhari-hari Fadil selalu pulang pergi ke kantor kepolisian itu, semua dia lakukan untuk kebebasan Arman sang Papa. Bahkan Fadil juga tak bisa istirahat dengan tenang, dia juga sudah mencari pengacara handal, namun mau bagaimana lagi? Kesalahan Arman tak mudah untuk di maafkan.
" Sabar, Pa. Papa pasti akan bebas. Kita tunggu waktu, Pa. " Ucap Fadil yang terus menghibur dan membesarkan hati Arman yang begitu kecil dan sempit.
" Tidak, Fadil. Papa maunya sekarang! Papa sudah tidak betah di sini, Papa hampir gila!. " Teriak Arman terus menerus.
Siapapun tidak akan betah jika ada di penjara, semuanya di atur dan di batasi, dan yang paling penting mereka tidak akan bisa bebas kemanapun dan melakukan apapun yang mereka sukai.
Begitu juga dengan Arman sekarang, dia ingin cepat-cepat keluar dan bisa merebut kembali hartanya yang telah di ambil secara curang oleh Siska. Bagaimana caranya semua harta itu harus bisa kembali.
" Bagaimana dengan perempuan sinting itu?. " Tatapan mata Arman semakin bulat kala ucapan nya keluar mengenai perempuan yang telah mengambil hartanya dan juga menghancurkan.
" Dia semakin bringas, Pa. Seperti Papa akan susah untuk mengambil lagi harta Papa. " Jawab Fadil.
Semuanya pasti akan susah karena di kertas itu tertera dengan jelas tanda tangan Arman, dan semua hartanya sudah beralih di tangan Siska sekarang, perempuan licik.
" Bagaimana pun kamu harus bantu Papa untuk mengambil lagi harta itu. Kamu harus bantu Papa, Fadil. "
" Iya, Pa. Fadil akan bantu. " Jawab Fadil pasrah.
" Sekarang Fadil pulang dulu Pa." Pamit Fadil.
__ADS_1
" Hem... Ingat! Cepat bebaskan Papa. Bukannya hartamu juga banyak? Kamu bisa kan memberikan uang tebusan untuk Papa keluar dari sini. " Ucap Arman.
Fadil menghela nafas panjang, seandainya bisa Fadil sudah melakukan itu sedari kemarin, tapi dia tidak bisa karena tak akan ada jaminan untuk Arma bisa keluar begitu saja. Yohan sendiri yang memastikan itu semua.
" Iya, Pa. " Jawab Fadil yang akhirnya mengiyakan.
" Bagus, kamu memang anak Papa. " Arman menepuk pundak Fadil dua kali, dia langsung beranjak dan kembali ke tempat dimana dia di kurung di dalam sel.
Fadil sedih, kenapa baru sekarang Arman mengatakan kalau dia adalah anaknya? Kenapa tidak kemarin-kemarin disaat masalah ini belum ada, apa mungkin Arman akan memanfaatkan Fadil lagi seperti yang sudah-sudah?.
_____
Mobil hitam berhenti di depan rumah Airin dan juga David, pelan-pelan pintunya juga terbuka dan keluar lah Tasya dan juga Fahmi.
Senyum terus terpancar pada Tasya dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anak dan juga menantunya itu. Ini akan menjadi kejutan yang begitu membahagiakan untuk mereka berdua, mungkin?.
" Yuk, Abi. Bunda sudah tak sabar ingin melihat ekspresi mereka berdua. " Ucap Tasya terus antusias.
" Bentar, Bunda. Sabar dulu. " Ucap Fahmi.
Tasya dan Fahmi berhenti sejenak, mereka melihat siapa yang datang secara bersamaan dengan mereka.
" Siapa ya, Bi?. " Tanya Tasya mengernyit.
" Tau. " Jawab Fahmi singkat.
Kebingungan mereka berdua terjawab saat Fani dan juga Yohan keluar dari mobil secara bersamaan. Ternyata yang datang adalah kedua besannya.
Senyum terpancar dari mereka semua, siapa yang tidak bahagia bisa bertemu dengan besan secara tiba-tiba dan juga datang ke rumah anak mereka secara bersamaan.
" Assalamu'alaikum. " Sapa Yohan dan juga Fani secara bersamaan.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab Tasya dan juga Fahmi.
Tasya dan Fani saling berjabat tangan dan juga saling berpelukan dengan hangat, begitu juga dengan Fahmi dan juga Yohan, mereka melakukan hal yang sama.
" Wah bisa barengan gini ya, senangnya. " Ucap Tasya.
__ADS_1
"Iya, ini kebetulan sekali. " Jawab Fani.
Di saat keempatnya tengah berbincang-bincang pintu terbuka dan terlihat wajah Airin yang begitu sumringah melihat kedatangan mereka semuanya.
" Bunda, Abi, Mami, Papi." Panggil Airin dan semuanya langsung menoleh ke arah Airin.
" Assalamu'alaikum, sayang. " Tasya dan Fani melangkah mendahului mendekati Airin secara bersamaan.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab Airin, Airin langsung menyalami mereka semua satu persatu dan setelah itu mengajak mereka semua masuk ke dalam rumahnya. " Masuk yuk, Mas David ada di dalam. " Ajak Airin.
" Iya sayang. " Jawab mereka serentak.
Baru juga masuk David datang dan juga langsung menyalami mereka semua, David dan Airin sedikit bingung karena mereka bisa datang secara bersamaan, apa mungkin mereka memang sudah merencanakannya?.
Semua berkumpul di ruang tengah, mengobrol, bercanda bersama-sama dengan teh dan juga camilan yang menjadi teman untuk mereka.
Tasya dan juga Fani yang sudah tak sabar dengan hadiah mereka langsung mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas masing-masing.
" Ini hadiah untuk kalian berdua. " Ucap Tasya dan Fani dengan kompak.
Tasya dan Fani saling tatap, mereka tersenyum kok bisa barengan begitu dan yang di keluarkan juga sama-sama amplop berwarna coklat.
" Ini apa Mi. " Tanya David yang mengambil amplop dari Fani.
Sedangkan Airin mengambil amplop dari Tasya. Keduanya melempar pandangan terlebih dahulu sebelum membuka.
" Itu paket bulan madu untuk kalian berdua. " Ucapnya mereka lagi dengan kompak.
" Lah.. Bisa samaan ya, hahaha.. " Gelak tawa keluar dari Yohan dan juga Fahmi.
Namun tidak dengan David dan juga Airin, mereka malah mengernyit bingung. Paket bulan madu? Mereka sama sekali tak berencana pergi dalam waktu dekat ini. Apalagi dalam waktu-waktu ini mereka harus serius dalam kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai.
" Tapi.. " Ucap Airin bingung.
_____
________
__ADS_1