Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Rencana


__ADS_3

Di pinggir jalan Airin melamun sembari menanti ojek onlinenya datang. Setelah kejadian di apartemen tadi membuatnya gelisah, ia memegangi dadanya yang masih saja berdebar kencang.


"Ya ampun kenapa setiap dekat dengan laki-laki selalu seperti ini? Apa mungkin ini efek sudah lama tidak pernah dekat dengan laki-laki?" Ia menerka nerka.


Apalagi di acara makan malam tadi hanya ada kesunyian.


"Airin sadarlah, tujuanmu datang ke kota hanya untuk mencari kerja tidak untuk yang lainnya."


Airin tidak mau terbuai dengan apapun, apalagi jika membayangkan ia akan mendapatkan seorang laki-laki sukses. Ia masih menyadari posisinya dimana.


Hingga lamunan nya itu buyar ketika tukang ojek yang di pesannya datang.


*


*


Di dalam salah satu kamar hotel, sepasang kekasih tengah bersiap bergelut mencari nikmatnya dunia.


"Hei... kamu selalu saja tidak sabar!" Perempuan itu tersenyum melihat kekasihnya yang sekarang melucuti pakaiannya.


"Itu karena kita hanya bertemu beberapa kali dalam sebulan, sayang." sahut nya.


Mereka yang tak lain Aurel dan Bagas, hubungan kekasih yang tak seharusnya terjalin. Karena Bagas yang sudah mempunyai tunangan.


Mereka hanya bisa bertemu beberapa kali dalam sebulan karena Bagas yang pekerjaannya berada di luar kota, dan itu keuntungan untuk mereka agar tunangan Bagas tidak curiga dengan hubungan gelapnya.


Tapi yang Bagas tidak tau, Aurel mau dengannya hanya karena ingin merusak hubungannya dengan sang tunangan.


Aurel ternyata mempunyai dendam tersendiri dengan gadis itu, semenjak di bangku kuliah. Di mana lelaki yang di sukainya lebih memilih gadis itu.


"Hmm!" Aurel hanya menerima apa yang di lakukan Bagas, di saat kekasih gelapnya itu mulai menciumnya.


Tidak di pungkiri, Aurel terkadang juga menikmati kegiatan ini. Karena sebelum dengan Bagas, ia sudah tidur dengan mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Ingat sayang, tidak untuk di leher." Alda memperingatkan ketika Bagas mulai menyusuri leher jenjangnya.


"It's ok." Dan Bagas hafal dengan itu.


Gaun yang di kenakan Aurel sudah terjatuh di lantai, menyisakan dalaman dengan warna senada.


"Ehm.. " Aurel memejamkan mata, menikmati sentuhan Bagas yang mulai tidak terkendali.


Penutup kedua asetnya kini sudah terlepas, hingga menampilkan kedua bulatan yang tampak indah.


"Akh... " Aurel merasakan jika Bagas meremas salah satu asetnya dengan keras.


Bagas tersenyum simpul, ia menatap wajah Aurel yang kian memerah di bakar gairah. "Apa kamu menyukainya?" Dengan tangan yang masih berada di tempatnya dan sesekali mempermainkan puncaknya.


"Apapun yang kamu lakukan, aku menyukainya." Nafas Aurel sudah tidak beraturan, menahan hasratnya yang kian menanjak.


Tanpa banyak bicara, Bagas melahap satu bulatan itu. Ia merasakan jika puncaknya telah mengeras di dalam mulutnya.


"Ahh... " satu des*han Aurel lolos begitu saja ketika Bagas menyesap salah satu asetnya.


Tubuh yang selalu membuatnya candu.


Beberapa saat kemudian, kini keduanya sudah polos tanpa sehelai benang pun.


"Akh..." Tangan Aurel mencengkeram lengan Bagas, begitu kekasihnya itu memasukinya begitu saja.


Bagas merasakan miliknya di cengkeram oleh pusat inti Aurel, membuatnya segera berpacu.


Di dalam kamar hotel sekarang dinginnya pendingin ruangan terkalahkan oleh panasnya hasrat mereka berdua.


Setelah berpacu beberapa saat, Bagas merasakan kedutan hebat di inti kekasihnya. Dan itu menandakan jika batas akhir Aurel sebentar lagi akan terjadi, hingga membuatnya semakin mempercepat kegiatannya.


"Ah... !" Keduanya mencapai batas.

__ADS_1


"Mau kemana?" Bagas melihat Aurel sudah rapi setelah membersihkan diri.


"Aku harus pulang!" Aurel mengambil tasnya dan bersiap pergi.


"Pulang?"


"Hm... "


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa, hanya harus pulang saja."


"Biasanya kamu pagi baru pulang."


"Aku akan mulai bekerja besok di kantor untuk membantu Papa, ok." Aurel memberikan kecupan di bibir Bagas, dan kemudian ia segera pergi. Ia menghindari pertanyaan yang mungkin tidak akan bisa ia jawab. "Dah..."


*


*


Ketika sarapan berlangsung, Seto heran melihat putrinya yang sudah rapi di pagi hari dengan pakaian formal. Padahal biasanya putri manjanya itu masih menikmati mimpi indahnya.


"Tumben kamu sudah bangun?" Ketika putrinya itu duduk dan akan menikmati sarapan bersama.


"Papa ini bagaimana! Kemarin katanya suruh bantu di kantor." Aurel mengingatkan. Namun sebenarnya bukan itu alasan utamanya ia mau bekerja.


Ada tujuan tersendiri yang sudah ia rencanakan dengan cara bekerja di kantor papanya.


"Benarkah!" Seto tidak menyangka jika putrinya akan semudah itu memutuskan bekerja, padahal sebelum sebelumnya putrinya selalu mencari alasan untuk menolaknya.


"Hm." Aurel mulai memakan sarapannya.


...----------------...

__ADS_1


...Maaf guys sudah lama tidak lanjut karena kesibukan di dunia nyata 🙏. ...


...Oh ya tidak lupa juga aku mau ngucapin selamat tahun baru untuk kalian semua, semoga di tahun 2023 akan lebih baik lagi kita dalam menjalaninya... Aminn 🤲...


__ADS_2