Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Bertemu Dengan Bian


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Airin nampak duduk melamun di balkon apartemen Riko, setelah menyelesaikan pekerjaannya ia sejenak mengistirahatkan tubuhnya.


Menikmati angin yang menerpa wajahnya, dan hangatnya sinar matahari sore.


Kegiatan yang akhir-akhir ini sering ia lakukan, melamun dengan keadaan hidupnya.


Tidak ada keluarga yang menghubunginya, seakan ia hanya seorang diri di dunia ini.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya, tampak nama Riko tertera di sana.


"Halo!" sahut Airin begitu panggilan tersambung.


"Apa kamu sekarang ada di apartemen?"


"Iya, Pak."


"Apa kamu bisa membawakan dokumen saya yang tertinggal di ruang kerja?"


"Bisa Pak," Airin segera beranjak untuk menuju ruang kerja.


"Dokumennya ada di atas meja, dengan map warna hitam." Beritahu Riko dari sebrang sana.


Tidak begitu sulit bagi Airin untuk menemukannya, karena dokumen itu memang berada di atas meja. "Saya sudah menemukannya Pak."


"Baiklah kalau begitu, saya tunggu di restoran xxx."


Dan sambungan telepon pun berakhir.


*


*


Airin mengedarkan pandangannya saat memasuki restoran yang di sebutkan oleh Riko. Dan sosok Riko terlihat baru saja keluar dari sebuah ruangan.


"Terima kasih sudah mau mengantarkannya kemari," begitu Riko menerima dokumen dari Airin. "Duduklah dulu, kamu boleh memesan makanan dan minuman. Saya harus rapat sebentar."


"Ti--" Niat hati Airin ingin menolaknya. Tapi Riko sudah lebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


Sehingga Airin memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di restoran itu, memesan segelas jus ketika pelayan menghampiri nya.


Beberapa saat berlalu, Riko tak kunjung terlihat. Sepertinya rapat yang dilakukannya tidak berjalan mulus.


"Kenapa lama sekali! Apa aku tinggal pulang saja ya?" Airin menggumam.


Tapi niatan itu rupanya tidak benar-benar dilakukannya.


Ia lalu beranjak dari sana, menghabiskan segelas jus membuatnya merasakan panggilan alam.


Airin mengedarkan pandangannya, terlihat toilet yang ia cari terletak di pojok belakang ruangan.


Baru saja beberapa langkah, ia berpapasan dengan seseorang yang baru keluar dari salah satu ruangan VIP.


Deg.


Meskipun ia tidak menghentikan langkahnya, tapi detak jantung Airin tidak bisa di bohongi.


Seseorang yang sama sekali tidak ingin ia lihat.


Bian.


Sejak kejadian terakhir dengan mantan pengasuh adiknya itu, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mungkin salah satunya di sebabkan oleh rasa bersalah.


Apalagi perkataan Airin yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Ingin rasanya waktu itu ia segera minta maaf, namun ia sadar jika gadis itu tidak mungkin mau bertemu dengannya.


Di dalam toilet, setelah menyelesaikan urusannya. Airin menatap pantulan dirinya di cermin.


"Hhaaa..." Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Padahal masih banyak tempat, tapi kenapa harus bertemu di sini!" ia menggumam.


Tidak lama terdengar samar-samar suara beberapa orang, sepertinya mereka juga akan menuju ke toilet.


Dan benar saja, beberapa wanita kemudian masuk ke dalam toilet. Mereka membicarakan sesuatu hal yang menyenangkan, hingga tidak memperdulikan keberadaan Airin.


"Aurel, bukannya itu cowok inceran lo." ucap salah satu dari mereka.


Gadis yang bernama Aurel itu hanya tersenyum.


"Kenapa lo tadi nggak nyamperin!" salah satu dari mereka menimpali.

__ADS_1


"Belum waktunya aja," jawab Aurel. "Kalian tau sendiri, tidak butuh waktu lama gue untuk mendapatkan siapapun."


Ia penuh dengan percaya diri mengatakan itu, memang seperti yang sebelum sebelumnya ia bisa mendapatkan siapapun. Apalagi ia anak dari salah satu pengusaha sukses, menjadi nilai plus untuk nya.


"Tapi sepertinya dia susah di dekati!" ujar sahabatnya. "Tau sendiri selama ini tidak ada yang mampu menaklukkan nya, sejak terakhir ia berpisah dengan kekasihnya beberapa tahun lalu. Padahal dengar dengar mantannya itu sudah menikah dengan pengusaha lain."


"Eits... itu hanya berlaku untuk wanita lain," Aurel mengoreksi. "Tidak untuk gue," tegasnya sekali lagi. "Kita lihat saja, Arbian Nugra Lesmana."


Ia lalu membenarkan dandanannya, tidak lupa memoleskan lipstik untuk membuatnya semakin mempesona.


Jika di lihat, memang tidak ada yang kurang dari Aurel. Tubuhnya tinggi semampai, tidak jauh berbeda dengan model. Wajahnya cantik, tidak kalah dengan artis ibu kota.


Airin yang lagi-lagi mendengar nama Bian, sekali lagi mengembuskan nafasnya kasar. "Masih nang jedeng kok yo sek kerungu jenenge wong iku. (Meskipun sudah di toilet, kenapa masih dengar nama orang itu) " lirih nya.


Aurel seketika menoleh ke arah Airin, meskipun ia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Airin. Tapi ia merasa jika Airin sudah menguping pembicaraan dengan sahabatnya.


"Guys, mungkin wanita yang tidak berhasil mendekati Bian itu wanita kampungan." Aurel menelisik penampilan Airin mulai ujung rambut hingga ujung kaki.


Gadis tanpa make-up tidak seperti dirinya, dan pakaian tidak semahal miliknya.


Kedua sahabatnya mengikuti arah pandang Aurel. "Betul banget," ujar keduanya kemudian.


Meskipun tidak melihat ke arah Aurel dan para sahabatnya, Airin mengerti jika mereka sedang menatapnya. Karena yang berada di toilet hanya ia.


Airin memutar bola matanya malas.


Malas sekali jika ia harus meladeni Aurel dan sahabatnya, moodnya sudah hancur sejak tadi ia bertemu dengan Bian dan ia tidak mau menambah nya lagi.


Ia kemudian berniat pergi dari sana, tapi ketika ia berbalik ia melihat seorang gadis berseragam SMA memasuki toilet.


Bruk.


Ternyata gadis itu menabrak Aurel juga sahabatnya. "Ups... sorry Tante, sengaja." katanya. Dan di detik berikutnya ia menutup mulutnya. "Eh, maksudnya nggak sengaja."


Ia tersenyum manis tanpa memperdulikan wajah Aurel yang kesal.


...----------------...


...Apa masih ada yang stay di sini? 🤭...

__ADS_1


__ADS_2