
Airin merasa heran dengan sikap Bian, tadi awalnya ia mengira jika Bian sedang sakit. Tapi setelah merasa aneh, ia mendekatkan wajahnya. "Ya ampun bau sakali!"
Ia seketika menjauh, aroma bau alkohol begitu menyengat dari mulut Bian.
"Sebenarnya Bapak ini habis makan apa sih! Bau sekali," Airin masih tidak mengerti jika Bian sedang mabuk. Karena ia belum pernah mencium bau alkohol.
Ia mengedarkan pandangannya dan keadaan benar-benar sepi. "Ini harus bagaimana?" bingungnya.
Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka salah satu aplikasi untuk memesan taksi online.
Namun hingga beberapa saat, ia tak kunjung juga mendapatkannya. "Apa gara-gara sudah malam jadi susah ya?"
Ia lalu memutuskan menghubungi nomer Kania, tapi gadis cantik di seberang sana rupanya tidak juga menjawabnya.
"Pasti sudah tidur," Airin yang masih mencoba menghubungi nomer Kania.
Tapi hasilnya masih sama tidak ada jawaban.
"Bu Sofiana!" Airin teringat dengan Mama Bian, sebenarnya ia ragu tapi jika tidak begitu harus bagaimana lagi.
"Kok sama!" Setelah mencoba menghubungi Sofiana dan tidak juga mengangkatnya.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kasar. "Terus bagaimana?" Ia menatap Bian yang masih mengoceh.
Beberapa saat kemudian dengan terpaksa Airin memapah tubuh Bian agar bisa berdiri dan berjalan.
"Ya ampun Pak, berat sekali." Tubuh Airin yang kecil jelas saja sangat berbanding terbalik dengan Bian. Ia harus mengeluarkan seluruh tenagahnya agar bisa membantu Bian berjalan.
Airin memutuskan untuk membawa Bian ke kosannya, dan meminta tolong Pras untuk menampung Bian. Karena mana mungkin ia akan memasukkan Bian ke dalam kamar kosnya.
__ADS_1
Bisa di pastikan ia akan di usir jika melakukan itu.
"Alhamdulillah," Ia bersyukur begitu sampai di tempat kos. Nafasnya memburu, dan tenggorokannya pun terasa begitu kering.
Airin menyandarkan Bian di tembok samping pintu kamar Pras, sembari tetap ia pegangin dengan satu tangannya. Dan satu tangannya lagi mengetuk kamar Pras.
Ia mengetuknya perlahan agar tidak membangunkan penghuni kos yang lainnya dan itu artinya Pras tidak akan terbangun begitu saja.
"Pak berhentilah berbicara, nanti semua orang akan terbangun." Airin membekap mulut Bian, ia bahkan harus berjinjit untuk menggapai.
"Ini juga Pras nggak bangun-bangun," Airin mulai kesal dengan situasi ini. Di saat perutnya yang terasa tidak nyaman, ia juga harus mengurusi Bian yang mabuk. "Astaga kenapa tidak kepikiran dari tadi," ketika ia menyadari tidak menelfon Pras saja.
Tanpa di sadari Airin, Bian sedari tadi terus memandangnya. Bahkan memegang tangan gadis itu yang berada pada mulutnya.
Bian mengdipkan matanya beberapa kali mencoba memastikan jika yang di lihatnya adalah Alda.
"Akhirnya kamu datang!" Bian begitu saja menarik Airin ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu tertegun. "Aku sungguh merindukanmu," ia memeluknya erat seolah Airin yang di lihatnya sebagai Alda akan pergi lagi.
Ia mencoba melepaskan diri dari Bian. "Pak lepaskan!" Ia menendang kaki Bian, hingga membuat jarak di antara mereka.
Airin mulai waspada, ia lalu kembali untuk mengetuk pintu kamar Pras. Tapi sebelum itu terjadi, Bian tidak membiarkannya pergi.
Bian justru menarik Airin hingga menyudutkan nya ke tembok tempatnya semula. "Aku merindukan mu," Bian begitu saja mendaratkan bibirnya pada bibir Airin.
Airin di buat terkejut untuk kesekian kalinya, hingga ia terpaku di tempatnya.
"Kenapa?" Bian merasa Alda tidak menyambut pangutan bibirnya, karena Alda hanya diam saja. "Tidak apa-apa, biar aku saja."
Yang kemudian kembali memangut bibir Airin. Ia meluapkan rasa kerinduannya setelah beberapa lama tidak berjumpa.
__ADS_1
Airin sadarlah! Ini semua tidak benar.
Airin mencoba menarik kembali kesadarannya, tapi saat itu juga Bian masih bermain di bibirnya.
Di mana Bian begitu meresapi rasa yang berbeda dari sebelumnya, rasa yang lebih manis ia rasakan. Ia menyesap nya penuh dengan perasaan, mempermainkan nya dengan penuh kehati-hatian.
"Uhm," Airin memberontak. Memukul dan menendang kaki Bian, tapi Bian tidak melepaskannya begitu saja.
Pemberontakan yang di lakukan Airin, semakin menguntungkan Bian. Dengan begitu ia bisa bermain di rongga mulut Airin, menjelajahi apapun yang ada di sana.
Merasa puas, Bian justru beralih tempat. Kini ia sudah berada di leher Airin, menikmati aroma yang mulai ia sukai.
"Akh..." Airin memejamkan matanya, katika merasa Bian menyesap dan sedikit menggigit lehernya. "Stop!" Airin sekuat tenaga mendorong Bian.
Membuat pria itu terlepas darinya. Mata Airin memerah, sungguh rasanya ia di ambang batas kesabarannya.
Bruk.
Bian yang terjatuh tidak sadarkan diri.
Klek.
"Ada apa ini?" Pras membuka pintu kamar kosnya dan terkejut melihat Airin bersama seorang pria yang tergeletak.
"Uhm... tolong malam ini biarkan Pak Bian menginap di kamar Mas Pras ya! Tadi aku menemukan nya tidak sadarkan di jalan." ujar Airin.
"Pak Bian?" Pras menajamkan pandangannya pada pria itu, dan benar saja dia adalah bos nya.
"Terima kasih Mas," Meskipun Pras belum menyetujuinya, Airin langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia rasanya sudah tidak tahan berada di sana.
__ADS_1
...----------------...
...Ya ampun Bian, beban banget sih! Udah di tolong malah nyusahin ðŸ¤...