Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Terluka


__ADS_3

Bian begitu saja pergi dari acara sarapannya begitu ia mendapat pesan dari Alda. Itu semua bagai angin segar yang menerpa dirinya.


Sudah beberapa hari kekasihnya itu tidak dapat ia temui, bahkan menelpon nya juga tidak bisa.


Dan disinilah sekarang mereka bertemu di kafe. Tempat itu masih lumayan sepi karena masih terlalu pagi.


Ketika Bian datang, Alda sudah lebih dulu berada di sana.


Bian melihat ada yang sedikit aneh dengan sikap Alda, dan itu membuatnya sedikit khawatir. "Sayang, kamu tidak apa-apa?"


Alda menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan senyum. Tapi dari tatapan Alda terlihat ia begitu banyak menyimpan sesuatu.


Setelah beberapa saat mereka duduk bersama dan hanya ada keheningan. Hanya terdengar suara Bian yang sesekali terdengar menanyakan keadaan Alda ketika beberapa hari kemarin tidak bertemu.


"Mas," Alda mulai buka suara dan ingin mengatakan apa maksud mengajak Bian bertemu. "Sebenarnya ada yang ingin aku katakan."


Alda meremas tangannya yang saling bertautan, ia takut. Tapi ini harus ia lakukan karena ini yang terbaik.


Bian menunggu Alda berbicara, ia tahu pasti ada sesuatu yang penting.


"M-mas," ucap Alda gugup. "A-aku ingin hubungan kita berakhir." Ia sudah mengambil keputusan, dan ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Bian.


Deg.


Setelah beberapa hari tidak bertemu, lalu sekarang ia mendengar berita yang sungguh mengejutkan.


"Aku sadar hubungan kita ini salah, dan aku memilih untuk mengakhirinya. Aku ingin memulai hidup baru bersama Mas Angga." Meskipun Alda yang mengakhirinya namun hatinya juga sama seperti Bian yang merasakan sakit. Tapi ia sudah memikirkannya secara matang-matang.


"Jadi ini alasan kamu beberapa hari menghilang?" Ada senyum sinis di bibir Bian. "Lalu apa suami kamu akan mau menerima jika tahu semua kebenarannya?" hardiknya. Karena ia yakin jika suami Alda tidak akan mau kembali bersama jika kebenarannya terungkap.

__ADS_1


"Mas Angga sudah tau semuanya," satu tetes cairan bening menghiasi pipi Alda. Matanya mengarah ke luar dinding kaca kafe, di mana mobil Angga terparkir.


Alda memang sudah menceritakan semuanya, dan tidak ada lagi yang ia tutupi dari Angga. Hatinya semakin tersayat ketika melihat kebaikan suaminya merawatnya penuh kasih di rumah sakit.


Dan semakin hari ia mulai tersadar, jika ia harus memilih salah satu dari mereka. Hingga akhirnya ia memilih Angga.


Setelah menemukan waktu yang tepat, ia menceritakan betapa berdosanya ia selama ini telah mempermainkan rumah tangga yang ia bina.


Padahal dulu Angga datang di saat ia benar-benar terpuruk.


Terluka.


Tentu saja hati Angga terluka. Suami mana yang tidak kecewa melihat kenyataan itu. Tapi entah terbuat dari apa hati Angga, ia masih mau memaafkan kesalahan besar yang di perbuat Alda. Namun ia meminta kepada istrinya agar benar-benar meninggalkan Bian. Dan itu di sanggupi oleh Alda.


Melihat kebesaran hati Angga, Alda semakin mantap dengan keputusannya.


Bian mengikuti arah pandang Alda, ia tahu siapa pemilik mobil yang sekarang di lihat oleh Alda.


Alda langsung berdiri dari duduknya, ia merasa sudah cukup pembicaraan yang dengan Bian. "Sekali lagi maafkan aku Mas, dan mungkin ini pertemuan terakhir kita."


Tanpa menunggu jawaban dari Bian, Alda segera berjalan keluar menuju mobil Angga.


Sedangkan Bian masih terdiam di tempatnya, dari sorot matanya sangat jelas terpancar rasa amarah, benci, dan luka menjadi satu.


*


*


Seperti yang di rencanakan sebelumnya, sepulang sekolah Kania berniat berkunjung ke kosan Airin. Namun sayangnya Airin tidak sedang berada di kosan, hingga akhirnya mereka sepakat bertemu di supermarket. Karena hari ini Airin akan berbelanja untuk mengisi persediaan bahan makanan di apartemen Riko.

__ADS_1


"Kak Airin," Kania begitu saja berteriak saat baru turun dari mobil. Ia mendapati sosok Airin yang sedang duduk di depan supermarket.


Begitupun dengan Airin, ia tersenyum melihat kedatangan Kania. Sudah beberapa hati ia tidak melihat senyum cerianya, dan tentu saja tingkah konyolnya.


Setelah melepas rindu dengan saling berpelukan, kini mereka berdua sedang asik berbelanja.


Kania yang bertugas mendorong troli dan Airin yang mengambil barang-barang untuk keperluannya.


"Kak Airin nggak pernah main ke rumah!" keluh Kania, tentu saja dengan wajah cemberutnya. "Jadi sepi tau!"


Airin menoleh sekilas pada Kania kemudian fokus kembali pada deretan barang yang berada di rak. "Maaf, masih belum sempat." alasannya.


"Lalu kapan?"


"Mungkin jika ada waktu luang atau libur bekerja."


"Kak Airin sudah bekerja lagi?"


"Iya."


"Kerja di mana?"


"Di apartemen xxx. Bersih-bersih karena pemiliknya jarang pulang."


"Oh."


Hingga tanpa terasa, troli yang di dorong oleh Kania sudah penuh. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah setelah menyelesaikan acara berbelanja mereka.


...----------------...

__ADS_1


...Tuhkan, Alda aja udah sadar. Kapan nih kang Bian sadarnya? 🤭...


__ADS_2