
#####
Jas putih sudah menjadi baju kebesaran untuk Airin juga David, setelah melewati semua syarat-syarat dan juga ujian akhirnya mereka berdua sudah resmi menjadi seorang dokter di rumah sakit Natas Hospital.
Karena baru awal-awal jadi Tasya belum menyerahkan kedudukannya sebagai Dokter Kepala untuk Airin, bukan karena Tasya belum percaya akan kemampuan Airin tapi dia masih membutuhkan beberapa pengujian lagi pada Airin.
Menjadi Dokter Kepala tidakkah mudah semua harus di perhitungkan dengan benar supaya tidak ada masalah di kemudian hari.
Hari ini adalah hari pertama Airin juga David akan bekerja sebagai dokter, dengan tas masing-masing juga jas yang mereka bawa namun belum di pakai mereka sudah ada di dalam mobil.
Rasanya sudah tak sabar untuk mereka, ini adalah impian mereka dan sekarang semuanya telah terwujud, "Yank, aku sudah tidak sabar lagi," ucap David.
Airin tersenyum, dia juga sama seperti David ingin secepatnya bekerja menjadi dokter yang resmi. Meskipun kemarin dia sudah selalu ada di posisi seorang dokter tapi itu belum resmi karena itu hanya membantu Tasya saja.
"Iya, sama. Aku juga sudah tidak sabar," jawab Airin.
Mobil perlahan-lahan meninggalkan kediaman mereka dan setelah sampai di jalan besar mobil langsung melesat dengan kecepatan sedang.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit Natas hospital, kedatangan mereka berdua langsung di sambut baik oleh semua pihak rumah sakit termasuk Tasya yang ternyata sudah lebih dulu sampai di sana.
Tasya berdiri di depan pintu rumah sakit, dia tersenyum lebar menyambut kedatangan anak juga menantunya yang juga tersenyum dan mulai berjalan ke arahnya.
"Assalamu'alaikum, Bun," Airin langsung meraih tangan Tasya memberikan salam takzim dan memeluknya sejenak.
"Assalamu'alaikum, Bunda," David pun melakukan hal yang sama, memberikan salam takzim untuk Tasya namun tidak sampai memeluknya.
"Wa'alaikumsalam, gimana kalian sudah siap?" tanya Tasya dengan wajah cerahnya yang seketika langsung di angguki oleh keduanya.
__ADS_1
Siap nggak siap harus siap untuk menjalankan tugas mereka, tapi mereka sungguh sangat siap seratus persen. Ini adalah mimpi mereka sedari kecil jadi mereka pasti akan selalu siap bukan.
"Iya, Bun. Kami sudah siap," Airin menoleh sejenak ke arah David dan tentunya laki-laki di sebelahnya itu langsung tersenyum juga mengangguk ke arahnya.
"Alhamdulillah, bekerjalah dengan baik. Ingat, pekerjaan kalian adalah sebuah pengabdian untuk masyarakat, jadi kalian harus bekerja dengan sangat baik dan jangan sampai melakukan kesalahan," ucap Tasya.
"Pasti, Bun," jawab David yang langsung percaya diri bahwa dirinya mampu.
"InsyaAllah, Bun. Kami akan berusaha dengan baik. Supaya menjadi yang terbaik, Bun." jawab Airin.
"Ya sudah, yuk masuk," Ajak Tasya.
Penyambutan yang sangat meriah untuk mereka berdua, bahkan semua perawat juga dokter yang lain juga menjemput mereka di pintu masuk.
Setelah saling berkenalan David juga Airin di antar oleh Tasya ke ruangan mereka berdua, ruang kerja mereka pastinya. Ruangan mereka tidaklah jauh, hanya bersebelahan saja. Tasya juga menunjukkan tempat di mana mereka bisa istirahat namun itu ada di lantai dua.
Hari pertama yang tidak begitu melelahkan untuk pasangan satu ini, jam istirahat tiba kini mereka berdua ada di tempat mereka bisa istirahat.
"Yank, bagaimana, lancar?" tanya David seraya berjalan mendekati Airin setelah menutup pintu.
Airin yang tengah duduk di sofa langsung menoleh juga langsung menaruh ponsel yang baru saja dia pegang, "Alhamdulillah, Yank. Semuanya aman terkendali. Kalau kamu? " Airin balik tanya.
David mengambil posisi duduk di sebelah Airin menyandarkan punggungnya dan menaruh tangan di belakang kepalanya dan dia jadikan bantal, "Alhamdulillah, aman terkendali juga," Jawab David.
"Yank! " David kembali duduk dengan tegak menoleh ke arah Airin yang juga sontak menoleh karena panggilannya, "Nanti setelah pulang dari sini kita ke tempat pembangunan rumah sakit kita yuk! Aku penasaran sudah sampai mana sekarang," ajak David.
Airin mengangguk setuju, lagian tak ada pekerjaan lain yang menunggunya yang harus dia datangi, jati tak masalah jika dia akan pergi ke tempat pembangunan rumah sakit mertua juga melihat rumah panti yang mereka bangun juga yang sepertinya sudah hampir selesai.
__ADS_1
"Hemm..., boleh. Aku juga sudah penasaran, sekalian nanti kita mampir juga ke panti." jawab Airin.
"Oke, panti juga rumah sakit kan searah jadi kita bisa ke sana tanpa menyita waku yang lama," jawab David.
Suara adzan dhuhur berkumandang, Airin juga David langsung bergegas untuk mengambil wudhu dan menjalankan sholat berdua saja di dalam kamar itu, setelah itu mereka bisa keluar untuk mencari makan siang di tempat terdekat.
###
"Yank, bagaimana keadaan mu, baik-baik saja kan?" Suara Rico yang berada di ruang kerjanya juga, bukan hanya Airin juga David tapi Rico juga sama dia menjadi dokter namun dia tidak berada di rumah sakit yang sama.
Karena sangat khawatir Rico menelfon Mitha yang ada di rumah sendiri. Sebenarnya Mitha juga ingin bisa bekerja secepatnya tapi Rico tidak mengizinkannya karena takut akan ada sesuatu yang terjadi pada Mitha.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘰𝘬, 𝘠𝘢𝘯𝘬. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳. 𝘋𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘦𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢! 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘦 𝘺𝘢? " 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘔𝘪𝘵𝘩𝘢.
"Siap, apapun yang kamu inginkan pasti akan aku belikan. Sudah dulu ya, aku mau sholat dulu. Jangan lupa makan, dan jangan bekerja yang berat-berat," Ucap Rico.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮... "
"Wa'alaikumsalam..., muach.. I love you.. "
"𝘠𝘰𝘶 𝘵𝘰... "
"Apaan tuh you to..? "
Tut... Tut.. Tut...
"Lah nih bini, baru juga di tanya sudah main di matiin saja. Nggak asyik banget deh." keluh Rico.
__ADS_1
__