
Mobil terparkir perlahan di rumah kontrakan David dan juga Airin, keduanya pun keluar dari mobil setelah mobil benar-benar telah berhenti.
Seperti biasa David akan selalu merangkul pinggang Airin saat masuk ke dalam rumah nya dan Airin pun akan mengulas senyum, menatap David penuh cinta dan membalas rangkulan yang sama.
Airin melepaskan tangan nya dari pinggang David setelah sampai di depan pintu, tangan nya meraih tas kecilnya dan merogoh nya untuk mengambil kunci.
" Assalamu'alaikum " sapa keduanya bersamaan setelah pintu berhasil di buka. meskipun rumah dalam keadaan kosong tak ada orang tapi mereka yakin ada Malaikat yang akan menjawab salam mereka berdua dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
" Wa'alaikumsalam " Jawab keduanya bersamaan lagi di lanjutkan dengan senyum bersama.
Hari yang sangat melelahkan untuk mereka berdua seharian mereka harus mondar-mandir kampus terus rumah sakit dan juga rumahnya sendiri dan itupun mereka lakukan setiap hari.
Airin menaruh tas nya di atas meja rias, perlahan-lahan tangannya mulai menarik satu persatu jarum yang ia gunakan untuk memakai hijab nya. Setelah beberapa saat pun hijab pasmina itu berhasil terlepas dari kepala Airin dan langsung dia taruh di keranjang cucian.
Rambut nya yang panjang berhasil tergerai dengan indah, menambah kesan ayu dari wajah Airin yang hanya bisa di lihat oleh David seorang.
Airin menyusul David duduk di sofa. membuat David heran karena Airin tak seperti biasanya yang selalu begini, biasanya Airin akan langsung membersihkan tubuh nya terlebih dahulu sebelum dia duduk.
" Kenapa? " David menatap Airin bingung.
" Hm,,? " ragu Airin mengatakannya tapi semua itu harus tetap dia katakan tak mungkin dia akan diam terus akan keinginan nya. " Sayang, bagaimana kalau kita pindah ke rumah pemberian Bunda?" tanya Airin Was-was takut akan penolakan yang mungkin akan dia denger dari David.
" Kenapa? " bukanya menjawab David malah balik tanya pada Airin, "' terus rumah kita yang akan di bangun bagaimana? " imbuh nya.
" Ya nggak apa-apa sih, Yang. Hanya takut mubazir saja kan, kalau kita lebih memilih membangun rumah baru sedangkan ada rumah yang hanya tinggal di tinggali. Lagian kasian sama Bunda juga kan kalau sampai rumah itu tidak terurus " jawab Airin.
David masih terdiam, memikirkan bagaimana dengan nasib tanah yang sudah dia beli dan hanya tinggal menunggu hari saja di bangun seharusnya sejak lama rumah itu di bangun, tapi karena kemarin belum mendapatkan Arsitek yang pas jadi David tunda.
" Untuk tanah itu? , bagaimana kalau kita bangun rumah sakit, atau rumah yatim, kan bisa bermanfaat juga kan? ucap Airin memberikan saran.
Ide Airin tidak buruk. Kalau di bangun rumah sakit tempat itu sangat lah strategis dan juga belum ada rumah sakit di sana, atau mungkin kalau Rumah Yatim juga sangat baik niatnya seenggaknya mereka bisa membuat ladang pahala untuk itu.
" boleh juga, kalau begitu kita bangun rumah sakit saja. kan tempat di sana jauh dari Fasilitas kesehatan jadi kita bisa juga membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan... kalau untuk Rumah Yatim, kita pikir kan besok-besok lagi semoga saja ada rezeki jadi kita bisa tetap mendirikan Rumah yatim "'
David tersenyum penuh bangga, memiliki istri yang lebih memikirkan orang lain namun tak melupakan kesenangan dan juga kebahagiaan suaminya. " Makasih " David merengkuh kepala Airin mencium puncak kepala Airin penuh syukur.
__ADS_1
" untuk apa? " Jawab Airin.
" untuk semuanya, makasih karena kamu menjadi istri yang terbaik untuk seorang David ini, Terima kasih "'ucap David dan menghujani kecupan yang begitu banyak di kepala Airin.
" Terima kasih kembali sayang " jawab Airin.
######
Setelah berdiskusi dengan baik dan saling setuju Kini Airin dan David tengah kemas-kemas, memasukkan semua barang-barang nya ke dalam koper, tas dan juga kardus.
Semua nya nampak penuh, mulai dari pakaian dan juga buku-buku kuliah dari mereka berdua semuanya sudah tersusun rapi di dalam koper dan juga lainnya.
mereka berdua hanya tinggal menunggu anak buah Airin yang ia perintahkan untuk mengangkut semuanya dan membawanya ke rumah baru mereka berdua. Rumah mewah pemberian dari Bunda nya Airin, Tasya.
Mereka berdua gak perlu capek-capek memikirkan tempat tinggal mereka yang baru. semuanya sudah siap dan sudah di bersihkan oleh orang suruhan dari Airin dan mereka berdua hanya tinggal menempati saja.
Karena rumah yang ini terlalu besar untuk di tinggali mereka berdua saja dan tak mungkin Airin setiap hari membersihkan seorang diri, Airin dan David sepakat akan memperkerjakan dua asisten rumah tangga, yang pastinya sudah terpercaya.
" Alhamdulillah" Ucap Airin,Airin duduk di sofa untuk istirahat setelah selesai mengemasi semua barang-barang nya.
"Nih minum jus nya.! jangan terlalu lelah, Sayang. tuh kan keringat mu pada keluar " ucap David tangannya menyeka keringat di kening Airin setelah memberikan jus pada Airin.
" Iya, Sayang. " jawab Airin sembari mengurai senyum.
Melihat senyum Airin yang begitu manis membuat gairah David tiba-tiba berontak dan ingin sekali melakukan nya saat itu juga. ya itung-itung sebagai perpisahan untuk rumah nya ini dan terakhir kalinya mereka melakukan di sini kan.
Tinnnn....
Baru saja David ingin mencium Airin namun semua itu harus gagal karena terdengar suara klakson yang begitu keras dan membuat ya terkejut. " Sial " gerutunya.
Berbeda dengan Airin yang tak tau apa-apa, Airin hanya melirik dengan bingung setelah itu melanjutkan menikmati jus dari David tadi.
David beranjak. berjalan keluar untuk memeriksa siapa yang datang, mulut nya semakin mengerucut sebal setelah melihat siapa yang datang, siapa lagi kalau tidak Rico yang tengah cengengesan menatapnya dengan berjalan sembari merangkul pinggang Mitha.
" kalian,,!! gue kira abang tukang bakso " ketus David dan kembali masuk meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Rico terus cengengesan tau akan yang di alami David yang pasti mereka datang di saat yang tidak tepat. Sedangkan Mitha hanya menggeleng acuh tak mau ambil pusing apa yang tengah para kaum Adam ini pikirkan, mungkin mereka berdua tengah merutuki satu sama lain di dalam hari masing-masing.
" Ada tamu nggak di suruh masuk duluan malah tinggal nyelonong duluan, dasar aneh. "'seru Rico, yang pasti sangat jelas di dengar oleh David.
David menoleh ke belakang dengan acuh. masa bodoh dengan apa yang di katakan Rico, mau Rico mengatakan apapun dia tak perduli dan tak akan mungkin sakit hati juga. hatinya sudah kebal akan ocehan Rico yang tak berfaedah sama sekali sama seperti dirinya di kala kumat.
"Assalamu'alaikum, Rin" seru Mitha mengucapkan salam, berjalan mendekati Airin yang masih duduk bersantai.
" Wa'alaikumsalam, sini Mit. " Airin menepuk-nepuk sofa di sebelahnya dan itu artinya Mitha di minta duduk di sebelah nya.
Tanpa komentar apapun, Mitha langsung duduk di sebelah Airin, matanya memeriksa semua barang-barang Airin dan David yang sudah terkemas dengan rapi
" udah selesai? " tanya Mitha dan Airin mengangguk.
" Alhamdulillah " ucap Mitha. " ya sudah nanti aku bantuin kamu bebenah saja di rumah kamu yang baru "'imbuhnya.
Airin menggeleng dengan cepat, tak mungkin dia akan membiarkan Mitha membantunya dan membuatnya lelah Mitha tengah hamil muda dan itu sangat kah rentan jadi Airin tak mau mengambil resiko akan hal itu.
" Tidak usah. kamu tinggal duduk manis saja nanti Ok " ucap Airin dengan wajah memohon.
" Iya-iya " jawab Mitha dengan cepat tak mau ada perdebatan setelah itu.
#####
Dua pasang suami istri itu sekarang sudah berada di luar rumah Airin dan David yang baru. Mitha yang sudah tau tak lagi heran. tapi suaminya, Rico? dia benar-benar ternganga dengan rumah mewah itu.
" Wawww... Amazing... " seru Rico, matanya rak pernah berkedip melihat dari satu titik ke titik lain.
" Norak. !! " ketus David..
Airin dan David juga Mitha sudah masuk terlebih dahulu, namun Rico dia masih terus memuji bangunan di luar saja, belum juga melihat dalam, bisa pingsan tuh.
" Ehhhh,, kok di tinggal sih... "
teriak Rico heboh dan menyusul mereka bertiga dengan berlari.
__ADS_1
######