Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
157. Arman Kecelakaan 2


__ADS_3

####


Siska yang tak di perbolehkan keluar oleh Arman kini hanya terus mendengus kesal di kamarnya sendiri. Wajahnya terus mengerucut kesal. Kenapa balasan yang seperti ini yang harus dia dapatkan.


Dia sadar dia sangat keterlaluan karena dia mencoba merebut semua kekayaan Arman, tapi semua itu dia lakukan karena dia sudah sangat jengah dengan apa yang selalu Arman lakukan padanya. Bahkan sekarang yang selalu Arman lakukan lebih parah lagi dari sebelumnya.


"Dasar tua bangka tak tau diri! apa dia juga tak punya hati sama sekali apa? aku sedang mengandung anaknya! darah dagingnya! kenapa hanya ingin menghirup udara segar saja tidak di izinkan! " kesal Siska.


Siska terdiam, duduk manis sembari mengelus perutnya yang memang sudah terlihat membuncit. Untung saja usahanya untuk menggugurkan kandungannya itu selalu saja gagal, kalau saja berhasil mungkin Siska akan menyesal karena tak bisa menikmati masa-masa seperti sekarang.


Siska tersenyum kecil saat dia merasakan ada pergerakan dari dalam perutnya, rasanya sangat menyenangkan juga terharu, "Benarkah anakku sudah mulai bergerak?" gumamnya.


Seolah mengerti apa yang menjadi pertanyaan Siska, perutnya kembali bergerak hingga tanpa sadar air mata Siska lolos begitu saja.


"Maafkan mama ya, Nak. Maafkan mama yang sempat ingin membunuhmu," Penyesalan memang akan selalu datang di akhir kejadian. Untung saja Siska benar-benar tak menyesal karena anaknya masih mau bertahan.


"Maafkan mama karena mama juga tak bisa memberikan apapun yang kamu inginkan. Dan kita juga tak bisa pergi dari sini, meskipun kita tersiksa di sini seenggaknya kita bisa makan dan tidur di tempat yang empuk. Kalau kita pergi mama yakin kita akan tinggal di kolong jembatan dan akan menjadi gelandangan."


"Mama tak masalah papamu tidak punya hati dan selalu melakukan apapun yang dia kehendaki pada mama, yang terpenting kamu bisa hidup mapan setelah kamu lahir."


Sudah benar-benar pasrah sekarang Siska pada keadaannya. Benar saja, jika dia pergi dia pasti akan jadi gelandangan karena semua peninggalan ayahnya telah di sita.


𝘎𝘭𝘦𝘬𝘬...


Siska menoleh saat pintu terbuka, seorang asisten rumah masuk dengan wajah yang sangat panik membuat Siska beranjak dengan cepat dan menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa, Bi?" tanya Siska penasaran.


"Nya, nyonya yang sabar ya." ucapannya masih sangat ragu-ragu membuat Siska semakin bingung, kenapa juga dia harus bersabar? sudah lama dia bersabar selama di rumah itu.


"Sebenarnya ada apa, Bik?" tanya Siska.


Seandainya tidak dalam waktu yang genting mungkin asisten rumah tangga itu akan terpana dengan kelembutan Siska. Tak biasa nyonya nya itu akan berkata dengan lembut, mungkin karena di kurung sekarang otaknya mulai bergeser.


"Tuan, Nya. Tuan! "


"Kenapa dengan tua bangka itu!? "


"Tuan, tuan kecelakaan, Nya. Dan sekarang ada di rumah sakit Natas Hospital."


Siska tidak akan sedih karena dia memang tak menyukai Arman, namun dia juga tidak bahagia karena apa yang menyimpan Arman. Dia hanya bingung saja bagaimana bisa Arman sampai kecelakaan.


" Nyonya di minta ke rumah sakit, katanya pihak rumah sakit tuan ingin bertemu dengan Nyonya," jawab nya.


Malas sebenarnya, kenapa dia baru bisa keluar saat Arman masuk rumah sakit kenapa tidak dari dulu saja Arman masuk rumah sakit, jadi dia bisa keluar kan.


"Baiklah," Siska pun langsung setuju. Kapan lagi dia akan bisa menghirup udara segar.


# #


Bukan hanya Siska yang di kabari dan di minta ke rumah sakit , tapi Fadil juga sama dan kali ini Fadil sudah berada di rumah sakit.

__ADS_1


Meskipun berkali-kali Arman mengecewakannya tapi dia tetap ayahnya, tak mungkin Fadil akan mengabaikannya saat dia sakit.


Fadil masih terus menunggu di luar ruangan, entah seberapa parahnya Arman hingga dia belum bisa menjenguknya, tapi kata salah satu perawat di dalam ada seorang pengacara yang di minta Arman untuk datang.


"Sebenarnya kenapa papa harus memanggil pengacara?" Fadil begitu bingung.


"Kamu! " pekik Fadil saat melihat Siska datang dan tentunya di ikuti oleh dua pengawal.


"Iya, ini saya! Mama tiri mu! " jawab Siska ketus.


"Kenapa kamu kesini?"


"Ya melihat keadaan papa mu itulah! mau apalagi? lagian dia sendiri yang memintaku datang," dengan angkuhnya Siska langsung duduk begitu saja.


"Oh, kirain kamu datang karena ingin membuat masalah lagi,"


"Heyy, anak tiri! jaga ucapan mu ya! seperti apapun aku ini mama mu juga sekarang! " ucap Siska dengan nada tinggi.


Ternyata belum berubah juga watak Siska yang sebenarnya. Dia masih saja sekeras batu.


"Aku tau," Fadil pun juga duduk namun di tempat yang jauh dari Siska, meskipun Siska adalah ibu sambungnya tapi Fadil belum bisa menerimanya sekarang. Dia masih sangat membenci Siska.


Baru saja beberapa menit mereka diam, Airin juga para perawat berlarian dan langsung masuk tanpa memperdulikan Siska maupun Fadil yang menatapnya dengan heran.


"Bukannya dia Ai- Airin.. " ucap Siska.

__ADS_1


"Ya, dia Airin. Lebih tepatnya Dokter Airin," jawab Fadil jelas.


######


__ADS_2