Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
136. Awal pembalasan


__ADS_3

_________


" Kamu!! "


Siska begitu terkejut melihat orang yang sudah membalikkan kursi itu. Wanita yang paling Siska benci dan sekarang dia ada di hadapan nya dan duduk di kursi kebesaran milik bos di perusahaan itu.


" Apa yang kamu lakukan di sini, hah!! kenapa kamu tak bosan-bosan mengikuti ku dan ingin mengacaukan semua tujuan ku! " Ucap Siska dengan marah.


Airin masih diam, menumpu dagunya dengan kedua tangan nya. Airin menatap Siska yang masih terus menyerukan amarahnya kepada dirinya.


" Ternyata tak hanya David saja yang kamu manfaatkan, tapi sepertinya kau juga memanfaatkan pemilik perusahaan ini. Dengan apa kau melakukannya, dengan tubuh mu!? " Ucapan Siska semakin menohok hati Airin, namun Airin masih bisa menahan amarahnya.


" Lebih baik kamu pergi dari sini, kamu dan tubuhmu yang kotor itu tak pantas berada di sini! "


" Penjaga!! Penjaga!! " Teriak Siska dengan keras.


Siska terus berteriak, mungkin dengan memanggil penjaga dia bisa mengusir Airin yang kini terkekeh namun dengan sinis.


Dua penjaga pun masuk ke ruangan itu, nafas mereka ngos-ngosan karena mereka harus berlari untuk sampai di sana dengan cepat.


" Ada apa Nona " Tanyanya dengan nafas ya tak beraturan.


Siska menoleh ke arah keduanya, menatap keduanya seakan-akan ingin mengadili kedua penjaga itu yang dia rasa tak becus kerja karena membiarkan Airin masuk dan duduk dengan bangga di kursi kebesaran bos.


"Kalian bisa kerja nggak sih! bagaimana bisa kalian membiarkan wanita itu ada di sini. Usir wanita kotor itu! dan jangan biarkan dia menjadi benalu si sini! " Perintah Siska.


Kedua penjaga itu langsung menatap Airin sesuai dengan yang Siska tunjukkan dengan jari telunjuk nya.


"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘣𝘰𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪? 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 ?. " Batin salah satunya penjaga.


" Pak, jelaskan pada wanita tak tau diri itu, jelaskan siapa aku sebenarnya di sini " Ucap Airin dengan dingin.


Penjaga itu mengangguk, dan langsung kembali menoleh ke arah Siska.


" Maaf Nona, kami tak bisa mengusir beliau, maaf " Ucapnya dengan menyesal.


" Kenapa? apa karena kalian takut dengan nya! tidak usah takut aku akan selalu ada di pihak kalian;"

__ADS_1


" Tapi maaf Nona, kami benar-benar tidak bisa. " jawab penjaga.


Siska semakin kesal, kini bukan hanya Airin yang mendapat tatapan membunuh dari Siksa tapi juga kedua penjaga itu. Siska sangat benci dengan pembangkang, meskipun mereka bukan pekerjanya sendiri tapi dia tetap membencinya.


" Usir dia, atau aku yang akan mengusirnya, USIRR...! " Teriak Siska dengan sangat emosi.


" Lagian apa yang kalian dapat dari orang seperti dia, uang? Berapa aky bisa memberikannya kepada kalian! Atau mungkin, kalian juta ikutan menjamah tubuhnya. " Ucap Siska begitu sinis, yang terus menghina, meremehkan, dan juga menjatuhkan harga diri Airin sampai dasar-dasarnya. Padahal dirinya sendiri yang tak punya harga diri.


Tangan Airin mengepal sempurna, dia beranjak dan berjalan mendekati Siska. Tatapan tajam keduanya saling beradu begitu bengis dengan tangan yang mengepal di bawah sana.


Siska sama sekali tak takut dan juga tak beranjak dari tempatnya, dia seakan menantang Airin yang kini sudah ada di hadapan nya.


" Kenapa, mau marah? Tak terima dengan semua kebenaran mu yang aku ucapkan, iya?. " Siska semakin ngadi-ngadi dan terus menyalakan api di sumbu yang sudah memanas.


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬.....


" Ini untuk anakku yang telah kau renggut sebelum dia merasakan keindahan dunia!."


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬....


" Ini untuk suamiku yang telah kau coba fitnah telah menghamili mu..! "


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬..


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬...


" Ini untuk mulutmu yang tak bisa kau jaga, dan selalu merendahkan orang lain.!. "


Empat tamparan berhasil mendarat di pipi Siska. Kedua pipinya sudah memerah bersamaan dengan matanya yang semakin membenci Airin.


" Dasar kurang ajar! Beraninya kau memukulku! Siapa kau sampat kau berani memukul sang penguasa seperti ku!. " Tantang Siska.


" Aku, aku pemilik dari perusahaan yang sekarang kau injak ini. Aku! Aku lah penguasa sebenarnya, aku!. " Jawab Airin.


Siska terperangah tak percaya, mana mungkin seseorang yang sangat dia benci dan orang yang selama ini terlihat biasa-biasa saja ternyata adalah pemilik dari perusahaan terbesar di kota tersebut.


" Tidak mungkin, kamu pasti berbohong. " Siska menggeleng kasar, tak pernah dia mendengar kalau pemilik perusahaan itu adalah seorang wanita. Pemiliknya adalah seorang pria tampan yang akan membuat mata tak berkedip saat melihat nya.

__ADS_1


" Hahaha... Kenapa? Syok, tak percaya? Tapi itulah kenyataannya! Akulah pemilik perusahaan ini, terus mau apa kamu sekarang, hah!. "


" Tidak!, kamu bukan pemilik perusahaan ini. Dimana pak Rayyan, dimana!. " Teriak Siska.


" Entah aku atau pak Rayyan, kami berdua sama, jadi kalau kau masih berniat untuk kerja sama ini, kau harus patuhi perintah ku. Kalau tidak maka silahkan pergi pintu terbuka lebar untukmu. " Sinis Airin.


" 𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘈𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘱𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘱𝘶. " Batin Siska.


Siska begitu bingung, kalau dia keluar dan tidak jadi dengan kerja sama ini bisa jadi perusahaan nya akan dalam masalah dengan berbagai biaya, tapi kalau dia melanjutkannya bagaimana bisa dia akan bekerja sama dengan musuh bebuyutannya.


Meskipun harta Siska begitu banyak di tambah dengan harta yang dia rampas dari mantan suaminya, Arman. Tapi itu belum seberapa, Siska masih mengharapkan harta yang lebih yang tak bisa habis dalam tujuh turunan. Dia harus menjadi orang terkaya di kota itu, itulah harapan yang ingin dia raih.


" Baik! Saya terima, saya sudah melangkah maju dan saya tidak akan mundur sebelum semuanya aku dapatkan!. " Seru Siska.


"𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘚𝘪𝘴𝘬𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. " Batin Airin seraya menyeringai sinis.


Semua berkas dari Siska Airin tanda tangani, dan Airin pun juga sudah menyediakan beberapa berkas yang harus Siska tanda tangani. Keduanya sama-sama mengeluarkan senyum sinis, Airin tau kalau terdapat poin-poin yang Siska tulis yang akan merugikan dirinya, tapi itu tak sebanding dengan satu poin yang dia tulis.


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩! 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘚𝘪𝘴𝘬𝘢. " Batin Airin.


" Pak, antar dia keluar. Dia adalah wanita terhormat jadi lakukan sebagaimana mestinya. " Perintah Airin.


" Baik Bu. " Keduanya mengangguk dan mulai melangkah untuk mengantarkan Siska keluar.


" Jangan Pegang-pegang! Aku jijik dengan kalian!. " Seru Siska tak terima.


" Mari, Bu. Silahkan Anda keluar. " Kedua penjaga terus mendesak Siska untuk keluar dan meninggalkan Airin.


" 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘈𝘪𝘳𝘪𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢. " Sekali Siska menoleh melihat Airin yang asyik menumpu dagunya dan terus menatap kepergiannya.


Pintu tertutup, Airin bernafas lega, dia sangat puas melihat ekpresi Siska yang terkejut dia juga puas memberikan empat kali tamparan pada Siska.


Jika Siska pintar dia pasti akan membalas perbuatan Airin saat itu juga dan menggagalkan semua kerja samanya, tapi ternyata Siska begitu bodoh. Siska hanya pandai bersilat lidah saja namun tak pandai dalam bersiasat.


" Aku sungguh puas, hahaha.." Airin begitu girang.


Airin menyenderkan punggungnya di kursi yang terus bergerak itu, meskipun ini hanya akan berlangsung singkat namun dia sangat menikmatinya, toh dia juga tak menginginkan posisi ini.

__ADS_1


______


__ADS_2