
#####
7 Bulan kemudian....
Perut Airin sudah terlihat begitu besar. Hari persalinan juga tinggal menunggu dua minggu lagu sesuai perkiraan.
Demi bisa menjadi suami siaga David mengambil jam kerja yang lebih singkat, dia hanya akan ke rumah sakit di pagi hari dan akan kembali di siang hari, tak seperti dulu yang bisa full seharian penuh.
Hari ini David juga baru pulang dari rumah sakit, dia sudah tak sabar ingin cepat-cepat bertemu istrinya yang sedari tadi terus menghubunginya karena bilang merasa tidak enak badan.
Memang kehamilan Airin ini tidak seperti pada umumnya, dia sering mengalami pendaratan dan sering juga dia keluar masuk rumah sakit karena itu, tapi dokter masih bisa menanganinya.
David masuk ke kamar dengan buru-buru dan benar saja, istrinya tengah duduk di atas kasur dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya David yang sangat khawatir.
Wajah Airin terlihat sangat pucat. Dia juga agak demam.
"Hanya pusing saja sih, Sayang," jawab Airin namun suaranya terdengar sangat lemas.
"Apa kita kira ke rumah sakit saja sekarang? aku tak mau ada apa-apa dengan kamu juga anak kita," David benar-benar sangat khawatir.
__ADS_1
"Tidak usah, Sayang." jawab Airin yang benar-benar tak mau ke rumah sakit.
"Tadi Mami juga bilang begitu, tapi Airin nya yang tidak mau. Dia bilang dia baik-baik saja," ucap Fani seraya melangkah masuk ke dalam kamar.
Selama hamil Fani memang lebih sering di rumah mereka, apalagi Airin yang sering sakit juga David yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Fani merasa cemas saja kalau pas David tidak ada di rumah dan terjadi sesuatu pada Airin.
"Ini Mami bikin bubur buat kamu, di makan mumpung masih hangat," mangkuk Fani sodorkan pada David, dan juga langsung di terima.
"Makasih, Mi." ucap David. "Makan dulu ya, Yang. Supaya kamu kuat, dan anak kita sehat," David mulai menyuapi Airin dengan sangat pelan, sesekali David akan meniupnya karena memang masih panas bukan hangat lagi.
"Tapi aku tidak lapar, Yang."
"Tapi kamu harus makan, Sayang. Kalau kamu lapar nanti anak kamu juga akan lapar." Fani pun ikut merayu Airin untuk makan.
Tak mau lagi ada perdebatan Airin menerimanya, meski dia benar-benar tak berselera untuk makan. Rasanya memang sangat malas mungkin itu pengaruh dari sakitnya saat ini.
"Kamu harus makan yang banyak, Sayang," ucap David. Tangannya terus menyodorkan sendok pada Airin.
Baru habis setengahnya Airin sudah menolak, dia sudah tak mau membuka mulut mulutnya lagi. "Sudah, Sayang. Aku sudah kenyang," ucapnya.
"Beneran," tanya David dan Airin mengangguk.
__ADS_1
Fani juga masih stay di sana, dan kini membukakan obat untuk Airin. Fani benar-benar sangat memperhatikan menantunya, bagi Fani Airin bukan hanya sekedar menantu melainkan seorang putri untuknya.
"Terima kasih, Mi," Airin menerima obat juga gelas berisi air putih dari Fani, meminum obat itu dengan pelan. Setelah selesai Airin kembali memberikan kepada Fani.
"Istirahatlah, Mami keluar dulu sebentar," pamit Fani. Bukan hanya gelasnya saja yang Fani minta tapi juga mangkuk yang ada di tangan David juga dia minta dan bawa keluar.
"Hem.. " jawab Airin.
"Makasih ya, Mi. Maaf selalu merepotkan, Mami," kini giliran David yang berucap. Tidak enak sebenarnya terus merepotkan Fani, tapi mau bagaimana lagi kan? David lebih percaya jika keluarga sendiri yang ikut menjaga Airin saat dia pergi.
Sesekali Tasya juga akan menginap di sana, tapi kali ini dia kebetulan pas pulang karena sudah ada Fani, keduanya sering bergantian menjaganya.
"Saya bersih-bersih sebentar ya," David menyentuh tangan Airin sejenak setelah mendapat anggukan kecil juga senyum manisnya David baru beranjak dan pergi ke kamar mandi.
"Ya Allah, kuatkan lah aku. Sehatkan lah anakku dan selamatkan sampai hari lahir nanti." doa Airin sungguh-sungguh.
Airin merasa sedih sebenarnya, dia bisa kembali hamil dan sebentar lagi bisa memberikan keturunan kepada David tapi kenapa kehamilannya tidak seperti perempuan pada umumnya yang selalu sehat dan bisa bergerak melakukan apapun.
Airin lebih sering duduk dan tidur di kasurnya, karena kehamilannya sangat lemah dan dia juga sangat rentan mengalami pendarahan.
"Kamu baik-baik ya, Sayang. Kamu harus tetap sehat," tangannya mengelus perut buncitnya itu. Hanya itu saja yang menjadi harapan Airin meski dia tak bisa sehat seperti yang lainnya seenggaknya anaknya yang bisa selalu sehat.
__ADS_1
######,