
Di luar ruangan Bian, Riri sudah duduk di mejanya. Sebenarnya tadi Riri juga mendengar keributan yang terjadi, tapi dirinya tidak berani ikut campur sebelum ada panggilan dari Bian.
Riri segera berdiri dari tempat duduknya saat Sofiana keluar dari ruangan Bian. "Selamat pagi, Nyonya," ucap Riri dengan menunduk hormat.
"Pagi," sahut Sofiana ramah. Dan setelah itu melanjutkan langkahnya.
Riri heran yang melihat Airin berjalan mengekor di belakang Sofiana.
"Uhm, Nyonya. Boleh saya ambil tas saya terlebih dahulu," ucap Airin saat di depan lift khusus pimpinan.
Sofiana seketika menoleh ke arah Airin. "Tentu, kalau begitu saya tunggu di lobby saja?"
"Kalau begitu saya permisi Nyonya." Airin segera berjalan ke arah pantry untuk mengambil tasnya yang berada di loker.
Ketika Airin akan keluar dari pantry, ternyata Alina juga akan masuk ke dalam pantry. "Nggak nyangka gue ternyata gadis kampung jauh-jauh cari kerja ternyata cuma jual diri," cibir Alina.
Airin hanya menghembuskan nafasnya pelan, mendengar ucapan Alina. Entah sebenarnya apa masalah Alina dengannya, mulai dari pertama masuk kerja, Alina selalu sinis terhadapnya.
Airin melirik sekilas terhadap Alina. "Terserah," ucap Airin dan segera berlalu dari sana. Airin tidak mau meladeni masalah yang tidak jelas asal usulnya.
Alina lagi-lagi harus di buat geram dengan sahutan Airin, yang selalu saja santai menanggapi ucapannya. "Awas saja kau," geram Alina.
Airin segera menuju lift khusus karyawan, untuk segera menyusul Sofiana yang telah menunggunya.
Ting.
Akhirnya Airin sampai di lobby kantor, matanya dengan seketika menangkap keberadaan Sofiana yang sedang berbicara dengan seseorang.
Dengan cepat Airin menghampiri Sofiana. Tapi saat sudah dekat ternyata yang sedang berbincang dengan Sofiana adalah kepala HRD, Bu Nur.
Airin hanya diam di belakang Sofiana, tidak berani untuk menegur. Airin lebih memilih menunggu Sofiana menyelesaikan pembicaraannya.
"Loh, kamu sudah di sini!" Ucap Sofiana saat selesai berbicara dengan kepala HRD. Sofiana baru menyadari keberadaan Airin.
"Iya, Nyonya. Baru saja," jawab Airin.
Sedangkan Bu Nur hanya tersenyum melihat Airin dan berlalu dari sana.
"Ya sudah, ayo," ajak Sofiana.
Airin dengan patuh mengikuti langkah Sofiana ke arah mobil mewah yang sudah menunggunya di depan pintu masuk kantor.
Sofiana langsung masuk di kursi penumpang belakang yang sudah di bukakan pintu oleh laki-laki muda sepantarannya yang sepertinya seorang supir.
Airin berniat duduk di depan sebelah supir, rasanya tidak sopan sekali seseorang seperti dirinya duduk dengan seseorang yang mempunyai kekuasaan di kantor tempatnya bekerja.
"Hei, kamu mau duduk di mana!" Sofiana menegur saat tau Airin akan duduk di depan. "Duduklah di sini," menepuk kursi sebelahnya.
"Tapi Nyonya, itu terlihat tidak sopan jika saya duduk bersama Anda," jawab Airin lirih.
Sofiana hanya tersenyum mendengar jawaban Airin. Sofiana tidak menyangka di zaman sekarang seumuran Airin masih memiliki sopan santun.
"Tidak apa-apa, kemari lah," ujar Sofiana.
__ADS_1
Jadi Airin segera berjalan menuju tempat Sofiana. Airin dengan canggung mendudukkan dirinya di sebelah Sofiana.
Hingga beberapa saat mobil pun melaju meninggalkan pelataran kantor.
"Rumah kamu di mana?" tanya Sofiana memecah keheningan.
"Saya kos Nyonya," jawab Airin dengan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Sofiana.
"Kamu bukan asli orang Jakarta?"
Airin menggeleng. "Saya dari kampung Nyonya, saya kesini cuma mau mencari kerja."
Sofiana mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Airin.
Airin sebenarnya mau bertanya pekerjaan apa yang akan Sofiana berikan padanya, tapi rasanya lidahnya keluh untuk bertanya.
"Kosan kamu di mana alamatnya, biar saya antar pulang," ujar Sofiana tiba-tiba.
Airin menautkan kedua alisnya, merasa bingung. Bukanya tadi akan di berikan pekerjaan? Tapi kenapa sekarang akan di antar pulang.
"Mulai besok saja kamu bekerja," cetus Sofiana saat melihat raut kebingungan di wajah Airin.
Seketika Airin bernafas lega, ternyata Sofiana mengerti apa yang di pikirkan olehnya. "Di jalan xxx Nyonya."
"Putra, kita antar kan gadis ini ke kosannya dulu," perintah Sofiana pada supirnya yang bernama Putra.
"Baik Nyonya," sahut Putra.
"Oh ya siapa nama kamu? saya sampai lupa bertanya," tanya Sofiana sedikit tersenyum karena karena baru menyadarinya.
10 menit kemudian mobil yang di kendarai Putra sudah sampai di depan gerbang kosan Airin.
"Besok, biar Putra jemput kamu jam delapan pagi ya," ucap Sofiana sebelum Airin turun dari mobil.
"Tidak usah Nyonya, nanti merepotkan," ujar Airin yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, nanti kamu nyasar."
"Uhm ... baik kalau begitu Nyonya," akhirnya Airin menyetujuinya.
Airin segera turun dari mobil. "Terima kasih Nyonya sudah mengantar saya pulang." Saat Airin sudah turun.
"Iya, sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu," pamit Sofiana.
Mobil Sofiana dengan perlahan melaju meninggalkan Airin.
Airin segera menuju kamar kosannya yang seminggu ini dia tempati, menaruh tasnya di pojokan kasur dan segera menuju kamar mandi. Rasanya badannya sudah lengket sekali gara-gara mulai kemarin sore dirinya belum mandi. Untung saja tidak bau badan.
Airin mengguyur kepalanya dengan air dingin, rasanya lega sekali saat rasa dingin dari air sudah membasahi tubuhnya.
Airin sesekali memejamkan matanya meresapi rasa dingin yang mulai menjalar. Sesekali ingatannya juga berputar tentang kejadian hari ini.
Kejadian yang berakibat dirinya harus keluar dari kantor, untung saja nasib baik masih menyertainya. Meskipun sudah tidak lagi bekerja di kantor tapi setidaknya masih ada pekerjaan lain yang menantinya. Entah pekerjaan apa itu.
__ADS_1
"Hhaahh," Airin hanya menghembuskan nafasnya kasar mengingat itu.
Hingga beberapa saat, Airin sudah selesai membersihkan dirinya dan rapi dengan mengenakan kaos oblong dan celana training.
Airin tidak berniat untuk mencari sarapan, karena rasanya sekarang matanya mengantuk kembali. Jadi Airin memutuskan untuk tidur kembali.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, itu berarti sebentar lagi Lusi dan Pras akan segera pulang.
Airin sedang menikmati sarapannya yang merangkap dengan makan siang dan sore. Hanya sebungkus nasi pecel yang ia beli dari warung depan kosannya.
Hingga tak lama terdengar teriakkan dari luar kamarnya. "Airinnnnn," teriak Lusi yang baru saja pulang bekerja.
Brak.
Lusi membuka pintu kamar Airin dengan keras, hingga membuat Airin terjingkat kaget di tengah-tengah acara makannya.
Lusi masuk di ikuti Pras di belakangnya.
Airin hanya memutar bola matanya malas dengan kelakuan Lusi.
Seketika Lusi mendudukkan dirinya, di hadapan Airin yang berada di pinggir kasur. Sedangkan Pras mendudukkan dirinya di ambang pintu kamar Airin, agar tidak terjadi bahan gunjingan.
"Rin, tadi gue denger-denger lo berantem sama tuh nyai ronggeng?" tanya Lusi menggebu-gebu.
"Nyai ronggeng?" ulang Airin.
"Ish ... tuh si Alina," jelas Lusi.
Airin menggelengkan kepalanya mendengar Lusi yang mengatai orang sembarangan. "Cuma salah faham aja," jelas Airin seraya meletakkan piring yang berisi nasi pecelnya. Rasanya tidak nyaman jika dia melanjutkan makanya di hadapan Pras, karena Airin sampai sekarang masih canggung bila berbicara dengan Pras.
"Pasti tuh nyai ronggeng yang cari gara-gara," cetus Lusi seraya tangannya menyambar nasi pecel milik Airin.
"Terus gimana?" tanya Pras.
Airin mengerahkan pandanganya pada Pras. "Ya gitu. Aku di ajak oleh ibunya tuan Bian bekerja dengannya," jawab Airin.
Pras menganggukkan kepalanya, memang selama dia bekerja di sana. Sofiana terkenal dengan sikap yang tegas tapi tidak seperti anaknya. Bian.
"Serius lo!" tanya Lusi yang masih tidak percaya. Seraya menyuapkan nasi pecel ke dalam mulutnya.
"Hm," jawab Airin.
Hingga selesai Lusi mendengarkan cerita selesai juga Lusi menghabiskan nasi pecel milik Airin, yang tadi baru Airin makan beberapa suap.
"Lus kamu laper?" tanya Airin seraya ekor matanya melirik ke arah bungkusan kertas minyak yang sudah bersih tak tersisa sebutir nasi.
Lusi menggelengkan kepalanya. "Nggak, tumben ya gue nggak laper. Padahal kalau biasanya pulang kerja udah laper banget," jawab Lusi dengan sedikit bingung.
"Yah jelas kamu nggak lapar, udah habis satu bungkus nasi," cibir Pras seraya tertawa.
Lusi segera mengarahkan pandanganya pada piring di hadapanya yang hanya tersisa kertas minyak kosong. "Pantesan," ucapnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
...----------------...
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn 😊🙏...