
Perlahan-lahan Airin membuka matanya, menatap sekeliling ruangan yang bercat serba putih Airin sangat paham kini dia berada di mana, di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Pandangan mata Airin terhenti di seorang yang tengah tidur dengan lelap di sisinya iya berbaring. Tangan orang itu terus memegangi tangan Airin dan menaruh di bawah wajahnya.
Airin tersenyum kecil dengan wajah yang masih pucat, Airin begitu bersyukur bisa memiliki David yang selalu menemani nya di setiap keadaan dirinya yang seperti apapun.
" Terima kasih, Sayang. " lirih Airin sembari menggapai puncak kepala David dengan tangan satunya.
Dengan sedikit perjuangan dan menahan rasa sakit akhirnya Airin bisa menyentuh puncak kepala David dan mengelus rambutnya nya pelan. " maaf Sayang. kamu pasti sangat lelah kan? "
Airin terus menikmati ini, meskipun dia sedang sakit tapi Airin bahagia bisa selalu mendapatkan perhatian dari David.
David yang merasa terganggu, akhirnya dia terbangun dan mulai membuka matanya perlahan dan langsung di sambut dengan senyuman yang begitu manis dari istrinya. " Sayang, kamu sudah sadar. " tanya David sembari beranjak bangun.
" Hm. " jawab Airin dengan senyum dan juga mengangguk pelan.
David begitu khawatir dengan keadaan Airin hingga David terus memeriksa Airin dan menanyakan keadaan nya tiada henti. " kamu tidak apa-apa kan? apa ada yang sakit? di mana yang sakit? apa aku perlu panggilkan Bunda? " tanya David begitu banyak.
David ingin pergi untuk memanggil Tasya, namun sebelum itu terjadi Airin menghentikan nya dengan menarik tangan David. David kembali menoleh ke arah Airin dan melihat Airin yang menggelengkan kepalanya.
" tidak usah, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku tidak membutuhkan dokter ataupun Bunda sekarang, tapi aku membutuhkan kamu selalu ada di sisiku, menemani ku di sini " ucap Airin dengan sangat memohon.
" Tapi..? " David begitu bingung, bagaimana pun juga Airin harus di periksa setelah tersadar, bahkan tadi Tanya sendiri yang meminta nya, Jika Airin sadar, harus segera memanggil nya.
" Aku mohon " ucap Airin memohon dengan wajah memelas.
" baiklah, aku akan menemanimu di sini. " David kembali duduk dan terus menautkan tangan nya dengan tangan Airin dan sesekali dia mencium punggung tangan Airin.
Airin terus tersenyum bahagia. Menatap David dengan sangat lekat. " ada apa? " tanya David.
" tidak! " jawab Airin singkat dan langsung menghentikan senyum nya tak mau membuat David gr.
" Assalamu'alaikum! "
Ucap salam dari Fani yang masuk dan di ikuti orang Yohan dari belakang.
Fani terus berkat dengan sangat khawatir, setelah mendapatkan kabar Airin yang terluka Fani dan Yohan bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Airin.
__ADS_1
Airin dan David terkejut, mereka menatap Fani dan juga Yohan yang sudah semakin dekat. " wa'alaikumsalam, Mami, Papi. " lirih David dan beranjak untuk berdiri dari duduknya.
Dengan wajah cemas Fani berhenti tepat di sebelah ranjang Airin melihat sekujur tubuh Airin yang tertutup dengan selimut. " Astaghfirullah, Sayang! kamu tidak apa-apa kan? tidak ada luka yang serius kan? " cerca Fani dengan pertanyaan.
Airin menyambut dengan senyum lemahnya dengan kedatangan kedua mertuanya itu, menyalami tangan nya secara bergantian dan tak lupa mencium punggung tangan nya dengan hormat, begitu juga dengan David.
" Siapa sih yang tega melakukan ini pada mu, Sayang. " ucap Fani lagi.
" Mami jangan terlalu khawatir, Airin sudah baik-baik saja kok, " jawab Airin dengan lirih karena masih sangat lemah.
" nggak apa-apa bagaimana sih? jelas-jelas kamu terluka seperti ini. " ucap Fani yang sangat menghawatirkan menantunya itu.
" Pi, papi harus cari tau siapa yang berabi melukai menantu kita. Dan Mami minta Papi harus membuatnya di hukum yang seberat-beratnya. " Fani menoleh ke arah Yohan yang sedari tadi diam karena tak mau menyela istrinya yang terus bicara karena terlalu khawatir pada Airin.
Yohan mengangguk, tanpa di suruh pun Yohan pasti akan melakukan itu semua. Mencari pelakunya dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya.
" iya, Mi. " jawab Yohan singkat
" jangan hanya iya saja dong, Pi. Tapi Papi juga harus bertindak! " ucap Fani.
" iya, iya. " jawab Yohan dengan yakin.
########
Rio mengepalkan tangan nya setelah dia keluar dari kantor polisi dengan Kirana. Emosi Rio begitu besar setelah mendengar penjelasan dari para preman suruhan yang dibayar oleh seorang untuk melukai Airin.
" siapa yang menyuruh kalian!! " bentak Rio tanpa rasa takut sama sekali meskipun ada beberapa polisi yang ada di sana.
Preman itu bergetar hebat saat mata Rio memelototi nya dan kedua tangan nya mencengkram baju preman itu dan hampir mencekik nya.
" katakan! siapa yang menurutmu!! "
" Di- dia.. dia adalah.....
" siapa, hah!! " Rio begitu tak sabaran.
__ADS_1
" tu-tuan Arman. " jawab preman itu dengan tersendat-sendat.
" kurang ajar!! " teriak Rio.
Bugh...
Rio memukul perut itu dan menjatuhkan nya ke lantai. Polisi yang melihat nya langsung memegangi Rio karena ingin kembali memukul preman itu dan juga ingin menendang nya.
" pak! jangan buat keributan di sini, dan lebih baik Bapak pergi sekarang. Hargailah kami, kami janji akan bekerja sebaik-baiknya dan akan menyelesaikan semua masalah ini. " ucap Polisi dengan sangat tegas.
" Orang seperti kalian tak seharusnya di biarkan hidup begitu saja! dasar kurang ajar!" maki Rio tiada henti.
" Pak!, silahkan anda pergi!!"
Dan karena di usir lah akhirnya Rio dan juga Kirana pergi dari sana.
" Si tua bangka itu harus di beri pelajaran. Dia tidak akan pernah bisa berubah jika belum merasakan rasa sakit yang sebenarnya. " geram Rio.
Kirana hanya menggelengkan kepalanya, Kirana tau Rio sangat mengkhawatirkan Airin sama seperti dirinya tapi emosi Rio sebenarnya tak perlu seperti itu. Semuanya harus di lakukan dengan kepala dingin dan tak perlu dengan emosi yang berlebihan, karena itu akan berakhir tidak baik seperti biasanya.
" Pak, pak Rio jangan terlalu marah seperti itu, Pak. Jangan sampai amarah pak Rio menjerumuskan hati bapak dan membuat Bapak menjadi seperti orang-orang pendosa" ucap Kirana menenangkan Rio.
Rio melemparkan pukulan ke udara, dia benar-benar sangat marah, kata-kata dari Kirana terasa hanya menggelitik telinganya saja dan hilang setelah di hentikan.
" kita pergi sekarang " ajak Rio pada Kirana.
Rio melangkah dengan cepat mendekati . mobilnya yang ada di parkiran.
" astaga pak Rio sangat mengerikan saat sedang marah " ucap Kirana bergidik ngeri.
" kamu mau jadi polisi juga! atau mau ikut pulang!! " teriak Rio yang melihat Kirana masih berdiri di tempat yang tadi.
Mendengar Rio yang teriak Kirana begitu terkejut dan langsung berlari mengejar Rio."
yang pastinya mau ikut pulang lah pak! maaf" jawab Kirana seraya berlari dan ikut masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Rio.
__ADS_1
#######