Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Bertengkar


__ADS_3

Airin tidak menyangka jika dirinya akan bertemu kembali dengan Kania, gadis yang pernah di tolong nya ketika di kereta api. Ternyata benar, dunia tak selebar daun kelor.


Kania melepas pelukannya, dan menatap Airin dengan senyuman di bibirnya. "Kalau begitu, mulai sekarang kita berteman," ucap Kania dengan mengulurkan tangannya pada Airin.


Airin dengan ragu menjabat tangan Kania. Pasalnya status Airin di rumah itu adalah baby sitter, bagaimana jika Sofiana tahu! Apakah dia akan di pecat? Karena berani berteman dengan majikanya. "B-baik."


"Karena kita sudah berteman, jadi lebih baik kita pergi ke mall untuk merayakannya," ujar Kania semangat.


"Tapi kalau nanti Nyoya Sofiana marah bagaimana?" Airin yang sedikit takut menerima ajakan Kania, pasalnya Sofiana sedang tidak berada di rumah.


Kania mencebikkan bibirnya. "Sudah tenang saja, Mama tidak akan marah," ucap Kania dengan meyakinkan.


"Tap--"


"Sudah ayo ganti baju," sergah Kania yang tahu Airin ingin menolaknya kembali. Kania membuka lemari baju-nya lebar-lebar. Matanya mengamati baju yang tersusun rapi. Hingga tanganya terulur untuk mengambil dua kaos dengan warna senada meskipun berbeda model dan dua celana jins.


"Kak Airin pakai ini." Kania menyerahkan satu setel baju yang tadi ia ambil dari lemari pada Airin. Karena postur tubuh Airin yang mungil, jadi pasti ukuran mereka sama. Karena Kania yang juga bertubuh mungil.


Hingga beberapa saat Airin dan Kania sudah selesai bersiap. Mereka seperti anak kembar dengan memakai baju dengan warna peach.


"Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak Kania dengan menggandeng tangan Airin. Ketika turun dari tangga mereka berpapasan dengan Bu Ani.


"Bu Ani, nanti kalau Mama tanya, bilang saja aku sedang jalan-jalan dengan Kak Airin," ujar Kania dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Bu Ani.


"Saya pergi dulu Bu," pamit Airin yang sedikit berteriak karena tangannya di tarik Kania agar segera keluar.


Di luar rumah, Kania mengedarkan pandanganya untuk mencari keberadaan supir pribadinya yang tidak kelihatan batang hidungnya. "Kak Tio," teriak Kania, dengan suara yang menggelegar. Meskipun tubuhnya kecil tapi suaranya seperti orang yang sedang meneriaki maling.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari. Dan benar saja seseorang muncul dari samping rumah. Seorang laki-laki seumuran dengan Putra. Dengan perawakan tinggi, badan berotot, kulit sawo matang dengan wajah yang manis. Tio, supir pribadi Kania.


"Ya, Nona," sahut Tio yang baru datang, dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan karena berlari. Mata Tio sempat melirik sekilas pada Airin yang berdiri di samping Kania.


"Kak Tio, antar kan kita ke mall xxx," titah Kania.


"Baik, Nona." Tio segera mengeluarkan mobilnya kembali dari garasi.


Di dalam mobil, Kania tak berhenti berceloteh dengan Airin. Kania merasa cocok dengan baby sitter nya yang sekarang, apalagi umurnya yang tidak jauh berbeda. Tidak seperti sebelumnya baby sitter nya yang umurnya lebih tua, jadi tidak nyambung jika Kania ingin mengajaknya mengobrol.


Sedangkan Airin hanya menjadi pendengar setia, dan menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan padanya.


***


"Kak Airin kita nonton yuk, mumpung film jam kedua sebentar lagi akan di putar," ajak Kania setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Mereka sekarang sudah sampai di salah satu mall terbesar di Jakarta.

__ADS_1


"Uhm ... tapi Nona itu nanti akan terlalu lama kita berada di mall. Bagaimana nanti kalau Nyonya Sofiana pulang lebih dahulu," ujar Airin mengingatkan.


Kania terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu, hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, ketika dia menemukan ide yang jenius. "Aku punya ide," ucap Kania dan langsung mengeluarkan ponsel dari sling bag-nya. Kania mengotak atik benda pipih itu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Airin hanya menatapnya bingung melihat tingkah Kania, sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan.


"Sudah," ujar Kania yang segera menyimpan kembali ponselnya. "Ayo kalau begitu kita langsung ke bioskop." Kania yang langsung berjalan ke arah bioskop yang berada di lantai empat dengan menarik tangan Airin.


Ternyata setelah sampai di lantai empat antrian untuk membeli tiket cukup panjang. "Yah ... lagi rame," keluh Kania. Wajah yang tadi di hiasi senyuman kini berubah sendu.


Airin yang mendengar keluhan Kania, segera menoleh ke arah kania yang sedang cemberut. "Uhm ... bagaimana jika saya saja yang antri, Nona duduk saja menunggu," cetus Airin.


Wajah Kania tiba-tiba saja berubah cerah setelah mendengar ucapan Airin. "Ini," Kania memberi Airin dua lembar uang bewarna merah.


Dengan segera Airin masuk ke dalam antrian untuk membeli tiket, setelah menerima uang pemberian Kania.


Hingga giliran Airin tiba. Sesuai pesanan Kania, Airin membeli dua tiket film horor di kursi pojok paling belakang.


***


Langit sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Menandakan malam sebentar lagi akan tiba.


Dua gadis yang sedari tadi menghabiskan waktu di mall untuk menonton, bermain di timezone, dan makan sudah memutuskan untuk pulang.


Tio yang sedari tadi menunggu di mobil, dari kejauhan melihat Kania dan Airin yang berjalan menuju ke arahnya. Dengan sigap Tio turun dan membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Baik, Nona," jawab Tio.


Dua gadis itu sepertinya sudah kelelahan, karena di antara meraka tidak ada yang berceloteh seperti ketika berangkat tadi. Apalagi perut meraka yang juga kekenyangan.


Hingga 20menit kemudian, mobil yang di kendarai Tio sudah berhenti di depan perusahaan.


"Nona, kita sudah sampai," ucap Tio.


Airin yang sempat tertidur, seketika membuka matanya dan mengedarkan pandanganya. Begitupun juga Airin.


"Ya sudah, Kak Tio pulang saja. Nanti aku pulang dengan Kak Bian saja," ujar Kania sebelum turun dari mobil, yang di susul Airin.


"Baik, Nona," sahut Tio.


Mobil yang di kendarai Tio perlahan pergi meninggalkan pelataran perusahaan.


Sedangkan Airin dan Kania melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Tidak sedikit dari mereka yang menatap mereka berdua. Tapi lebih ke arah Airin.


Pasalnya semua staf di perusahaan mengetahui Airin hanyalah seorang office girl di sana, tapi sekarang dia datang dengan adik pemilik perusahaan. Apalagi jika melihat pakaian yang di kenakan Airin, terlihat kalau baju itu harganya tidaklah murah.

__ADS_1


Airin berjalan beriringan dengan Kania menuju lift khusus petinggi. "Nona, biar saya masuk ke dalam lift khusus karyawan saja," ujar Airin ketika Kania sudah berada di dalam lift khusus petinggi.


Kania hanya berdecak pinggang melihat Airin yang masih berdiam diri di depan lift. "Udah, masuk saja. Kalau nunggu lift karyawan lama," sahut Kania yang segera menarik tangan Airin agar masuk kedalam lift.


Hanya butuh waktu beberapa detik mereka sudah sampai di lantai lima belas. "Nona saya tunggu saja di luar ya," pinta Airin ketika mereka sudah keluar dari lift.


"Nggak, Kak Airin juga harus masuk," sergah Kania dan langsung menyeret Airin.


Tapi baru beberapa langkah, suara seseorang menginterupsinya dari belakang. "Oh ... siapa ini yang datang?" ucap Alina dengan tangan bersendekap dan tersenyum miring ke arah Airin dan Kania.


Alina belum menyadari jika yang bersama Airin adalah Kania. Airin segera membalikkan badan, sebenarnya dari suaranya juga tau kalau itu adalah Alina.


Airin hanya menatapnya malas tanpa berniat untuk membalasnya. Kania juga membalikkan badannya karena penasaran dengan seseorang yang terlihat tidak suka dengan Airin dari nada suaranya.


Alina tidak mengenali Kania karena sejak ia masuk ke perusahaan, dirinya sama sekali belum bertemu dengan-nya.


"Kalau di lihat dari penampilan lo sekarang, kayaknya lo udah jadi jal*ng beneran," cibir Alina yang tidak menghiraukan keberadaan Kania.


"He ... ondel-ondel tuh mulut nggak pernah di sekolahin," bentak Kania. Kania geram dengan Alina yang menghina Airin. Padahal kalau di lihat dari penampilan, Alina yang lebih mirip jal*ng dengan dandanan menor nya.


"He, anak kecil jangan ikut campur." Alina yang membentak balik Kania.


Mata Airin membulat saat mendengar Alina membentak Kania.


"Alina cukup," bentak Airin.


"Lo berani sama gue," Bentak Alina yang tidak terima.


Kania yang sudah tidak tahan, segera menjambak rambut Alina, yang juga di balas menjambak oleh Alina.


Airin yang melihat majikanya bertengkar, segera melerainya. "Nona sudah," ucap Airin tapi tidak ada yang memperdulikannya.


Airin mencoba menghentikan perkelahian mereka, tapi justru di dorong oleh Alina.


Bruk.


Prang..


Airin yang di dorong Alina, terjatuh membentur meja yang di atasnya terdapat vas bunga.


"Apa yang kalian lakukan !!!" bentak seseorang.


...----------------...


Maaf telat Up, karena waktunya yang kurang bersahabat 🙏.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊


Semoga lancar puasanya.


__ADS_2