Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
141. Bingung


__ADS_3

____


______


" Kenapa sepertinya kalian berdua tidak senang? Apa kalian memang tak berniat untuk bulan madu? Ini kesempatan loh ya. Jarang-jarang orang tua kalian memperhatikan kalian." Ucap Yohan.


Semburat tak semangat memang terlihat jelas di wajah David dan juga Airin, bukannya mereka tidak senang mendapatkan perhatian dan hadiah kejutan ini, tapi mereka belum ada waktu akan untuk pergi.


" Kami senang kok, Pi. Hanya saja kita harus serius dulu dengan kuliah kami. Setelah lulus baru kami akan pergi nantinya, tapi bukan sekarang. " Jawab David.


Airin hanya mengangguk mengiyakan, baginya di manapun mereka berdua berada itu sudah seperti bulan madu bagi mereka, mereka terus bersama-sama, berbagi cerita, berbagi kasih, dan juga bermesraan. Tak butuh tempat yang spesial untuk semua itu, semua itu bisa mereka lakukan meskipun hanya di rumah saja.


Nyatanya meskipun tidak di tempat yang romantis mereka berdua bisa melakukan sesuatu yang biasa di lakukan pasangan yang berbulan madu di negara-negara lain jadi itu tak harus kan?.


" Siapa bilang kalian harus berangkat hari ini juga, atau dalam waktu dekat. Tiket nya aja satu bulan lagi, dan itu tandanya kalian sudah lulus." Ucap Yohan lagi.


"Lah!. Kok bisa samaan ya. Tapi kalau itu satu bulan satu minggu dari sekarang. " Saut Tasya.


" Wah.. Wah.. Jadinya bisa ke dua tempat dong. " Fani mengedipkan matanya menggoda.


" Wah setengah bulan di negeri orang, pulang-pulang bawa kabar baik nih. " Ucap Fani yang begitu getol menggoda Airin dan juga David.


" Amin!. " Seru Tasya, Fahmi, Yohan dan juga David sedangkan Airin kini menundukkan wajannya yang berubah menjadi semu merah.


" Jangan seperti itu, Mi. Lihat menantu Mami malu kan? Kasihan Mi. Meskipun tidak di negeri orang, di negeri sendiri pun David sudah kejar terus Mi. Tapi belum ada rezeki. " Ucap David seraya menoleh ke arah Airin.


Mendengar kata-kata David Airin menyikut perut David, membuat nya meringis sedangan yang lain pada ketawa melihat tingkah kedua anak mereka yang satu malu-malu yang satunya lagi malu-maluin.


" Apa sih. " Ucap Airin.


"Benarkan, aku kan udah bekerja keras untuk itu, bukannya kita memang terus berusaha pagi siang dan malam?. " Ucap David yang terus menerus menggoda Airin.


" Hahaha.. Kamu ada-ada saja, Dav Dav... " Tawa Yohan.

__ADS_1


Kebahagian dalam rumah tangga memang terletak dengan adanya sebuah buah hati di tengah-tengah mereka, harta memang di butuhkan tapi itu bukan hal utama yang membuat kehadiran kebahagiaan itu. Kadang orang yang hanya memiliki harta sedikit saja namun mereka bisa bahagia dengan adanya anak-anak mereka.


Harapan itu juga selalu datang di hati keluarga David dan juga keluarga Airin, mereka berharap akan secepatnya ada buah hati di tengah-tengah mereka berdua, dan itu akan membuat hubungan mereka semakin erat.


_______


Airin duduk di depan meja riasnya, hijabnya sudah terlepas dan memperlihatkan rambut lurus, hitam dan lebatnya. Satu persatu Airin membuka amplop coklat pemberian dari Fani dan juga Tasya. Satu ke Negeri Sakura, kedua ke pulau Dewata, dan ketiga ke Turki.


Airin bingung juga harus pergi kemana jika dia di paksa untuk pergi. Dia sama sekali tak minat untuk berada dalam perjalanan jauh, itu pasti akan sangat melelahkan.


David yang baru masuk langsung berjalan mendekati Airin, dia membungkuk dan melingkarkan kedua tangannya di dada Airin.


" Bagaimana, Kira-kira kira akan pergi kemana?. " Tanya David.


" Sebenarnya aku lebih suka di rumah saja, Yank. Lagian di rumah dan di sana sama saja kan yang akan kita lakukan? " Jawab David.


" Ya engga dong, Yank. Kalau di sini kita masih ingat inilah itulah. Kita tak bisa fokus dengan tujuan kita. Kalau di sana, kita bisa benar-benar fokus dan bisa berduaan saja tanpa ada yang mengganggu kota. " Jawab David.


Airin terdiam, memang ada benarnya apa yang di katakan oleh David, kalau di sana mereka benar-benar bisa berdua saja, tanpa memikirkan hal lain kecuali tujuan mereka untuk bisa secepatnya memiliki momongan.


" Apapun yang Anda inginkan Nyonya David. Kita akan pergi ke Negeri Sakura satu bulan lagi. " Ucap David senang akhirnya Airin mau juga pergi.


Antara Fani dan juga Tasya keduanya tidak keberatan mereka bisa pergi kemanapun yang mereka inginkan. Semua tak akan masalah.


David menghujani kecupan di puncak kepala Airin dia sangat bahagia.


" Hemm.. Bagaimana kalau kita mulai dari sekarang saja. Kita juga bisa lebih serius sekarang. " Ucap David menggoda.


" Hem! Tidak tidak! Aku tidak mau. " Tolak Airin.


" Tapi kamu harus mau sayang. Lagian ini malam dingin banget kalau tidak di hangatkan nanti tidak bisa tidur. "


Cepat David mengangkat tubuh Airin dan membawanya ke ranjang. David menurunkan Airin dengan pelan setelah itu dia menyusul naik di sebelah Airin. David menarik selimut dan menutupi mereka berdua hingga atas kepala.

__ADS_1


" David!.. " Teriak Airin.


" Bagus, panggil namaku, jangan pernah panggil orang lain."


__________


" Kira-kira mereka akan pilih kemana ya, Pi? Apa mereka akan pilih paket dari Mami atau dari besan?. " Tanya Fani.


Fani menyusul duduk di atas ranjang di sebelah Yohan, Yohan yang tengah fokus membaca buku langsung menutupnya dan meletakkannya dia tas nakas.


" Kemana pun mereka akan pergi kita hanya bisa mendukungnya, Mi. Entah dari Mami atau dari besan semuanya bagus, mereka pasti akan sulit untuk menentukannya. " Jawab Yohan.


Fani sedikit kecewa sebenarnya, kenapa harus bareng seperti ini hadiahnya padahal mereka sama sekali tidak janjian. Sebenarnya Fani ingin mereka memilih paket darinya, dia sudah mencari-cari sejak satu minggu yang lalu dia berjuang sangat keras untuk mendapatkan informasi dari tempat yang bagus untuk bulan madu.


" Baiklah, mungkin Papi benar. " Jawab Fani yang akhirnya pasrah.


" Sekarang tidur, Mi. Ini sudah malam. " Yohan mematikan lampu utama dan menggantinya dengan kecil yang hanya remang-remang.


Keduanya mulai merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka supaya lebih banyak.


" Jangan lupa berdoa, Mi. " Ucap Yohan mengingatkan.


" Iya, Pi. " Jawab Fani.


Keduanya berdoa dengan pelan dan tak saling dengar, setelah beberapa saat Fani mendekat dan memeluk Yohan.


" Selamat malam, Pi. " Ucap Fani yang sudah semakin lirih suaranya, mungkin dia sudah ngantuk berat.


" Malam juga. " Kecupan singkat di puncak kepala Fani Yohan berikan.


Malam semakin larut, dingin pun mulai terasa, tak butuh waktu lama Fani dan Yohan pun langsung pergi ke dunia mimpi mereka.


" Mereka memilih paket dari ku, Pi. " ucap Fani yang ternyata mengigau dan membawa harapannya sampai ke alam mimpinya.

__ADS_1


______


__ADS_2