
Baru saja rekan bisnis Bian pergi, ponsel yang berada di sakunya berdering.
Ketika ia lihat ternyata nama Kania yang terpampang di layar ponselnya.
"Kakak sudah selesai belum?" tanya Kania dari sebrang sana begitu panggilan tersambung.
Bian memutar bola matanya malas. "Kenapa kamu selalu ingat jika urusan makanan."
Dan Kania hanya tertawa.
"Cepatlah kemari." ujar Bian kemudian.
"Ok."
Sambungan telepon kemudian berakhir.
Bian menoleh ke arah asistennya. "Pulanglah lebih dulu, saya akan menunggu Kania."
"Baik Tuan." Miko sang asisten lalu pergi dari sana.
Entah kenapa, Bian sepertinya mempunyai sebuah ide. Ia lalu memiliki meja yang letaknya dekat dengan tempat Airin duduk sebelumnya.
Sudut bibir Bian terangkat membentuk senyuman ketika melihat kedatangan adiknya, ia tersenyum bukan karena senang adiknya sudah datang. Melainkan rencana yang akan ia lancarkan dengan memanfaatkan adiknya.
"Kakak belum memesan makanan?" Kania baru sampai, dan melihat meja di depan kakaknya masih sepi tanpa minuman dan makanan.
Bian mendengus mendengar itu. "Kamu kan bisa pesan sendiri, lagi pula aku sudah kenyang. Aku hanya menemanimu."
Bibir Kania mencebik.
*
*
"Ayam bakar bagian paha satu, iga bakar satu, bebek goreng bagian dada satu, sama minumnya jus stroberi jumbo satu." Kania memesan kepada pelayan.
Pelayan restoran pergi setelah mencatat pesanan Kania.
"Kenapa makan mu jadi banyak sekali." Bian menggelengkan kepala saat melihat pesanan adiknya yang bisa di makan untuk beberapa orang.
Kania tersenyum sembari memamerkan deretan giginya yang putih. "Aku lapar Kakak, hari ini banyak pelajaran sulit di sekolah." keluhnya.
"Tidak ada hubungannya Kania."
"Tentu saja ada Kak, karena tadi tenagaku sudah terkuras habis untuk mengerjakannya. Hingga efek sampingnya sekarang aku sangat lapar."
__ADS_1
Bian berdecak karena itu.
Hingga kemudian ia berdehem sebelum memulai rencananya. "Aku tadi sepertinya melihat Airin," Bian berbicara sembari mengotak atik ponselnya. Ia tidak mau terlihat mencurigakan, tapi ia yakin jika respon adiknya akan seperti dalam bayangannya.
Benar saja, mata Kania seketika berbinar. "Benarkah!" Matanya melihat ke segala arah. "Di mana?"
"Sepertinya tadi dia berjalan ke toilet," sahut Bian.
Tanpa menjawab, Kania bergegas berjalan ke arah toilet.
Sepeninggal adiknya tanpa ada yang tau ada senyuman yang terbit dari bibirnya. Ia yakin jika adiknya dapat membawa Airin duduk bersama mereka, karena Airin pasti tidak akan menolak keinginan Kania. Ia tau jika Airin begitu menyayangi adiknya.
Saat akan berjalan mendekati toilet, kaki Kania seketika berhenti. Telinganya mendengar seseorang menyebut nama kakaknya.
Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya lebih dekat, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ia melihat tiga wanita yang sedang mencibir Airin, tentu saja itu membuatnya tidak suka. Airin yang sudah di anggap nya kakak di hina seperti itu.
Dengan langkah cepat ia sengaja menyenggol salah satu dari mereka hingga hampir saja terjatuh.
*
*
"Lo punya mata itu di pakek," Aurel bersungut-sungut. "Terus lo bilang apa tadi, Tante! He... gue masih muda ya!" ia tak terima.
"Oh bukan ya! Habisnya dandannya menor banget, aku kira udah tante-tante." Kania menahan tawa.
"Dasar bocah ingusan!" Aurel merangsek kehadapan Kania bersiap melayangkan tamparan.
Tapi tangan Aurel hanya melayang di udara tanpa bisa mendarat di pipi Kania, tentu saja Airin pasang badan untuk melindungi Kania.
Rasa sayangnya tidak mungkin membiarkan seseorang menyakiti gadis itu.
"Bukankah tadi dia sudah minta maaf!" Airin mengibaskan tangan Aurel. "Jadi aku rasa masalahnya sudah selesai." Ia kemudian menoleh ke arah Kania. "Ayo kita pergi dari sini." Ia menggandeng tangan Kania dan segera pergi dari sana.
"Awas lo ya!" teriak Aurel.
Namun Kania hanya menoleh dan menjulurkan lidahnya.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Airin ketika mereka sudah di luar toilet.
"Aku mau makan dengan Kak Bian!" jawab Kania. "Ayo kakak ikut denganku," belum juga Airin menjawab ia sudah menariknya.
"Tapi --" Airin ingin menolaknya saat Kania terus membawanya ke meja yang terlihat Bian duduk di sana.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, Kak Bian nggak akan marah kalau aku ajak Kak Airin."
"Bukan begitu."
"Ayo cepat."
Hingga mereka berdua sampai di mana Bian duduk dan sibuk dengan ponselnya.
"Kak, Kak Airin duduk di sini ya!" Kania meminta persetujuan pada Bian.
Bian menyimpan ponselnya lalu mengangkat pandangannya, dan ia melihat Airin yang sedang membuang muka. "Hm..."
"Tuh kan Kania bilang juga apa, pasti nggak apa-apa." Kania menyeret kursi untuk Airin duduk. Yang pastinya tidak dapat di tolak oleh Airin.
Dengan setengah hati, Airin akhirnya bergabung dengan mereka.
Tidak lama pesanan Kania sudah datang, ia sudah menawari Airin untuk makan. Tapi Airin menolaknya, dengan alasan sudah kenyang.
Susana di meja itu hanya terdengar suara Kania yang berceloteh di sela-sela makannya. Karena Bian dan Airin hanya diam sembari mendengarkan Kania. Sungguh terlihat jika di antara mereka begitu kaku.
Bian memikirkan cara berikutnya agar Kania pergi, untuk ia bisa meminta maaf pada Airin.
"Oh ya Kak Airin tadi kesini dengan siapa?" Kania sudah menyelesaikan makannya. Dan semua habis tidak tersisa.
"Aku --"
"Maaf membuatmu menunggu lama," Riko yang akhirnya menyelesaikan meeting nya.
Membuat ketiganya terdiam.
"Oh iya Pak, tidak apa-apa." sahut Airin kemudian dan berdiri dari duduknya.
Mata Riko menangkap keberadaan Bian, ia tentu mengenali pria itu. Selain sebagai salah satu pengusaha sukses, Bian merupakan sepupu dari atasannya. "Apa kabar Pak Bian?" Riko mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Raut wajah Bian sedikit berubah saat Riko tiba-tiba datang, mau tidak mau ia kemudian menjabat tangan Riko. "Baik, anda juga bagaimana?" basa-basi nya.
"Saya juga baik."
"Oh iya, perkenalkan Pak Riko ini majikan saya yang baru." Airin memperkenalkan.
Tanpa ada yang menyadari, rahang Bian begitu saja mengeras. Rencana yang ia mulai ternyata tidak berjalan mulus.
...----------------...
...Jangan lupa dukungannya ya guys 🥰...
__ADS_1