
"Hei, tumben kalian pulang bersama?" Sofiana menyambut kedatangan anak-anaknya. Ia lalu menoleh kepada sang putri. "Hari ini kamu tidak mengabari Mama jika pulang terlambat!" Padahal sebelumnya Tio sudah memberi tahu jika Kania sedang makan bersama Bian.
"Kania lupa Ma," Kania yang tertawa. "Oh ya Mama harus dengar cerita Kania." Ia mengajak Sofiana untuk segera masuk ke dalam rumah untuk mendengar ceritanya.
Bian melihat itu hanya mendengus.
"Tadi Kania sama Kak Bian bertemu sama Kak Airin di restoran." Kania memulai ceritanya setelah duduk di ruang tengah.
"Benarkah!" Sofiana melirik ke arah putranya yang bersiap berjalan menaiki tangga. Ada senyum yang tersembunyi di balik wajah cantiknya.
"Iya, tadi juga Kak Airin belain aku waktu ada tante tante galak di toilet."
Mendengar itu kaki Bian dengan sendirinya berhenti.
"Galak?" Sofiana tidak mengerti.
"Iya, tadi dia sempet sebut nama Kak Bian. Terus nggak lama malah ngehina Kak Airin, aku jadi nggak suka. Jadi aku sengaja senggol dia sampai mau jatuh, eh... dia nggak terima. Tante itu mau nampar aku, untung aja ada Kak Airin yang belain aku." Kania bercerita panjang lebar.
Sudut bibir Bian terangkat membentuk senyuman sebelum akhirnya meneruskan langkahnya menuju kamar.
*
*
"Maaf Pak, jadi merepotkan." Airin yang akan keluar dari mobil Riko.
Setelah makan tadi, Riko memaksa untuk mengantarkannya pulang.
"Tidak apa-apa, seharusnya saya yang berterima kasih karena kamu sudah menolong saya tadi." Riko merasa tidak enak, sudah di bantu mengambilkan dokumen malah membuat Airin menunggunya lama.
"Itu sudah jadi salah satu tugas saya sebagai pekerja Bapak." Airin mengingat statusnya. "Kalau begitu saya permisi Pak, dan sekali lagi terima kasih."
Setelah keluar dari mobil, Airin sempat membungkukkan badan sebelum akhirnya masuk ke dalam kosnya.
Riko tak lantas pergi begitu saja, pandangannya terus mengikuti punggung Airin yang semakin menjauh. Hingga menghilang di balik pagar kos.
__ADS_1
"Airin... !" Lusi yang baru saja sampai. Ia sepertinya baru pulang bekerja, terlihat dari seragam kerjanya yang masih menempel.
"Baru pulang kerja?" Airin mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar.
Bukannya menjawab, Lusi terlihat tersenyum penuh arti.
"Kenapa sih!" Airin tidak mengerti.
"Mungkin dia kesambet hantu di kantor tadi." Pras melewati mereka berdua, lalu masuk kedalam kamar kos nya.
Lusi mencebik.
"Beneran?" Airin menelisik Lusi dengan pandangan aneh.
"Udah deh, nggak usah ikut-ikutan." Lusi mulai merasa kesal, padahal ia tadi berniat untuk menggoda Airin karena tadi ia melihat sahabatnya itu di antar seseorang dengan mobil mewah.
Airin tergelak.
"Ya udah, nih... " Lusi menyodorkan kantong kresek.
"Tadi aku belanja."
Airin memutar bola matanya malas, jika begini ia tahu maksud sahabatnya itu. Tentu saja ia yang harus memasak, benar saja ia melihat Lusi yang tersenyum lebar kepadanya. "Jangan senyum lebar-lebar, nanti gigimu kering."
Beberapa saat kemudian, Pras dan Lusi sudah berkumpul di kamar Airin. Keduanya sudah nampak segar setelah membersihkan diri, dan di depannya sudah ada masakan yang baru saja matang dengan nasi yang masih mengepulkan uap.
Bukan menu mewah, hanya tahu tempe goreng juga telur dadar. Di tambah lalapan juga sambal, dan itu menu yang sering mereka makan. Selain murah, memang menu itu yang setidaknya bisa membuat mereka sedikit menabung.
"Lo nggak makan?" Lusi melihat hanya ada dua piring, dan Airing hanya meminun teh hangat.
"Nggak, tadi sebelum pulang udah makan." jawab Airin.
Lebih tepatnya Kania memaksanya untuk menghabiskan makanan yang sudah terlanjur di pesan.
Lusi kemudian ingat dengan yang tadi. "Cie... tadi ada yang di antarin pulang!" Lusi tersenyum dengan alisnya yang naik turun.
__ADS_1
"Apaan sih, dia itu bos aku."
"Masa?"
Pras menggelengkan kepala melihat tingkah kedua gadis itu, dan memang begitulah. Di setiap mereka makan makan Lusi lah yang paling berisik, tak jarang mereka berdua juga membahas hal absurd.
"Iya, lagi pula aku masih sadar diri. Mana ada orang miskin seperti aku mendapatkan orang kaya, itu semua hanya ada di novel jika yang miskin bisa mendapatkan orang kaya."
"Jangan salah, jika Author berkehendak pasti apapun bisa saja terjadi. Ya kan Thor 😉"
(Ngarep lu 😒)
Airin memutar bola matanya malas. "Udah cepetan makannya, aku udah ngantuk."
"Baru juga jam berapa, yak kan--" Lusi menoleh ke arah sampingnya yang tempat di mana Pras tadi berada, tapi pemuda itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. "Loh, kok ilang?"
Lusi bertanya pada Airin.
Airin mendengus. "Bukannya hilang, Lusi. Tapi Kak Pras sudah selasi makannya."
"Cepet amat!"
"Kamu aja yang lama, orang makannya udah nambah dua kali."
Lusi melihat tempat mejicom yang sudah bersih tanpa nasi, dan sambal yang sudah tak sersisah di cobek. Yang ada hanya tinggal di piring yang ia pegang. "Kenapa gue nggak ngerasa ya kalau udah ambil banyak?" bingungnya.
"Kamu dari tadi nerocos terus, makannya nggak tau kalau dah habis dua piring." Airin beranjak dan merebahkan dirinya di kasur. "Ya udah nanti kalau dah selesai cuci piring sama yang lainnya, aku mau tidur."
"Kok gitu!" protes Lusi.
Namun Airin tidak menyahuti nya dan mulai memejamkan mata.
...----------------...
...Seeprti biasa gengs, jangan lupa dukungannya 🥰...
__ADS_1