Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Sarapan Bersama


__ADS_3

"Tumben pagi bener berangkatnya?" Lusi menghentikan motor matic nya ketika melihat sahabatnya sudah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkot.


"Iya, di kosan juga nggak ngapa ngapain. Biar nanti pulang cepet aja dari apartemen." jawab Airin.


"Mau gue anterin?" Lusi menawari.


"Nggak usah, nanti kamu kerjanya telat." Airin menolak. "Paling bentar lagi juga lewat angkotnya."


"Ya udah kalau gitu, gue berangkat dulu."


"Iya, hati-hati di jalan jangan ngebut." teriak Airin. Namun sahabatnya itu sudah menjauh.


Dan benar saja, angkot yang di tunggu Airin tidak lama datang.


Hingga beberapa saat kemudian Airin tiba di apartemen, ketika ia baru masuk. Airin mendapati apartemen itu dalam suasana berbeda.


Ia lalu menuju dapur, di sana ia melihat tempat sampah terdapat beberapa potongan sisa sayuran dan beberapa hal lainnya.


"Apa Pak Riko ada di apartemen semalam?" Ia melanjutkan memeriksa isi kulkas, ia mendapati stok sayur yang ia belanja kemarin pagi berkurang. "Kalau begitu, sekarang masih berada di dalam kamar?" Airin melihat jam tangannya yang menunjukkan jika waktu masih terlalu pagi bagi seseorang yang berkedudukan tinggi seperti Riko berangkat bekerja.

__ADS_1


Hingga kemudian, ia memutuskan untuk memasak sarapan. "Biasanya sarapan apa ya?" Airin baru menyadari jika ia tidak mengetahui apa yang di sukai majikannya.


Ia akhirnya memutuskan untuk membuat roti panggang yang ia isi telur mata sapi, sosis dan juga saus. Kemudian Airin juga membuat nasi goreng, siapa tau jika Riko biasanya sarapan dengan menu nasi setiap paginya.


Setelah semua masakannya selesai, dan tertata rapi di meja maka. Terdengar pintu kamar Riko terbuka, menampilkan sosok Riko yang sudah rapi dengan setelan jasnya.


Keduanya sejenak terdiam setelah sama-sama mengetahui keberadaan satu dengan yang lainnya.


Airin menggelengkan kepalanya saat kesadarannya sudah kembali. "Bapak mau sarapan?" sembari menunjukkan makanan yang tadi ia masak.


Tanpa menjawab Riko berjalan ke arah meja makan, baru kali ini ada yang memasakkan sarapan untuknya. Biasanya ia akan memasak sendiri atau akan sarapan di kantor dengan makanan kantin.


Melihat sikap Riko, Airin seketika teringat dengan Bian. Mereka tidak banyak bicara, dan memiliki kharisma nya sendiri. Hanya saja sampai saat ini yang membedakan mereka berdua, Riko yang tidak pernah berbicara untuk menyakiti hati seseorang.


Ketika Riko akan menyuapkan makanan, ia melihat Airin beranjak dari sana. "Mau kemana?" Membuat langkah Airin terhenti.


Airin menoleh ke arah Riko. "Mau kembali ke dapur." Ia berniat membereskan alat masak yang belum ia cuci.


"Kemarilah, kita sarapan bersama."

__ADS_1


"Uhm.. "


"Nanti setelah sarapan, lanjutkan kembali pekerjaan mu."


Airin kemudian menarik salah satu kursi dan kemudian duduk di sana, ia lalu mengambil satu potong roti dan ia kasih selai.


Sebenarnya ia tidak terbiasa sarapan dengan roti, maklum saja lidahnya orang desa jika bukan nasi rasanya tidak afdol. Hanya saja di meja makan tadi ia hanya menyiapkan satu piring.


Sarapan pagi itu terasa hrning, hanya ada suara decapan dari makanan yang mereka kunyah.


"Kamu sudah lama di Jakarta?" tanya Riko setelah sarapan. Ia masih ada sedikit waktu sebelum berangkat bekerja.


"Masih baru Pak, baru beberapa bulan." jawab Airin. Ia juga sudah menyelesaikan sarapannya.


Riko menganggukkan kepalanya. "Kerja kamu bagus, pertahankan terus seperti ini." Ia lalu beranjak, yang juga di ikuti Airin. "Kemungkinan, beberapa hari kedepan saya akan pulang ke apartemen." Beritahunya sebelum ia benar-banar pergi dari sana.


"Iya Pak." sahut Airin. Itu artinya ia harus memasak untuk Riko beberapa hari kedepan.


...----------------...

__ADS_1


...Maaf gengs beberapa hari menghilang karena ada urusan, dan terakhir mood anjlok banget. 🙏...


__ADS_2