
Langit sudah bewarna oranye, itu tandanya sudah waktunya Airin untuk pulang. Tadi ia sudah berpamitan kepada Kania sebelum ia pulang, dan seperti biasa majikannya itu selalu menahannya agar lebih lama lagi menemaninya. Hingga akhirnya jam pulang Airin harus mundur dari yang seharusnya.
Bagi Airin tidak masalah untuk menemani Kania, karena gadis remaja itu sebenarnya hanya butuh teman untuk mendengarkan semua ceritanya dan keluhan kesahnya. Dan Kania merasa nyaman dengan Airin.
Di saat kakinya melangkah menuju jalan raya, pikiran Airin melayang jauh. Memikirkan tawaran yang sempat di berikan Kania untuk ia kuliah. Tapi dari itu semua ia juga bimbang memikirkan biaya selanjutnya, tidak mungkin ia hanya mengandalkan terus menerus dari pertolongan orang lain. Dan ia tau hidup di ibu kota tidak semudah ia hidup di kampungnya dulu.
Hingga di tempat ia biasa menunggu angkot kaki Airin baru berhenti melangkah, tapi tidak dengan pikirannya yang melayang ke mana-mana.
"Airin!" panggil seorang wanita yang seketika membuyarkan lamunan Airin.
Airin mengarahkan pandangannya pada seorang yang menyapanya dari dalam mobil mewah. Ia memicingkan mata untuk melihat lebih jelas siapa yang memanggilnya.
"Airin kan?" tanya wanita itu lagi. "Kamu lupa sama aku?" Melihat Airin yang hanya diam saja. "Aku Alda," ia mengingatkan Airin siapa dirinya.
Airin diam sejenak untuk memutar memorinya, mencoba mengingat siapa Alda. Hingga kemudian ia mendapatkan kepingan memori tentang Alda, yang membuat bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Ya ampun Alda!" Ia tidak percaya jika akan bertemu Alda teman SD nya dulu.
Alda adalah salah satu teman Airin di sekolah dasar dulu, tapi hanya beberapa tahun saja karena setelah itu Alda harus ikut bersama kedua orang tuanya untuk pindah ke ibukota. Waktu itu papa Alda harus pindah karena ia di pindah kerjakan oleh kantor tempat ia bekerja.
"Ayo masuk," Alda membukakan pintu mobilnya dari dalam.
Dengan senang hati Airin masuk ke dalam mobil Alda, rupanya ia masih mengenal seseorang di kota yang baru ia singgahi. Airin memang sudah lama tidak bertemu Alda, tapi ia terkadang mendengar kabar tentang Alda dari teman yang lainnya jika Alda sekarang sudah menikah.
__ADS_1
"Nggak nyangka aku bisa ketemu kamu!" kata Alda sembari melajukan mobilnya. Ia juga merasa senang bertemu dengan Airin. Meskipun ia berteman dengan Airin hanya beberapa tahun tapi ia tahu Airin adalah teman yang baik.
"Iya, aku juga nggak nyangka," sahut Airin.
"Kamu sedang apa di kota ini?" tanya Alda penasaran. Sesekali ia menoleh pada Airin yang duduk di sebelahnya.
"Aku sedang bekerja," jawab Airin. "Dan tadi baru pulang kerja."
Alda menautkan alisnya, perasaan di tempat Airin tadi tidak ada perusahaan atau pabrik dan sejenisnya. Di sana hanya ada kawasan rumah elit. "Benarkah! Kamu kerja apa?"
"Baby sitter," jujur Airin. Baginya pekerjaan apapun ia tidak pernah malu asalkan itu tidak menyimpang ke hal yang berbau negatif.
Airin hanya tersenyum mendengar itu, kalau Alda tau yang dia asuh adalah anak SMA pasti ia akan tertawa. Karena bayangan anak kecil yang menggemaskan sama sekali tidak ada pada Kania.
"Ini kamu mau kemana?" Alda baru menyadari ia tidak tahu tujuan kemana Airin pergi.
"Pulang ke jalan xxx." yang langsung di angguki Alda. Alda segera melajukan mobilnya ke tempat kosan Airin.
Di dalam perjalanan itu banyak sekali yang mereka ceritakan mulai dari mengenang masa lalu hingga membahas kisah cinta monyet mereka yang membuat mereka berdua tertawa.
Tak lama mobil yang di kendarai Alda berhenti tepat di depan gerbang kosan Airin. "Jadi ini kosan kamu?"
__ADS_1
Airin menganggukkan kepalanya. "Iya," sahutnya.
"Apa kapan-kapan aku boleh mampir? Soalnya kalau sekarang aku tidak bisa," pinta Alda.
"Tentu saja boleh, tapi keadaanya ya seperti itu." Airin tahu Alda anak orang kaya, pasti tempat kosannya sekarang tidak sebanding dengan rumahnya yang pastinya mewah.
Alda tersenyum mendengar itu. "Tidak masalah," sahutnya cepat.
Setelah mobil Alda melaju pergi, Airin baru masuk untuk menuju ke kamarnya.
Yang pertama ia lakukan setelah masuk kamar adalah, mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Karena air dingin mampu membuang rasa lelahnya.
Tidak butuh waktu lama Airin sudah selesai dengan ritualnya. Tapi baru saja ia membuka pintu kamar mandinya ia sudah di kejutkan seseorang yang berbaring nyaman di kasurnya.
"Astaga!" pekik Airin.
Lusi hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya melihat Airin yang terkejut. Untung saja Airin terbiasa mengenakan pakaiannya di kamar mandi.
...----------------...
...Nah, jangan lupa dukungannya 😄...
__ADS_1