
Airin segera mengurungkan niatnya untuk makan saat ada seseorang yang berdehem di belakangnya.
Airin dengan segera bangun dari duduknya dan menaruh sembarangan nasi bungkusnya di atas meja yang berada di dapur.
"Bi Ani," ucap Airin saat tahu orang yang tadi membuatnya terkejut.
"Kalau kamu mau sarapan, kamu tinggal datang ke paviliun. Disana sudah ada makanan untuk pekerja di rumah ini," jelas Bi Ani.
Airin menganggukkan kepalanya. "Iya Bi, lain kali Airin akan ke paviliun jika ingin makan," ujar Airin.
Setelah mengatakan itu, Bi Ani segera berlalu dari sana untuk memeriksa para pekerja yang lainya.
Seketika Airin bernafas lega. Entah kenapa Airin lebih takut berhadapan dengan Bi Ani dari pada Sofiana. Mungkin karena wajah Bi Ani yang minim ekspresi.
Airin segera melanjutkan sarapannya, sebelum ada seseorang lagi yang akan memergokinya.
Hingga beberapa saat Airin sudah selesai dengan sarapannya. Di saat Airin keluar dari dapur ternyata Airin berpapasan dengan Sofiana yang sudah rapi, sepertinya akan pergi.
"Airin," panggil Sofiana.
Airin segera berjalan ke arah Sofiana berdiri. "Ya, Nyonya." sahut Airin.
"Oh ya ... selagi Kania sekolah, kamu temani saya. Hari ini saya akan berkunjung ke panti asuhan," tutur Sofiana.
"Baik, Nyoya." sahut Airin cepat.
Saat Airin dan Sofiana berjalan beriringan untuk menuju teras, ternyata Bian juga sudah siap untuk berangkat kerja.
Sejenak Airin sempat melirik ke arah Bian. Laki-laki tampan yang selalu terlihat berkharisma, apalagi pesonanya sebagai pengusaha muda, yang bisa membuat takluk semua wanita. Meskipun aura dingin selalu menyelimuti wajah tampannya.
Airin segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir khayalan tentang majikanya yang bersarang di kepalanya.
"Ada apa?" tanya Bian yang ternyata sudah berdiri di depan Airin.
"Huh ...." Airin terkejut dengan kehadiran Bian. Airin mengedarkan pandanganya untuk mencari keberadaan Sofiana, yang ternyata sudah berjalan ke arah mobil yang sudah di siapkan oleh Putra.
Airin kembali mengarahkan pandanganya pada Bian yang masih berdiri di hadapannya. "Ti-tidak apa-apa," jawab Airin dengan gugup. "Maaf saya harus segera pergi dengan Nyoya," ujarnya lalu melarikan diri dari Bian.
__ADS_1
Airin dengan cepat menyusul Sofiana yang sudah berada di dalam mobil.
Sedangkan Bian, hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kelakuan pengasuh adiknya yang tampak aneh di matanya itu. "Dasar."
Bian sendiri juga segera berangkat ke kantornya, dengan mobil yang tadi sudah di panasi oleh Putra.
***
Saat sudah berada di ruangannya, Bian ternyata sudah bersama Miko. Miko akan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi dengan insiden yang melibatkan Kania, Airin dan juga Alina.
"Tuan, setelah saya melihat rekaman dari cctv. Ternyata Alina dan Nona Kania yang sedang bertengkar. Dan Nona Kania melakukanya karena tidak terima Alina yang menyebut Nona Airin sebagai --" Miko tak bisa meneruskan kata-katanya. Karena menurutnya kata itu terlalu vulgar.
Bian menautkan kedua alisnya, saat Miko yang tiba-tiba diam. "Apa?" tanya Bian yang penasaran.
Miko sejenak meraup udara sedalam dalamnya untuk melegakan tenggorokannya. "******, Tuan." jawab Miko. "Dan Nona Airin waktu itu ingin melerai tapi, malah terdorong oleh Alina," jelas Miko.
Mata Bian membulat mendengar penuturan Miko. "Miko, cepat suruh HRD untuk mengurus masalah Alina," titahnya.
"Baik Tuan," sahut Miko dan segera keluar dari ruangan Bian.
Miko berdiri di hadapan meja Riri. "Cepat urus masalah Alina kemarin ke pihak HRD," perintah Miko pada Riri.
Ketika Miko akan beranjak pergi, seketika ia urungkan saat mengingat sesuatu. "Jika hal seperti ini terjadi lagi dan kamu tidak ada lagi, maka kamu juga akan terkena hukuman," hardik Miko dengan tatapannya yang dingin.
"I-iya," jawab Riri. Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding melihat tatapan Miko yang seperti itu. "Ya ampun, bos sama asistennya sama-sama dingin. Coba aja kalau udah punya cem-ceman pasti meleleh tuh," gerutunya seraya akan melakukan sambungan interkom ke HRD.
***
Sofiana yang tadi berencana akan ke panti asuhan. Ternyata singgah dulu ke supermarket membeli beberapa makanan ringan untuk oleh-oleh anak panti.
Airin yang ikut masuk ke dalam supermarket, mendorong troli dan mengikuti langkah Sofiana.
Saat mata Sofiana memilih makanan apa saja yang akan dia pilih, ternyata matanya tak sengaja menangkap keberadaan seseorang yang dia kenal.
Sofiana melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan seseorang itu. Ketika sudah dekat, ternyata benar dugaannya.
Puk.
__ADS_1
Sofiana menepuk bahu orang itu yang kemudian menoleh padanya. "Jessy," sapa Sofiana.
"Ya ampun, Sofiana," sahut Jessy yang tak kalah heboh saat tahu orang yang telah menepuk bahunya. Dengan segera Jessy berhambur memeluk Sofiana, yang di balas juga oleh Sofiana.
"Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin terakhir di pernikahan Alex," ujar Sofiana setelah melepas pelukannya.
"Iya, dan waktu itu kamu juga buru-buru," sahut Jessy sambil mengingat kejadian itu.
"Itu karena Kania sedang membuat ulah lagi," jelas Sofiana. Sofiana mengarahkan pandanganya pada dua gadis muda yang berdiri di samping kanan dan kiri Jessy. Satunya dengan perut yang membuncit dan satunya lagi gadis yang berwajah oriental. "Apa dia istrinya Alex?" tanya Sofiana pada Jessy, tapi pandanganya tertuju pada gadis dengan perut yang membuncit itu.
Jessy juga mengarahkan pandanganya pada menantunya. "Iya ini istrinya Alex, Tiara." jawab Mommy. Kemudian menoleh pada gadis satunya. "Yang ini juga putriku, dia juga sudah menikah dengan sahabatnya Alex, Caca." Mommy yang juga mengenalkan Caca.
Tiara dan Caca segera menggapai tangan Sofiana dan mencium punggung tangannya. Sofiana tersenyum melihat itu, ternyata meskipun mereka masih mudah tapi sudah memahami sopan santun. "Mereka cantik-cantik." puji Sofiana.
"Terima kasih, Tante," sahut Tiara dan Caca bersamaan.
"Sayang, Tante Sofiana ini masih sepupu dengan Papa Nathan," tutur Jessy, yang di angguki ke dua gadis itu.
Jessy mengedarkan pandanganya di sekitar Sofiana. "Apa si cantik Kania tidak ikut?"
"Sekarang masih sekolah, Jessy," jawab Sofiana.
"Hmm," Jessy menganggukkan kepalanya. Kemudian pandanganya tertuju pada Airin yang berdiri di belakang troli di samping Sofiana. "Apa dia calon menantu mu?"
Sofiana segera menoleh pada Airin, kemudian menatap ke arah Jessy. "Mungkin," jawab Sofiana ambigu dengan mengedikkan kedua bahunya.
Jessy menautkan kedua alisnya, mendengar jawaban Sofiana yang terdengar ambigu. Begitupun Airin yang heran mendengar jawaban majikanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau pergi dulu. Soalnya masih ada urusan," pamit Sofiana. Yang kebetulan trolinya juga sudah penuh dengan snack.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati," sahut Jessy dan memeluknya.
"Ya sudah, bye," ucap Sofiana ketika pelukan mereka sudah terlepas.
Sofiana dan Airin segera berjalan ke arah kasir, untuk membayar semua barang belanjaanya. Setelah itu melanjutkan ke panti asuhan seperti tujuan awal mereka.
...----------------...
__ADS_1
...Nah ... kalau kalian sudah baca DENDAM KU BERUBAH JADI CINTA SEIRING WAKTU pasti tau dong siapa Jessy, Tiara dan Caca 😊....
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn. ...