
Pagi seperti biasanya namun tidak untuk Airin , dia nampak lesu dan tak semangat, dalam hitungan menit saja dia sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar mandi karena mual.
Wajah nya semakin pucat karena semua yang ada di dalam perut nya keluar dan yang ia makan pun kembali keluar lagi dengan paksa.
" Ya Allah, aku sangat lelah. " ucapnya dengan lemah.
David datang dari dapur membawakan minuman hangat untuk Airin, mungkin dengan minuman itu akan membuat nya lebih baik dari sebelumnya. David menghampiri Airin yang terduduk lemas di kasur memberikan minuman yang ia bawa dan meminta Airin untuk meminumnya segera. " minumlah,, setelah ini pasti kamu akan lebih baikan. " ucap David.
Airin mengambil gelas yang di bawa David dan meneguk nya minuman hangat yang David buat, tida buruk.? dengan menggunakan meminum itu Airin sedikit lebih baik. " Terima kasih sayang. " ucap Airin.
Airin merebahkan tubuhnya di kasur dengan perlahan dia sangat enggan untuk bergerak dan begitu malas untuk melakukan apapun.
David membelai lembut wajah Airin dia begitu kasihan melihat Airin yang tersiksa dengan keadaan nya sekarang. " Sayang apa kamu benar-benar tidak apa-apa.? tanya David.
" Aku tidak apa-apa sayang. " jawab Airin.
" tidak -tidak, pokoknya kita harus ke rumah sakit, aku tidak ingin kamu seperti ini terus aku harus mengetahui apa yang membuat kamu seperti ini. "
" tidak usah Sayang, aku baik-baik saja. " jawab Airin seraya ingin menolak.
Tak mau mendengar alasan apapun lagi dari Airin, David mengangkat tubuh Airin dan membawa nya keluar. Menurunkan Airin di kursi penumpang dan kembali masuk untuk mengambil barang-barang milik nya dan juga punya Airin sendiri.
Airin hanya bisa pasrah. Dia tak punya kuasa untuk menolak permintaan dari David suaminya. Kekhawatiran dan kecemasan David memang sangat berdasar jadi bagaimana dia bisa menolak nya. " Sayang. Seharusnya kita tak perlu ke rumah sakit. " ucap Airin.
David menghidupkan mesin dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dengan perlahan-lahan. " kamu diam saja duduk manis dan jadilah istri yang penurut, Oke. " jawab David yang sudah fokus dengan keadaan jalan raya.
Airin terdiam. dia tak lagi bisa menjawab David kalau sudah mulai bertitah. mungkin memang Airin membutuhkan pemeriksaan dari dokter untuk mengetahui keadaan nya jangan sampai ada hal yang serius yang tidak di ingin kan.
Setengah jam dalam perjalanan mereka berdua sampai di rumah sakit terdekat. David turun dan memapah Airin yang terlihat sangat lemas. " Hati-hati sayang " ucap David dengan pelan dan setia menuntun Airin dengan pelan hingga sampai di tempat semestinya.
Airin duduk menunggu sedangkan David yang mengurus semuanya dari pendaftaran hingga mengambil nomor urut untuk pemeriksaan Airin. David duduk di sebelah Airin setelah semua nya dia dapatkan. " kamu yang sabar ya sayang. " ucap David lagi.
" Hmm. " Airin mengangguk pelan.
" Ibu Airin. " panggil perawat setelah beberapa saat mereka berdua menunggu.
David dan Airin beranjak. Berjalan masuk dan menemui dokter untuk memeriksakan keadaan
Airin.
Dokter Karina. Dokter yang memeriksa keadaan Airin saat ini. Tanpa ragu Airin berbaring di kasur rawat dan langsung mendapatkan pemeriksaan dari dokter Kirana.
Dokter Kirana tersenyum setelah mengetahui apa penyebab sebenarnya kenapa Airin mengalami masalah itu. dan untuk memastikan Airin pun di minta untuk melakukan tes kehamilan dengan tes urine.
Senyum semakin merekah dari dokter Kirana saat sudah menerima hasil dari Suster. Kirana menjabat tangan Airin dan mengucapkan selamat padanya " selamat ibu Airin sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu, Anda hamil.dan sudah minggu yang ketiga. "'ucap Kirana.
Puji syukur terus ter panjatkan dari mulut David dan Airin bahkan David tak henti-hentinya memeluk dan mencium kening Airin saking bahagia nya dan tak memperdulikan Kirana yang terus menatapnya dengan ikut bahagia juga.
" Sayang Terima kasih, terimakasih. " ucap David. Air mata haru pun terlepas begitu saja dari kelopak mata David. kebahagiaan nya sungguh sangat berarti hingga dia tak bisa membendung air mata bahagia nya.
" Sayang aku nggak bisa nafas. " lirih Airin menatap Kirana dengan senyum kikuk nya karena tingkah David. " Terima kasih ya Allah kau telah percayakan untuk kami secepat ini. lindungi dia hingga terlahir ke dunia nanti ya Allah. karena Engkau kah sebaik-baiknya pelindung " batin Airin dengan tangan mengelus perut nya yang masih rata.
David melepaskan pelukan nya dan menatap Airin kemudian beralih pada Kirana. " dokter nggak sedang bercanda kan. istri saya beneran sedang hamil kan.? tanya David yang belum sepenuhnya percaya.
" iya Pak David. ibu Airin sedang hamil. selamat ya sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah. " jawab Kirana.
David kembali memeluk Airin dia begitu sangat sangat bahagia dengan kabar baik ini akhirnya apa yang dia inginkan terkabul dengan sangat cepat. "'Terima kasih ya Allah, Terima kasih. " sayang aku akan menjadi ayah. " David tak henti-hentinya memeluk Airin.
__ADS_1
Kirana memberikan selembar resep obat dan harus di tebus oleh David ke apotik rumah sakit. David pun mengangguk dengan cepat. " Terima kasih dok, kami permisi " pamit David setelah mendapatkan resep dari Kirana.
" Sama-sama Pak, jaga istri anda baik-baik karena ini adalah usia yang sangat rentan, jangan biar kan istri anda terlalu lelah " peringat dari Kirana.
"'iya Dok. Assalamu'alaikum "'jawab David. " yuk Yang, Hati-hati " ajak David dan Airin pun mengikuti David untuk keluar dari ruangan itu dan kembali antri untuk menebus obat.
#######
" Di mana sih nih anak. di telfon nggak di angkat, pergi lama sekali, pakai acara kunci pintu segala lagi "'kesal Fani dan terus mondar-mandir di depan pintu rumah David.
Yohan hanya bisa menggeleng melihat istri nya yang sudah seperti cacing kepanasan, sedari tadi mondar-mandir dan terus menggerutu memarahi kedua penghuni di rumah itu yang tak kunjung pulang bahkan ponsel mereka berdua di hubungi juga tak di angkat.
" sudah lah Mi, sebentar lagi juga mereka pulang. kalau mereka tidak pulang ya berarti kita yang pulang " ucap Yohan begitu enteng.
Fani semakin kesal dengan perkataan suaminya dia begitu merindukan anak dan menantunya eh malah Yohan mengatakan hal itu. " nggak bisa gitu dong Pi. pokoknya kita harus bisa bertemu dengan mereka berdua entah kenapa aku tiba-tiba sangat merindukan mereka " jawab Fani sembari duduk di samping Yohan dengan terpaksa.
" ketemu ya ketemu tapi nggak pakai cemberut gitu juga dong. lihatlah wajah Mami seperti baju yang belum di setrika alias kusut amat " gurau Yohan.
" Papi,,!! kesal Fani.
" Hahaha,, maaf Papi kan cuma bercanda, makanya senyum dong jangan cemberut terus.."
" Hm. " Fani menarik senyum dengan terpaksa membuat Yohan kembali tertawa melihat sifat Fani yang masih seperti anak-anak.
" Hahaha,,,!!
Mobil David memasuki pekarangan rumah dan menghentikan tawa Yohan seketika. Yohan dan Fani berdiri menyambut kedatangan Anak dan menantunya ya meskipun terbalik sih siapa yang harus menyambut siapa.
David memutari mobil dari depan membukakan pintu di sisi Airin dan langsung menuntun nya.
Keduanya melangkah perlahan-lahan hingga sampai ke depan Yohan dan Fani dan mencium punggung tangan keduanya bergantian.
" Wa'alaikumsalam. " jawab keduanya.
" eh, sayang. kamu sakit kok pucat sekali wajahmu. dan kalian darimana.? tanya Fani menyelidik dan mengelus pundak Airin dengan khawatir. menggerilya seluruh wajah Airin yang begitu pucat.
" kita dari rumah sakit, Mi" jawab David. " masuk dulu yuk Mi, Pi. Enggak enak di luar terus. "
" lagian kamu juga pergi nggak bilang-bilang. lagian pintu juga di kunci. " jawab Fani yang masih sedikit kesal.
" Ya kan David nggak tau kalau Mami mau datang "
Pintu David buka perlahan. mereka pun masuk secara bergantian dan duduk di sofa ruang tamu yang sederhana milik David dan Airin.
Mata tajam Fani terus menatap David meminta penjelasan kenapa mereka ke rumah sakit. Apa kah ada hal yang serius dari Airin hingga wajah nya begitu sangat pucat bahkan seperti tak ada darahnya sama sekali. " David,,"
David tersenyum melihat Fani yang sudah tak sabaran. Senyum yang merekah dan penuh kebahagiaan membuat Yohan dan Fani penasaran. " selamat Mi, Pi. Kalian akan menjadi kakek dan nenek. Airin telah hamil Mi. " terang David.
Mata Fani melotot pada Airin. saking bahagia nya malah membuat Airin sedikit takut karena tatapan Fani yang kian tajam " Benarkah itu sayang " tanya Fani dengan senyuman yang masih tertahan di bibirnya.
Airin mengangguk pelan lalu kembali menunduk lagi "'Hm, iya Mi. " jawab Airin lirih.
Fani beralih menatap Yohan yang juga begitu bahagia. Fani memeluk Sang suami sembari mengucapkan kata syukur di pelukan Yohan " Alhamdulillah Pi, sebentar lagi kita akan menjadi kakek nenek " ucap Fani begitu girang.
" iya Mi, Alhamdulillah " jawab Yohan.
" benarkah,,!! ucap seorang yang datang membuat semua menoleh memastikan siapa yang datang.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam. " jawab Serentak.
"'Bunda, Abi. " pekik Airin tak percaya.
Tasya berjalan cepat dan duduk di sebelah Airin menatap wajah Airin meminta penjelasan yang sebenarnya " Sayang, apa semuanya benar " tanya Tasya.
"'iya Bunda "'jawab Airin.
Tasya langsung memeluk Airin dengan begitu bahagia. Kebahagiaan nya kembali bertambah dengan kabar yang sangat baik ini. "'jaga kandungan mu baik-baik sayang. Dan jangan terlalu banyak bekerja, banyakin istirahat , makan makanan yang bergizi, jangan angkat berat-berat, dan jangan lupa minum vitamin "'ucap Tasya panjang.
" Astaga Bunda, daftar nya banyak sekali. "'keluh Airin.
" ya itu belum seberapa sayang, dulu pas Bunda hamil, daftar Bunda lebih banyak lagi dari Oma," jawab Tasya.
Tasya beralih pada Fani memeluk sang besan dan saling berbagi kebahagiaan. Begitu juga dengan Fahmi dan juga Yohan pelukan hangat sang besan membuat mereka semakin bahagia.
David merangkul Airin, bahkan mereka berdua lebih bahagia dari pada orang tua mereka "' semoga kebahagiaan ini akan abadi ya Sayang" ucap David dengan senyum cerah.
"'iya sayang. semoga kita dan keluarga besar kita selalu bahagia, dan anak kita kelak akan menjadi kebanggaan dari kita semuanya "'jawab Airin.
Fani dan Tasya akhirnya yang bergelut di dapur Airin. mereka berdua sangat antusias untuk membuatkan menu untuk makan siang bersama merayakan kehamilan Airin di tempat Airin juga. sedangkan Airin tak sedikitpun boleh menyentuh pekerjaan apapun meskipun hanya bantu-bantu saja.
Airin duduk di kursi meja makan dalam diam belum apa-apa dia sudah sangat bosan, berdiam diri tanpa melakukan apapun sangat tak menyenangkan. kemarin saja saat belum hamil David sudah extra Airin tak boleh melakukan apapun dan sekarang apa yang akan terjadi,? apa Airin hanya akan makan tidur makan tidur saja.? " kenapa semua jadi begini, aku mana mungkin tahan terus berdiam diri begini " gerutu Airin.
Rasa haus yang membuat Airin harus beranjak untuk mengambil air minum yang tak jauh dari tempat nya duduk sekarang.
" ehh,,, sayang kamu mau kemana.? tanya David yang sudah berlari dan berada di hadapan Airin yang baru saja beranjak dari kursi.
" aku mau ambil minum Sayang, aku sangat haus. "jawab Airin.
" sudah sudah, sekarang kamu duduk dan aku yang akan ambilkan minum untuk kamu. kamu kan tadi dengar sendiri kata Bunda, kamu nggak boleh banyak bekerja dan kamu harus banyak istirahat " ucap David.
Airin memejamkan matanya sekejap. apa selama sembilan bulan dia akan terus duduk begini.? hamil bukan berarti harus duduk saja kan. dia juga harus bergerak supaya dia tak merasa lemas. " tapi Yang, aku kan hanya mau ambil minum saja. ini bukan pekerjaan berat " ucap Airin.
" kamu duduk saja Ok, "'David mendudukkan Airin di kursi dan berjalan secepat kilat untuk mengambilkan segelas air minum untuk Airin.
" astaga, aku tau kamu khawatir sayang. tapi jangan berlebihan gini juga dong " gumam Airin frustasi sembari memijat pelipis nya pelan.
Airin mengambil buku yang biasa dia baca dan ada di meja makan sana, tangan nya mulai membukanya dan membaca nya dengan begitu fokus. buku tebal tentang kedokteran yang baru beberapa hari ini dia membelinya.
David datang membawa segelas air putih dan langsung memberikan nya pada Airin " sayang nih minum nya " David menyodorkan gelas pada Airin. David beralih pada buku yang Airin baca dan lagi-lagi dia mulai bertitah " sayang jangan baca-baca buku seperti ini dulu, kalau kamu pusing itu akan mempengaruhi anak kita nanti, nanti dia juga akan pusing " ucap David melarang Airin membaca buku di depan nya.
Mata Airin terbelalak sembari tangan memegang gelas dan sudah mulai meneguknya, bahkan membaca buku untuk memperdalam pengetahuan nya tentang kedokteran saja tidak boleh. bagaimana dia akan kuliah nanti " astaga. " Airin tak habis pikir.
Airin menarik tangan David memintanya untuk duduk di sebelah nya. Airin memegang tangan David dan harus memberikan pengertian padanya. " sayang, kalau aku hanya berdiam begini bagaimana aku akan mendapatkan kekuatan dan bagaimana anak kita akan menjadi kuat. Hamil bukan berarti harus berdiam diri tanpa melakukan apapun aku dan anak kita juga membutuhkan sedikit saja kebebasan untuk melakukan yang kami ingin kan. darimana aku akan mengenalkan dunia pada anak kita kalau aku hanya duduk berdiam seperti ini.
" bukan kah anak kita juga punya hak untuk mengenal semuanya. bisa keluar menghirup udara segar melakukan yang akan menjadi kegemarannya dan mengenal semua ciptaan Allah di muka bumi ini kan. " terang Airin.
" tapi Sayang, aku hanya takut "
" kamu harus yakin bahkan kita akan baik-baik saja. bukankah ada kamu yang akan menegur kami jika kami melakukan hal yang berlebihan, bagaimana kamu bisa ragu pada dirimu sendiri"
ucap Airin.
begitu banyak kata yang Airin katakan hingga perlahan-lahan David bisa mengerti dan memahami nya. kata Airin benar tak seharusnya di terlalu berlebihan membatasi Airin yang ingin melakukan apapun. tugas dia adalah menjaga dan mengingatkan bukan lah mengengkang dan membatasi pergerakan Airin.
__ADS_1
########
David jauh terlalu posesif. wkwkwk...