
Airin untuk beberapa saat hanya terdiam, untuk mencerna ucapan Sofiana.
"Apa kamu sedang berfikir siapa yang akan kamu urus?" Sofiana yang melihat raut wajah Airin yang kebingungan.
Dengan reflek Airin mengangguk, tapi kemudian Airin menggeleng. Karena bekerja apapun baginya tidak masalah, asalkan masih batas wajar.
Sofiana tergelak melihat sikap Airin yang lucu menurutnya. "Ternyata kamu sangat lucu, pasti kamu akan cocok dengan adik Bian," ujar Sofiana.
Pipi Airin merona seketika. Tapi dirinya lega, sudah mengetahui siapa yang akan si urus nya.
Pikiran yang tadi mengira Bian seorang duda sirna seketika.
Airin hanya menanggapi celoteh Sofiana dengan tersenyum. Meskipun awal pertama Airin bertemu Sofiana di kantor terlihat tegas, tapi nyatanya Sofiana adalah seseorang yang sangat ramah.
"Oh ya adik Bian kalau jam segini masih sekolah, sudah beberapa baby sitter yang menyerah mengurus adik Bian. Sebenarnya adik Bian anak yang baik dasarnya, hanya saja dulu dia sering saya dan Bian tinggal karena harus mengurus pekerjaan jadi dia merasa kesepian, oleh sebab itu pengasuhnya sering di jahili jadi banyak yang tidak tahan dengan sikapnya," jelas Sofian.
Airin tiba-tiba merasa sedikit gamang, apalagi dirinya tidak punya pengalaman menjadi babysitter. Bagaimana jika adik Bian tidak menyukainya! bisa jadi pengangguran setelah ini Airin di Jakarta.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Airin sudah berkeliling rumah itu di temani Bu Ani untuk melihat ruangan apa saja yang berada di sana. Menunjukkan kamar majikannya dan menyuruh Airin untuk menghafalnya.
Bu Ani juga menyebutkan apa saja yang di sukai ketiga majikanya dan yang tidak disukainya.
Hingga ketika Airin dan Bu Ani berada di dapur, mereka dikagetkan suara seorang gadis yang melengking.
"Bu Ani ...." teriak gadis yang baru saja pulang sekolah.
Derap langkah kakinya semakin terdengar di telinga Airin dan Bu Ani yang berada di dapur. Dan benar saja Airin dapat melihat gadis berseragam sma memasuki dapur itu.
Gadis sma itu langsung menuju lemari pendingin, dan mengambil satu minuman kaleng untuk dia minum. "Aaahhh ... dingin," ucapnya, saat merasakan dingin dari air yang ia teguk mengaliri tenggorokannya hingga ke dada.
__ADS_1
"Bu Ani tahu! Sekolah hari ini sangat kacau. Gara-gara guru ada rapat, jadi semua murid di biarkan begitu saja. Dari pada jenuh di kelas lebih baik aku pulang." Celotehnya dangan mata yang menelisik isi kulkas, mencari apa yang dia inginkan. Bahkan kehadiran Airin tidak ia sadari.
"Bu Ani, kalau begitu aku mau ke kamar dulu," ucap gadis itu seraya menutup pintu kulkas. Di tangannya sudah di penuhi beberapa jenis buah yang akan ia bawa dalam kamar.
"Non Kania!" Bu Ani menginterupsi.
Sehingga gadis yang bernama Kania itu segera menghentikan langkahnya ketika sampai di ambang pintu dapur. Kania segera memutar tubuhnya menghadap Bu Ani, tapi ternyata Kania baru menyadari kalau Bu Ani tak sendiri.
"Non Kania, perkenalkan ini Airin. Yang akan menjadi baby sitter Non Kania yang baru," ujar Bu Ani. Dan kemudian menoleh kepada Airin. "Ini Non Kania, adik Tuan Bian. Kamu harus menyiapkan segala keperluannya," ucap Bu Ani menjelaskan tugas Airin.
Airin sempat terkejut, jika yang akan di asuhnya adalah seorang gadis yang sudah remaja. Tapi kemudian Airin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Kania yang sekarang sedang menatapnya.
Kania menatap lekat Airin, entah kenapa Kania seperti pernah bertemu Airin. Tapi tidak tau entah di mana.
"Jadi Mama, sudah menemukan lagi!" Ucap Kania yang sekarang mengarahkan pandanganya pada Bu Ani.
Bu Ani mengangguk mengiyakan pertanyaan Kania.
"Ya sudah ini bawa." Kania menyerahkan buah yang berada di tangannya pada Airin. Yang dengan segera Airin menerimanya. "Ayo kita kamarku saja kalau begitu," ucap Kania dan berjalan lebih dulu untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Airin dengan segera berjalan mengekori Kania menuju ke arah kamar.
Saat sudah berada di dalam kamar. Kania melemparkan sepatu yang ia pakai ke segala arah beserta juga kaos kakinya yang ia tarik dan di lemparkan ke arah sepatunya tadi.
Airin menghembuskan nafasnya pelan, mungkin pekerjaannya akan sedikit menguras kesabarannya kedepannya. Apalagi se usia Kania yang selalu membenarkan apa yang ada di pikirannya.
Airin dengan segera menaruh buah yang di bawahnya di atas nakas, yang sudah ada mangkok kecil di sana.
Dangan cekatan Airin mengambil barang Kania yang berserakan dan menaruh ke tempat yang seharusnya.
"Non Kania mau mandi sekarang?" tanya Airin.
__ADS_1
Kania yang sudah tengkurap di ranjang dengan ponsel yang berada di tangannya, seketika menoleh ke arah Airin yang berdiri di samping ranjangnya. "Nanti aja, lagi males." Kania kembali memfokuskan perhatiannya pada layar ponsel.
Airin dengan cekatan menyiapkan baju ganti untuk Kania, dan menaruhnya di atas ranjang yang tidak terjangkau kakinya, agar nanti jika Kania selesai mandi sudah tidak lagi menyiapkannya.
Airin mengedarkan pandangannya ke segala arah kamar Kania. Sungguh mewah kamar gadis remaja itu, semuanya sudah tersedia di dalam kamarnya mulai televisi yang berukuran raksasa, ada juga ps dan perlengkapan gadis remaja lainya.
Berbeda sekali dengan kehidupannya, dulu Airin seusia Kania, Airin sudah mencari uang untuk jajannya sendiri.
Airin menghembuskan nafasnya kasar, dan menggelengkan kepala jika mengingat masa sekolahnya dulu yang tak seindah seperti gadis lainya.
"Loh ... masih ada di sini!" Heran Kania, saat melihat Airin yang masih betah berdiri di kamarnya.
Airin hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Kania, mana berani Airin pergi jika Kania tidak menyuruhnya.
Kania menaruh ponselnya di atas ranjang, dan segera duduk. Kania kembali menatap wajah Airin lekat. "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Kania yang mulai penasaran dengan ingatannya.
Dahi Airin berkerut mendengar pertanyaan Kania hingga Airin juga menatap Kania. "Tapi saya baru satu minggu lebih berada di jakarta," jelas Airin. Tapi Airin sendiri juga merasa pernah bertemu dengan Kania, tapi entah di mana.
Kania terus mencari kepingan-kepingan ingatannya beberapa hari yang lalu. Hingga matanya membulat saat mengingat sesuatu. "Apa Kakak pernah naik kereta api beberapa hari yang lalu dari kota xxx?" tanya Kania antusias. Saat mulai mengingat sedikit ingatannya.
Airin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Senyum di bibir Kania semakin mengembang. "Apa Kakak pernah menolong seorang gadis yang hampir saja kecopetan?" Kania bertanya kembali.
Airin sedikit memiringkan kepalanya untuk mengingat kejadian di dalam kereta api beberapa hari lalu ketika dirinya akan menuju Jakarta. Hingga dia mengingat sesuatu dan kemudian menatap Kania yang sekarang sedang berdiri di depannya. "Apa kah itu kau?" tanya Airin terkejut.
Kania dengan cepat menganggukkan kepalanya, dan berhambur memeluk Airin hingga Airin sedikit terhuyung kebelakang. "Akhirnya kita bertemu kembali," ucap Kania girang. Bahkan kakinya pun ikut loncat-loncat saat memeluk Airin.
...----------------...
Selamat menyambut bulan Ramadhan 😊🙏.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnnn.