
_____
Mendapatkan kabar gembira tentang kehamilan Airin membuat kedua sahabatnya Mitha juga Rico sangat senang, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu oleh David juga Airin bisa mereka dapatkan meskipun di balik kebahagiaan itu juga harus butuh perjuangan yang besar.
Mitha juga Rico ikut menunggu Airin di ruang rawatnya yang pasti juga dengan David yang ada di sana juga.
"Rin, kamu harus cepat sembuh. Demi calon anak kamu, kamu harus berjuang," ucap Mitha yang kini duduk di sebelah Airin.
Mitha masih setia menunggu dia belum ada niatan untuk kembali pulang sebelum melihat Airin siuman. Mitha begitu khawatir dengan keadaan sahabatnya yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Sementara Rico juga David duduk di sofa yang sama. Rico terus menguatkan David, semua pasti akan baik-baik saja bukan?
"Kamu yang kuat ya, Dav. Airin juga calon anakmu pasti akan baik-baik saja. Setelah Airin tau akan kehamilannya dia pasti akan cepat sembuh, bukankah memang itu yang Airin tunggu-tunggu."
"Hem," David sangat bahagia dengan kehamilan Airin tapi dia juga sangat khawatir melihat keadaan Airin yang sangat lemah bahkan itu juga mempengaruhi janin yang masih ada dalam kandungan nya.
David sangat menginginkan kehadiran buah hati di tengah-tengah mereka berdua tetapi dia juga tidak ingin melihat Airin harus menderita karena apa yang terjadi kepadanya.
"Aku sangat bingung, Ric," wajah David tertunduk begitu masam Dia tak bisa membayangkan hidupnya nya jika terjadi sesuatu itu kepada Airin.
"Yakinlah semua pasti akan baik-baik saja, Airin ataupun janinnya pasti akan sehat dan kalian akan bahagia setelah kelahirannya, aku yakin itu, Dav," ucap Riko menguatkan David yang terlihat sangat bingung.
"Terima kasih, Ric," David lirik sejenak ke arah Riko yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari nya juga senyuman tulus dari seorang sahabatnya.
__ADS_1
Perlahan-lahan jari-jemari Airin mulai bergerak, matanya juga mulai terbuka, "Aku di mana?" tangan Airin terangkat langsung memijat kepalanya yang masih sangat pusing.
"Rin, kamu sudah sadar!" Mitha berdiri memandangi Airin sejenak lalu menoleh ke belakang untuk memanggil David, "Dav! Airin sudah bangun! " Mitha terlihat sangat bahagia.
David yang mendengar langsung berlari menghampiri Airin, dia yang khawatir langsung mengambil tangan Airin dan terus menciumnya.
"Sayang, apa masih sakit? Hem..., apa yang sakit? " David begitu khawatir dia terus panik saat melihat Airin sakit seperti ini. Airin adalah kehidupannya, kalau dia sakit rasanya David juga ikutan sakit.
"Aku baik-baik, Yang. Tapi, kenapa aku ada di rumah sakit?" Sepertinya Airin masih belum mengetahui kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit, "Sayang, aku tidak kenapa-napa kan? kalau gitu kita pulang yuk! kok aku rasanya nek ya bau obat," ucapnya.
David, Mitha juga Rico tersenyum mungkin apa yang di alami oleh Airin karena pengaruh hormon nya kali ya, kalau tidak mana mungkin bisa begitu bukankah pekerjaannya memang di rumah sakit mana bisa nek saat bau obat.
"Itu wajar, Sayang. Itu tidak apa-apa kok, dan.., kamu juga harus tetap berada di sini selama satu minggu, kamu tidak boleh bekerja dan harus istirahat, istirahat dan istirahat. Kamu tidak boleh kelelahan dan juga tidak boleh berpikir macam-macam semua itu demi kesehatan kalian," ucap David dengan wajah yang sumringah.
"Kamu itu aneh, Rin Rin. Kamu itu dokter loh kamu juga tiap hari di rumah sakit kenapa sekarang loh bau obat saja nek. Apa itu tidak aneh menurutmu?" Kini Mitha yang berbicara heran saja sih masak iya dokter nek sama bau obat.
Airin terdiam, benar juga sih. Dia seorang dokter tapi masak iya dokter takut sama obat nggak banget kan ya.
"Iya juga sih, kenapa ya?" Airin terlihat sangat bingung di juga termenung.
"Sudah sudah, jangan di pikirin. Pokoknya kamu jangan sampai tertekan karena itu tidak akan baik untuk kalian berdua,"
"Bentar bentar! dari tadi kamu bilang kalian kalian, maksudnya apa sih, Yang! " Airin sadar juga kalau David terus mengatakan kalian, sepertinya dia belum ingin mengatakan pada Airin atau mungkin dia ingin membuat kejutan yang tak terlupakan untuknya.
__ADS_1
"Hem...," David berpikir sejenak.
Mitha yang tadinya berdiri di dekat kursi kini beralih dan mempersilahkan David yang duduk di sana. David butuh posisi yang pas dan kenyamanan untuk mengatakan kebahagiaan ini.
David hanya tersenyum saat Mitha memintanya, dia juga langsung duduk namun tangannya masih setia menggenggam tangan Airin.
"Sayang, ini ada apa sih! Aku.., aku tidak kenapa-napa kan?" Airin sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari David.
"Sayang," David kembali diam, dia kembali mencium punggung tangan Airin. Satu tangannya juga terangkat mengelus perut Airin yang masih sangat rata.
"Sayang, kenapa," Airin terus menunggu.
"Sayang, tolong jaga calon anak kita dengan baik ya. Kamu tidak boleh sakit lagi karena itu bakal berpengaruh tidak baik pada perkembangannya."
"Sayang, kamu ngomong apa sih! Aku masih nggak ngerti,"
"Sayang, penantian kita sudah berujung. Sebentar lagi tangisan bayi akan hadir di tengah-tengah kita," ucap David menjelaskan.
"Hem..., i.. ini.. tidak bohong kan? sayang, kamu..., kamu tidak bohongin aku kan?" Airin masih tak percaya.
"Ini beneran, Yang. Kamu hamil, kita akan segera punya keturunan," David tersenyum penuh haru, air mata kebahagiaannya juga iku menetes saat ini saking bahagianya.
"Aku hamil...?" Airin menatap serius ke arah David dan mendapatkan anggukan darinya. Kedua tangan Airin beralih mengelus perut ratanya, dia menangis, dia sangat bahagia, "aku hamil, aku akan punya anak," ucapnya.
__ADS_1
#####