
Sudah satu minggu Airin bekerja sebagai OG. Dan selama itu keluarganya juga tidak pernah menelponnya untuk menanyakan kabar.
Entah bagaimana Airin harus bersikap. Sebisa mungkin Airin membesarkan hatinya, anggap saja keluarganya sedang lupa dengan Airin.
Sore hari saat akan memasuki jam pulang kerja, tiba-tiba Alina memanggilnya. "Airin!"
Airin yang akan mengambil tasnya dalam loker seketika menoleh. "Ada apa?"
"Lo hari ini lembur ya! Gue lagi ada urusan," ucapnya enteng.
"Tapi aku kemarin habis lembur, Alina," seru Airin.
"Ck, pokoknya hari ini lo yang lembur. Ya udah gue pulang dulu," pamit Alina dan segera pergi dari sana.
Airin mendengus melihat sikap Alina yang seenaknya padanya. "Selalu saja," gerutunya dan menaruh kembali tasnya dalam loker. Dan segera mengabari Lusi kalau dirinya akan lembur lagi.
Mulai tiga hari yang lalu memang pimpinan selalu pulang larut malam, mungkin memang kantor lagi banyak kerjaan. Entahlah Airin tidak tahu tentang itu. Yang Airin tahu, hanyalah membuat ruangan di lantai lima belas tetap bersih.
Jam sudah semakin malam, tapi Bian belum juga pulang. Bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Ya ampun, pimpinan betah banget kalau lembur," gerutu Airin dengan mengucek kedua matanya yang berair karena mulai mengantuk.
Airin duduk bersandar di sandaran sofa yang berada di pantry, sembari menunggu Bian pulang.
Sedangkan di dalam ruangan Bian, Bian sendiri juga sesekali menguap saat mengantuk mulai menderanya.
Bian berniat melakukan panggilan telefon lewat interkom ke pantry, untuk menyuruh seseorang membuatkannya kopi. Tapi hingga beberapa saat tidak ada yang mengangkatnya.
"Apa office girl sudah pulang?"gumamnya.
Sebenarnya di ruangan Bian sudah tersedia pantry kecil, tapi Bian sendiri tidak tahu takaran kopi yang pas seperti yang Airin buat untuknya.
Bian berjalan keluar ruangannya, ternyata sudah sepi. Karena tadi memang Bian menyuruh sekertaris dan asistennya sudah pulang terlebih dahulu.
Kaki Bian melangkah menuju ke ruang pantry, ternyata lampunya masih menyala, menandakan berarti masih ada seseorang di sana.
Saat Bian masuk kedalam pantry ternyata di sana sangat sepi. Bian mengedarkan pandanganya ke segala arah, hingga matanya menemukan sosok gadis yang bertubuh mungil sedang tidur meringkuk di sofa ujung ruangan pantry.
Bian berjalan ke arah Airin yang terlelap, saat sudah berada di hadapan Airin, Bian menatap lekat gadis yang tertidur di hadapannya. Gadis yang selalu menundukkan kepala saat mengantarkan kopi untuknya.
"Hei," panggil Bian dengan sedikit menendang sofa tempat Airin tidur.
__ADS_1
Airin seketika terlonjak kaget, dan segera bangun dari tidurnya. "I-iya tuan!" sahut Airin gugup dengan menundukkan kepalanya, saat tau yang membangunkannya adalah Bian, pimpinannya.
"Kalau kau ingin tidur, pulang sana!" hardik Bian.
"M-maaf, saya tidak sengaja."
"Apa kamu pikir ini perusahaan nenek moyang kamu? Yang bisa tidur seenaknya?" sembur Bian.
Airin hanya meremas kedua tangannya yang saling bertautan saat mendengar ocehan Bian.
"Jangan pikir, kamu saya tugaskan untuk membuat kopi untuk saya, makan kamu akan ada pengecualian," ucap Bian dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Airin semakin menundukkan kepalanya.
"Ini peringatan untuk kamu yang pertama dan terakhir," ujar Bian. Setelah itu Bian berniat untuk kembali ke ruangannya, tapi langkahnya terhenti saat mengingat tujuan awalnya. Bian berbalik. "Buatkan aku kopi, setelah itu kamu boleh pulang," ujarnya.
Airin yang tadi sempat mengangkat pandanganya, ketika Bian akan pergi dari pantry, seketika menunduk kembali saat mendengar ucapan Bian. Airin segera menganggukkan kepalanya. "Baik, tuan."
Setelah itu Bian melanjutkan kembali langkahnya ke arah ruangannya.
Airin saat ini bisa bernafas lega, ketika tau Bian benar-benar meninggalkan pantry. "Fiuuhh, mudah-mudahan aku tidak akan mendapatkan suami yang arogan sepertinya," doa Airin. Setelah itu Airin mulai memasak air untuk membuatkan Bian kopi.
Hingga beberapa saat Airin sudah berdiri di depan pintu ruangan Bian, dangan tangan yang memegang nampan berisi secangkir kopi pesanan Bian.
"Masuk, enggak, masuk, enggak," gumam Airin. Hingga suara Bian dari dalam ruangannya mengagetkan Airin.
"Kalau nggak mau masuk, jangan harap bisa pulang!" teriak Bian.
Airin langsung masuk begitu saja, dan meletakkan kopi di meja Bian. "Silahkan tuan," ucap Airin dengan mendekap nampan di dadanya.
Bian segera menyeret cangkir kopi itu kehadapannya, dengan sedikit meniupnya Bian mencicipi kopi buatan Airin dan rasanya sama seperti biasanya, 'enak'
"Ya sudah kamu boleh pulang," ucap Bian akhirnya.
Senyuman seketika terbit di bibi Airin. "Baik tuan," sahut Airin antusias. Dan beranjak dari sana.
Tapi entah kenapa Bian seketika memikirkan sesuatu, rasanya melihat senyuman di wajah Airin begitu menyebalkan. "Tunggu," serga Bian.
Airin yang tadi sudah berjalan ke arah pintu ruangan Bian seketika menghentikan langkahnya, dan menghadap ke arah Bian. "Ya, tuan!"
"Saya pikir-pikir lebih baik kamu tunggu di sini, sampai pekerjaan saya selesai," ujar Bian. Yang langsung membuat luntur senyuman Airin.
__ADS_1
"Ta-tapi tuan," sanggah Airin.
"Tidak ada penolakan," sahut Bian tegas.
Airin mengerucutkan bibirnya kesal, rasanya hari ini dirinya sudah di permainkan oleh Alina dan Bian.
"Sana, duduk," perintah Bian dengan mengedikkan dagunya ke arah sofa di depan mejanya.
Airin dengan berat hati berjalan ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di sana. Nampan yang sedari tadi ia peluk rasanya semakin mengeratkan pelukannya, menyalurkan rasa kekesalannya.
Tanpa terasa, sudut bibir Bian terangkat membentuk sebuah senyuman meskipun tak terlihat.
Bian akhirnya meneruskan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, sesekali melirik ke arah Airin yang sudah menahan kantuknya. Terlihat dari kepalanya yang sedari tadi akan oleng kemana-mana.
***
Jam sudah menunjukkan dua belas malam Bian baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Akhirnya selesai juga," ucap Bian seraya meregangkan ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk.
Mata Bian mengarah pada Airin yang sudah tergeletak di sofa, dengan posisi kaki yang menjuntai ke lantai. "Ck, di suruh nunggu malah ketiduran," gerutu Bian.
Bian berjalan mendekati Airin, rasanya ingin sekali membangunkannya seperti di pantry tadi, hingga membuatnya terlonjak kaget.
Tanpa sadar ada senyuman terbit di sudut bibir Bian mengingat kejadian tadi, hingga beberapa saat Bian menggelengkan kepalanya dan menghapus senyumnya. "Kenapa denganku?" monolognya.
Bian memutuskan berjalan ke arah kamar istirahatnya yang berada di sudut ruangan di balik rak tanpa berniat membangunkan Airin.
Bian segera merebahkan dirinya di ranjang, setelah selesai membersihkan dirinya. Memejamkan matanya saat rasa ngantuk sudah mulai mendera.
*
*
Hingga pagi menjelang, ternyata dua manusia itu masih terlelap.
Hingga seseorang merangsek masuk ke dalam ruangan Bian.
Klek.
"Astaga!"
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊