Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Amarah Bian


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan!" bentak seseorang.


Seseorang itu adalah Bian yang baru saja keluar dari lift bersama Miko, karena baru saja menyelesaikan rapat dadakan di lantai empat belas.


Bian dan Miko ternyata di suguhkan pemandangan Kania dan Alina yang sedang bertengkar dengan saling jambak. Dan seseorang lagi yang tergeletak di bawah.


Kania dan Alina segera berhenti dari pertengkarannya setelah mendengar suara seseorang yang mereka kenal.


Dengan perlahan dua gadis itu memutar tubuhnya pada pemilik suara yang berada di belakang mereka.


"T-tuan," cicit Alina dengan menundukkan kepalanya.


"K-kakak," ucap Kania gugup karena sekarang Bian sedang menatapnya tajam.


Deg.


Jantung Alina rasanya ingin lepas dari tempatnya, saat mendengar gadis yang bertengkar dengannya memanggil pemilik perusahaan dengan sebutan 'kakak'


"Miko!" panggil Bian.


"Ya, Tuan." sahut Miko.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit," titahnya pada Miko dengan matanya yang menatap Airin sudah tergeletak di lantai dengan dahi yang terluka karena vas bunga yang terjatuh tepat mengenai keningnya.


Kania segera mengarahkan pandanganya pada Airin, dan betapa terkejutnya baru menyadari jika Airin terluka karena memisahkan dirinya yang telah bertengkar.


"Kak Airin," pekik Kania dan menghampiri Miko yang mulai menggendong Airin untuk membawanya ke rumah sakit.


"Kania tetap di sini," sergah Bian, saat melihat Kania yang membuntuti Miko pergi.


Kaki Kania seolah berhenti secara otomatis saat mendengar suara dingin kakaknya.


Hingga beberapa saat di sinilah kedua gadis itu berada, di ruangan Bian. Mereka berdiri dengan menundukkan kepalanya dan dengan keadaan rambut yang acak-acakan seperti di tepa angin topan.


"Siapa yang akan menjelaskannya terlebih dahulu?" tanya Bian tegas. Meskipun Kania adalah adiknya, bukan berarti Bian akan langsung menyalahkan orang lain.


"K-kak, ini semua karena ondel-ondel ini. Dia bilang Kak Airin itu j*lang." jelas Kania dengan menatap Alina tidak suka.


Alina dengan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan, ini hanya salah faham," elaknya.


"Cih." Kania hanya berdecak melihat Alina yang tidak mau mengakui kesalahannya.


"Apa itu benar?" tanya Bian yang juga menatap tajam pada Alina.


"I-iya, Tuan." jawab Alina dengan menganggukkan kepalanya.


"Saya akan menyuruh orang untuk mengecek cctv, dan menyelidiki kasus ini. Saya tidak suka melihat kekerasan fisik di kantor ini," tegas Bian.


Kania dan Alina hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah mendengar ucapan Bian yang terdengar menakutkan.

__ADS_1


***


"Kak Airin, bagaimana keadaanya?" tanya Kania ketika Airin baru sadar dengan raut wajah khawatir.


Kania dan Bian memutuskan menyusul Miko ke rumah sakit untuk melihat keadaan Airin.


Airin yang baru saja sadar, langsung memegang keningnya yang terasa sedikit nyeri. "Ishh," desisnya.


Airin kemudian mengedarkan pandanganya, yang ternyata ada tiga orang di dalam ruangan itu.


"Nona," lirih Airin saat menyadari Kania yang duduk di kursi sebelah ranjang tempatnya berbaring. Airin segera bangun untuk mendudukkan dirinya.


"Kak Airin, kalau masih sakit tidak apa-apa tiduran saja." ucap Kania.


"Saya sudah merasa baikan, Nona." jelas Airin.


"Miko bagaimana keadaanya?" tanya Bian.


"Sudah tidak apa-apa, Tuan. Lukanya tadi mendapat tiga jahitan, dan Dokter tadi juga bilang kalau Nona Airin boleh pulang setelah siuman.


"Hm ... baiklah. Kalau begitu kau urus saja semuanya."


"Baik, Tuan." Miko segera pergi dari sana untuk mengurus semua administrasi.


Bian kemudian menatap dua gadis yang terlihat akrab itu.


***


Dari tadi Kania sudah membujuk Airin agar menginap di rumahnya, tetapi Airin tidak mau.


"Terima kasih, Non. Tapi saya lebih baik pulang ke kosan saja," Airin yang masih tidak mau.


Kania hanya mencebikkan bibirnya melihat Airin yang susah sekali untuk di bujuk.


Hingga beberapa saat, mobil yang di kendarai Bian sudah sampai di depan gerbang kos yang di tempati Airin.


"Terima kasih, Nona, Tuan." ucap Airin sebelum turun dari mobil.


"Iya Kak Airin," jawab Kania. Sedangkan Bian hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


Airin melangkahkan kakinya menuju kamar kos, setelah mobil Bian melaju pergi. Dari kejauhan Airin dapat melihat Lusi yang berdiri di depan kamarnya.


"Airin!" teriak Lusi saat Airin sudah dekat. "Loh ... kening lo kenapa?" Lusi yang sedikit terkejut melihat kening Airin yang tertempel perban.


"Nggak kenapa-napa, cuma tadi ada kecelakaan kecil," elak Airin. Airin tahu jika Lusi mengetahui kejadian yang sebenarnya kalau Alina penyebabnya, pasti di kantor besok bakalan ada kekacauan.


"Benarkah?" Lusi yang tidak percaya dengan jawaban Airin.


"B-benar, untuk apa aku berbohong!" jawab Airin yang sedikit gugup. "Ya sudah ayo kita masuk," Airin yang mencoba mengalihkan perhatian Lusi.

__ADS_1


Airin dengan cepat mengambil kunci pintu kamarnya di dalam tas.


Klek.


Ruangan yang masih gelap karena seharian yang di tinggal penghuninya pergi. "Aku mandi dulu ya, dah lengket," ujar Airin setelah menyalakan lampu kamar. Melempar tas pada pojokan kasur dan mengambil handuk juga piyama yang berada dalam lemari. Tanpa menunggu jawaban lusi Airin langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Lusi menunggu Airin dengan membaringkan tubuhnya pada kasur yang biasa di tempati Airin tidur.


"Lus, gimana Airin sudah pulang?" tanya Pras yang baru saja datang. Lusi memang tak menutup kembali pintu kamar Airin.


Lusi segera bangun dan mendudukkan dirinya saat mendengar suara Pras. "Hm ... barusan, tuh ... lagi mandi." sahut Lusi dengan mengedikkan dagunya ke arah kamar mandi Airin.


"Oh ...." sahut Pras, yang kemudian ikut duduk. Seperti biasa Pras selalu duduk di ambang pintu. "Oh, ya tadi aku belinya nasi goreng. Soalnya yang lainya sudah habis jam segini," ujar Pras sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul sembilan malam.


"Ya udah gak apa-apa," sahut Lusi. Tadi memang Lusi nitip makanan saat tau Pras mau cari makanan, sekalian juga untuk Airin. Lusi beranjak dari duduknya dan mengambil tiga sendok milik Airin. "Nih." Lusi menyerahkan sendok pada Paras.


"Nanti saja, kita makannya bareng-bareng."


"Oh, ok."


10 menit berlalu Airin sudah keluar dari kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual mandinya. Sudah tampak lebih segar dari pada sebelumnya.


"Loh, Pras!" sapa Airin yang melihat Pras sudah ada di kamarnya sedang mengobrol dengan Lusi.


Pras seketika mengarahkan pandanganya pada Airin. Alisnya saling bertautan saat pandanganya tertuju pada kening Airin. "Loh, kening kamu kenapa?"


"Oh, ini," Airin meraba keningnya yang terluka. "Tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil," ucap Airin dengan tersenyum kaku.


"Bagaimana bisa?"


"Mungkin, aku kurang berhati-hati."


Pras menganggukkan kepalanya mendengar alasan Airin. "Ya sudah, ayo kita makan," ajak Pras.


Akhirnya tiga bungkus nasi goreng itu menjadi makan malam mereka. Sederhana tapi penuh kehangatan.


*


*


Pagi hari, Airin memutuskan untuk naik angkot ke arah rumah mewah Bian. Airin sudah tau ancang-ancang tempat untuk dirinya turun ketika naik angkot, setelah semalam bertanya pada Pras.


Ketika memasuki rumah mewah itu. Ternyata penghuninya masih belum menampakkan diri, karena Airin memang berada di sana saat jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Airin," sapa Sofiana yang kebetulan baru keluar dari dapur. "Loh itu kening kamu kenapa?" tanya Sofiana yang sedikit terkejut.


...----------------...


Maaf tidak bisa up tiap hari. Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin 😊🙏.

__ADS_1


Semoga lancar puasanya


__ADS_2