Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
169. Pendaratan Lagi


__ADS_3

#####


Malam semakin larut, udara juga sangat dingin. Airin yang sudah merasa enakkan dia juga bisa tidur dengan lelap.


Sementara David masih setia membuka matanya, dia sama sekali belum mengantuk. Dia duduk di sebelah Airin menyandarkan punggungnya, satu tangan memegangi buku yang sedang dia baca, sementara satunya lagi terus mengusap-usap puncak kepala Airin dengan sangat pelan.


Akhir-akhir ini David memang susah untuk tidur, menjelang hari kelahiran anaknya dia lebih sering begadang dia lebih sering merasa khawatir apalagi di tambah dengan tubuh Airin yang tak begitu kuat.


David juga Airin pernah berunding untuk Airin melahirkan secara caesar tapi Airin menolaknya karena dia merasa masih mampu untuk melahirkan secara normal dan itu salah satu yang membuat David khawatir yang berlebihan.


David hanya tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Airin maupun anaknya. Dia mengharapkan semuanya baik-baik saja dan selamat juga sehat.


"Ekhmm..," Airin menggeliat. Wajahnya terlihat mengerut seperti menahan rasa sakit.


David langsung panik, dia menaruh bukunya di atas nakas dan langsung fokus kepada Airin.


"Sayang, Sayang, kamu kenapa?" tanya David sangat khawatir. Satu tangannya masih tetap di atas kepala Airin satunya lagi sibuk menyentuh bahu Airin dan kadang berpindah ke dagunya.


"Sakit," Airin meringis, sepertinya dia benar-benar merasa kesakitan. Tangannya terus menyentuh perutnya, dan kini matanya perlahan sudah mulai terbuka.


"Sayang, sakit." Airin terus meringis membuka David sangat bingung.


Apakah mungkin Airin akan melahirkan? Padahal harinya juga masih sisa tiga belas hari lagi. Tapi bisa jadi sih, itu kan hanya perkiraan saja bisa benar dan bisa saja salah.


"Kita ke rumah sakit sekarang," David menyibak selimut yang menutupi Airin dan David di buat terbelalak karena Airin kembali mengalami pendaratan lagi.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal 'azim, Sayang. Kita harus ke rumah sakit sekarang! " cepat David mengangkat tubuh Airin dan cepat mengajaknya keluar.


"Mi! Mi! " panggil David.


David terus melangkah saat dia sudah sampai ruang tengah Fani keluar dari kamar, dua berlari dengan sangat terkejut.


"Astaghfirullah, ini kenapa, David?! " tanya Fani.


"Airin kembali pendaratan, Mi. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga," David begitu panik, dia kembali berlari sembari menggendong Airin. Dia keluar di ikuti satu asisten rumah yang juga sudah datang.


Pintu mobil sudah di buka oleh asisten itu. Dan dengan cepat David menurunkan Airin di kursi penumpang di belakang. Tak lama Fani juga masuk sembari membawa tas, dia menemani Airin di belakang.


"Cepat, Nak!" Fani juga ikut panik dia terus menguatkan Airin, memintanya untuk mengatur nafas supaya lebih tenang.


Lima belas menit mobil David sudah sampai di rumah sakit, dengan cepat David memarkirkan mobilnya dan cepat keluar untuk menurunkan Airin.


Kedatangan mereka sudah langsung di sambut oleh dokter Zie yang memang sudah di kabari oleh David sebelum sampai. Dokter Zie pun juga ikutan panik saat melihat dengan jelas bagaimana keadaan Airin sekarang.


"Astaghfirullah, ini kenapa lagi, Dok? " tanya dokter Zie.


Mereka terus melangkah menuju tempat pemeriksaan di ruang dokter Zie, dan dengan cepat juga langsung mendapatkan pemeriksaan.


Airin masih terus meringis menahan sakit, setetes demi setetes air mata juga mulai jatuh dari sudut matanya yang indah.


"Sayang, sakit," ucapnya.

__ADS_1


Mungkin memang benar-benar sakit karena Airin benar-benar terlihat sangat kesakitan.


David semakin cemas dia terus menggenggam tangan Airin untuk bisa menguatkannya.


"Sabar yang, Sayang. Semua pasti bakal baik-baik saja," ucap David yang begitu cemas juga khawatir.


"Bagaimana, Zie? semua baik-baik saja kan? " tanya David setelah dokter Zie berhasil memeriksanya.


Dokter Zie tampak berpikir, dia ragu untuk mengatakannya tapi semua tetap harus di katakan bahwa semua tidak baik-baik saja.


Bukan hanya dokter Zie saja yang ada di sana, ada beberapa perawat juga yang membantunya.


"Dokter David, bisa bicara sebentar."


David pun mengangguk dia pamit pada Airin sebelum mengikuti dokter Zie. "Sayang, sebentar ya." pamit David dan Airin mengangguk pelan dan masih terus menahan rasa sakit.


David duduk berhadapan dengan dokter Zie, hanya ada meja menjadi pembatas mereka berdua.


"Bagaimana, Zie,? David sudah sangat tak sabar dia begitu mencemaskan keadaan Airin juga anaknya.


"Begini, Dok. Sebenarnya ini belum waktunya untuk dokter Airin melahirkan, tapi karena keadaannya tidak memungkinkan maka dokter Airin harus melahirkan hari ini juga. Keadaannya sangat lemah bahkan pergerakan dari bayinya juga mulai lemah, saya takut... " dokter Zie tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Lakukan apapun, Zie. Airin juga anaknya harus selamat. Jika itu memang yang terbaik saja akan mengizinkannya," jawab David.


"Baiklah, semuanya akan saya siapkan," jawab dokter Zie.

__ADS_1


#######


__ADS_2