
#####
Semua keluarga menunggu di depan ruang bersalin dengan sangat khawatir, semua begitu cemas. Keluarga Airin juga sudah berkumpul di sana semua menunggu Airin saat menjelang kelahiran anaknya.
Semua sangat khawatir, dokter Zie menyarankan untuk operasi tapi Airin tidak mau melakukan itu, dia sangat ingin melahirkan dengan normal karena dia merasa masih mampu untuk itu.
Airin akan ikhlas jika akan terjadi sesuatu padanya, dan Airin juga sudah mengatakan jika dia benar-benar tidak kuat maka operasi baru bisa di lakukan.
Sementara David tetap setia menemani Airin. Dia tak akan membiarkan Airin di dalam sendiri David ingin selalu menemaninya dia ingin bisa berjuang bersama meskipun dia hanya bisa menguatkannya.
Keadaan Airin memang semakin lemah, bahkan Airin juga mulai tidak kuat untuk mengejan tapi dia masih kekeuh kalau dia masih kuat. Airin juga tidak akan melakukan itu jika dia tau anaknya tidak baik-baik saja, Airin melakukan itu juga karena dokter Zie mengatakan kalau anaknya baik-baik saja setelah tadi sempat mendapatkan obat darinya.
"Sayang, kalau kamu tidak kuat...,"
"Aku masih kuat, Yang," jawab Airin menyela perkataan David yang belum selesai.
David benar-benar di bikin tak bisa berkutik apapun yang dia katakan Airin tetap kekeuh ingin melahirkan secara normal.
Ambil nafas, mengeluarkannya perlahan mengambilnya lagi Airin terus melakukan itu. Dengan cara itu bisa mengurangi rasa sakitnya meski tak seberapa.
David terus berdiri di samping Airin menggenggam tangan istrinya itu dengan sangat kuat.
__ADS_1
Lagi-lagi Airin kembali mengejan saat perutnya kembali merasa sakit dan seperti ada yang mendorong ingin keluar dari perutnya melewati jalannya yang begitu sempit.
Begitu besar kekuasaan dan kebesaran Allah, bahkan jalan yang begitu kecil juga sempit bisa mengeluarkan seorang bayi kecil. Dan itulah kebesaran Allah yang tak bisa di ragukan lagi. Padahal kalau di pikir dengan akal manusia saja itu tak akan mungkin bisa tapi itulah kekuasaan Allah SWT.
Dokter Zie juga terus memberikan arahan untuk Airin, dia sendiri yang menangani kelahiran anaknya dan hanya di bantu beberapa perawat saja.
Airin kembali mengejan, dan saat itu tangannya menggenggam erat tangan David, bahkan satu tangan sampai melukai tangan David karena kuku-kukunya. Tapi tak masalah, David bisa menahannya karena dia percaya sakitnya tak seberapa daripada sakit yang Airin derita.
"Akkk...!" Airin berteriak begitu kuat, berharap dengan berteriak akan menghasilkan tenaga untuknya.
Semakin lama keadaan Airin semakin lemah, wajahnya terlihat semakin pucat nafasnya juga terus memburu begitu cepat.
"𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢, " batin Airin yang benar-benar sudah pasrah.
Airin hanya menggeleng, tersenyum kecil sebagai tanda menanggapinya. Airin masih kekeuh meskipun dia sudah tak kuat lagi.
"Sayang, nurut ya. Jangan buat kami semua khawatir," David sudah sangat takut, suami mana yang tak khawatir melihat istrinya yang seperti itu, terlihat begitu tersiksa.
Airin kembali mengejan, dia berusaha dengan keras dia yakin dia pasti bisa dan dia akan buktikan semua itu.
"Akkkk...!! "
__ADS_1
"Alhamdulillah...! " seru dokter Zie. Akhirnya Airin bisa mengeluarkan bayinya.
Tapi bayi kecil itu diam, dia sama sekali tidak menangis setelah lahir ke dunia. David senang tapi dia penasaran karena anaknya tidak bersuara seperti bayi pada umumnya.
Dan disaat bersamaan bayi itu keluar Airin langsung tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga.
"Zie," David sudah ketakutan karena anaknya tak kunjung bersuara, butiran bening sudah merembes begitu saja dari pelupuk matanya. David terus fokus melihat Zie tak dan lupa akan keadaan Airin.
Jelas bayi Airin tidak akan bersuara karena lehernya terlilit dengan tali pusarnya dan itulah yang membuatnya tak bisa bersuara.
Dokter Zie masih fokus dengan bayi kecil itu, dia tau bayi itu baik-baik saja. Cepat dokter Zie memotong tali pusarnya, dan menyingkirkan yang melilit di lehernya dan setelah itu baru bayi mungil itu mulai bersuara dengan pelan hingga akhirnya terdengar tangis yang begitu keras.
Oe... Oe.... Oe...
"Alhamdulillah," puji. Syukur David panjatkan setelah mendengar suara bayinya. Dia begitu bahagia.
"Sayang, anak kita baik-baik sa..., Yang! Yang! Zie, ada aspal dengan Airin, Zie. Sayang..., sayang... " David terus menepuk pipi Airin namun tetap saja talk dapat membangunkannya.
David begitu panik, dia sangat takut. Dia ingin kehilangan Airin.
"Sayang, Bangun Sayang." David semakin panik.
__ADS_1
########