
Alina yang datang pagi-pagi, heran saat melihat loker milik Airin yang terbuka dan mendapati tasnya berada di sana. Tapi Alina mengedarkan pandanganya tidak mendapati Airin di pantry itu.
"Kemana anak itu! Atau jangan-jangan --" Alina tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Karena Alina berfikir kalau Airin berada di ruangan Bian. Padahal sebelumnya Alina sudah mengatakan pada Airin kalau yang boleh membersihkan ruangan pimpinan hanyalah Alina, dan Airin hanya membuat kopi untuk Bian, tidak lebih dari itu.
Dengan langkah cepat, Alina berjalan menuju ke ruangan Bian.
Klek.
Alina begitu saja membuka pintu ruangan Bian, karena sudah tahu pasti Bian belum datang di jam segini.
"Astaga!" pekik Alina saat mendapati Airin tertidur di sofa ruangan Bian. Melihat itu semakin membuat Alina geram.
Alina berjalan mendekati Airin yang masih tertidur pulas, dengan cepat Alina menarik rambut Airin. "Berani sekali lo tidur di ruangan Pak Bian, huh!"
Airin sontak saja tersentak kaget saat merasakan sakit ada seseorang yang menjambak rambutnya.
"Alina, apa yang kamu lakukan!" Teriak Airin, sembari memegang tangan Alina yang masih mencengkeram rambutnya.
"Lo masih tanya! Lo itu udah berani tidur di ruangan Pak Bian," sahut Alina dengan mendorong tubuh Airin.
Untung Airin masih terjatuh di sofa yang ia tempati tadi. Airin mengedarkan pandanganya, dan mengingat kejadian tadi malam saat Bian menyuruhnya untuk menunggu Bian menyelesaikan pekerjaan.
"Itu karena semalam aku ketiduran," ujar Airin.
Mata Alina membulat saat mendengarkan ucapan Airin. "Oh ... jadi lo sengaja ingin menggoda Pak Bian! Dasar perempuan murah*n," hina Alina.
Airin yang mendengar Alina menghinanya seketika berdiri dari duduknya. "Aku bukan wanita seperti itu," ucap Airin dengan meninggikan suaranya.
"Dasar, kalau jala*g ya jala*g saja," cibir Alina dengan tersenyum sinis.
Airin sangat geram dengan ucapan Alina, yang sedari tadi mmenyebutnya dengan sebutan wanita jala*g. "Biasanya, orang yang mengatakan seperti itu! Dialah sendiri yang seperti itu," sindir Airin.
Alina merasa panas saat Airin menyindirnya seperti itu.
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Airin yang mulus, sehingga meninggalkan bekas merah telapak tangan.
"Ada apa ini?" Ucap seseorang yang berdiri di ambang pintu ruangan Bian. Wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik di usianya yang tidak lagi mudah. Sofiana, mama Bian.
Sontak saja kedua pasang mata itu beralih pada Sofiana.
Alina langsung menghampiri Sofiana. "Nyonya, pegawai baru ini mencoba menggoda Tuan Bian," adu Alina.
Sedangkan Airin hanya menundukkan kepalanya, dengan meremas kedua tangannya yang saling bertautan.
__ADS_1
Sofiana mengarahkan pandanganya pada Airin yang hanya diam, tidak melakukan pembelaan. Sofiana juga melihat rambut Airin yang berantakan karena jambakan Alina tadi, dan pipi yang sekarang sudah sedikit membengkak bekas tamparan Alina.
"Di mana Bian?" tanya Sofiana pada keduanya.
"Saya baru datang nyonya, jadi tidak melihat Tuan Bian. Tapi tadi saya melihat pegawai baru ini tidur di ruangan Tuan Bian," jelas Alina dengan tersenyum.
"Apa kamu tahu di mana Bian?" tanya Sofiana pada Airin.
"Saya tidak tahu nyonya! Karena semalam waktu Tuan Bian menyuruh saya untuk menunggunya bekerja, saya tidak sengaja tertidur," jawab lirih Airin yang tidak berani melihat wajah Sofiana.
"Pasti itu hanya alasannya saja nyonya," sela Alina.
"Apa kamu tidak tahu cara sopan santun saat berbicara, sehingga bisa menyela pembicaraan seseorang seenaknya," ucap Sofiana tegas dengan menatap Alina.
Alina yang mendengar suara Sofiana tak bersahabat dengannya seketika diam membisu. Padahal dirinya tadi berniat memanasi Sofiana agar bisa memecat Airin. Tapi nyatanya sekarang usahanya gagal.
"Kalian diam di sini," perintah Sofiana dan berjalan ke arah kamar istirahat Bian.
Sudah beberapa kali Sofiana mengetuk tapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Hingga terpaksa Sofiana langsung membukanya dan masuk tanpa permisi.
"Ya ampun, Bian!!" teriak Sofiana melihat putra-nya yang masih tertidur pulas dengan memeluk boneka beruang.
Bian yang mendengar suara teriakan mama-nya seketika terbangun dari tidur nyenyaknya. "Mama, kenapa ada di sini?" Tanya Bian dengan suara serak khas bangun tidur.
Sofiana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bian yang tidak berubah. Meskipun Bian terlihat arogan nyatanya Bian tidak bisa tidur jika tidak memegang telinga seseorang. Mungkin dulu saat kecil masih ada Sofiana yang menemaninya tidur, tapi lambat laun bertambahnya usia Bian. Sofiana menyuruhnya untuk tidur sendiri.
Bian akhirnya mempunyai ide untuk membeli boneka yang di taruh nya di kantor dan di rumah.
Suatu hari pernah sekretarisnya Riri memergoki boneka yang berada di kamar istirahat Bian, dan Bian berdalih bahwa itu adalah boneka untuk adiknya.
"Bian ini sudah siang, dan kamu belum bangun," ucap Sofiana.
Bian memeriksa jam yang berada di ponselnya, ternyata sudah pukul setengah delapan pagi. "Bian tidur larut malam ma," jelas Bian dan beranjak dari ranjang untuk menuju kamar mandi.
" Bian, kamu tertidur seperti orang pingsan. Sampai seseorang berkelahi di kamu tidak tahu," ujar Sofiana.
Ucapan Sofiana sontak membuat kaki Bian berhenti saat berada di ambang pintu kamar mandi. Bian membalikkan tubuhnya. "Maksud mama?" tanya Bian yang masih tidak paham.
"Dua office girl sedang berkelahi di ruangan mu," jelas Sofiana lagi.
Bian terdiam sebentar, hingga beberapa saat dia mengingat bahwa semalam dirinya membiarkan office girl itu tertidur di sofa ruangannya. Tapi hanya satu, kenapa sekarang ada dua!
***
Sekarang dua office girl itu sudah berdiri di hadapan Bian yang sudah rapi dengan setelan jas mahalnya.
__ADS_1
Keduanya hanya menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatap Bian yang sedang menatap mereka tajam.
Bian dapat melihat penampilan Airin yang acak-acakan dan Alina yang seperti biasanya selalu menor.
Sedangkan Sofiana hanya duduk menyaksikan Bian menyidang mereka berdua. Tapi perhatian Sofiana tertuju pada Airin, karena jarang sekali Bian membiarkan seseorang untuk berlama-lama di dalam ruangannya bahkan Riri dan Miko asistennya.
"Jadi apa yang kalian lakukan di ruangan saya tadi?" tanya Bian dingin.
"Saya hanya membangunkan Airin yang tertidur di ruangan anda tuan," jawab Alina pelan.
Sofiana hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis mendengar jawaban Alina. Padahal tadi bukan itu yang dia ucapkan padanya. Sofiana sendiri datang pagi-pagi ke kantor karena khawatir putranya yang semalam tidak pulang dan tidak memberi kabar, tapi dirinya harus di suguhkan pemandangan yang tidak biasa.
"Kalau kamu?" tanya Bian pada Airin.
"Saya memang ketiduran dari semalam, karena tuan yang menyuruh saya untuk menunggu anda menyelesaikan pekerjaan," cicit Airin.
Bian membulatkan matanya saat mendengar jawaban Airin. Sedangkan Sofiana mengulum bibirnya.
"Bian, Mama rasa dua office girl ini tidak akan cocok jika harus bekerja sama. Lebih baik kamu pecat salah satunya," sahut Sofiana.
Bian seketika mengalihkan mengalihkan pandanganya pada Sofiana. Tumben sekali mamahnya itu ikut campur masalah pemecatan karyawan.
Alina sedikit tersenyum mendengar ucapan Sofiana, karena dirinya yakin kalau dirinya yang akan di pertahankan Bian. Karena Alina sudah lebih lama bekerja dari pada Airin.
Sedangkan Airin seketika meremas ujung seragamnya karena merasa takut jika dirinya di pecat. Di mana dia akan mencari pekerjaan lagi di kota yang baru baginya.
Sofiana yang melihat putranya hanya diam saja menjadi gemas sendiri. "Kamu," panggil Sofiana pada Alina.
Alina langsung beralih menghadap Sofiana yang duduk di sofa.
"Kamu tetap kerja di sini," ucap Sofiana. Seketika senyuman mengembang di bibir Alina penuh kemenangan.
Sedangkan Airin matanya sudah berkaca-kaca, memikirkan bagaimana nasib selanjutnya.
Bian ingin mengatakan sesuatu saat mendengar keputusan Sofiana, tapi terhenti saat Sofiana memanggil Airin.
"Dan kamu," panggil Sofiana pada Airin.
Airin juga seketika menghadap Sofiana. "Kamu mulai sekarang bekerja denganku," ucap Sofiana dan beranjak pergi dari sana.
"Huh," Airin masih bingung maksud Sofiana tadi.
Sedangkan Alina mengepalkan tanganya saat tau Airin akan bekerja lebih dekat dengan keluaga Bian.
...----------------...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminn 😊🙏...