
______
Tak percaya bagi Yohan kalau saudara satu-satunya itu akan berpulang secepat ini. Bahkan dia tak menyangka kalau meninggalnya juga dengan cara yang seperti sekarang.
Langkah Yohan dan Fani begitu pelan, mereka baru memasuki rumah David juga Airin. Setelah melayat mereka memang putuskan akan mampir lebih dulu karena kebetulan melewati.
David juga Airin juga tidak percaya sih kenapa harus dengan jalan yang seperti ini, tapi ini semuanya adalah takdir jadi mau bagaimanapun juga akan tetap terjadi.
Mereka berempat duduk di kursi di ruang tengah sekarang, setelah hampir setengah hari melayat rasa lelah pun mereka rasakan.
Rasa kesal dari Yohan memang belum hilang semuanya, namun dia tak bisa melupakan juga kebaikan Arman saat mereka kecil dan Arman yang selalu menjaganya dan berusaha untuk membahagiakannya.
"Bi, tolong bikinin minum ya," perintah Airin pada pembantunya.
"Baik, Bu," jawabnya dan kembali masuk lagi ke dapur.
Yohan masih saja terdiam, jika mengingat ulang masa kecil mereka yang begitu manis dia akan kembali sedih, namun jika mengingat kejadian akhir-akhir ini dia begitu kesal.
"Sudah lah, Pi, jangan terlalu sedih. Mas Arman sudah tenang di sana," ucap Fani menghibur Yohan.
"Iya, Pi. Papi tidak usah sedih lagi seperti itu, kalau Papi sedih Om Arman tidak akan tenang di alam sana, Pi," imbuh David.
"Hem, " Yohan mengangguk semua yang dikatakan memang benar, tapi dia juga tak bisa secepat itu untuk tidak bersedih dan melupakan semuanya, bagaimanapun juga saudara tetaplah saudara. Saat yang satunya pergi yang satu pasti akan sangat berduka.
Pembantu yang tadi kembali datang dengan nampan di tangannya, dan satu pembantu lagi juga datang di belakangnya dengan membawa dua piring yang ada kue di dalamnya.
Satu persatu gelas di turunkan oleh pembantu hingga akhirnya semua sudah ada di atas meja, begitu juga dengan piring itu.
__ADS_1
"Silahkan di minum, Pak, Bu," ucapnya dengan begitu sopan.
"Terima kasih, Bi," jawab Fani dengan senyum ramahnya yang tak pernah ketinggalan.
"Sama-sama, Bu," pembantu itu beranjak lalu kembali masuk ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai.
"Di minum, Mi, Pi." ucap Airin.
Fani juga Yohan langsung mengangguk, dengan teh hangat itu mungkin bisa sedikit menenangkan hati mereka.
"Sebaiknya, Papi dan Mami menginap saja di sini. Kalian pasti sangat lelah," ucap Airin setelah menjauhkan cangkir dari mulutnya.
"Tidak, Sayang. Kami harus tetap pulang. Besok pagi-pagi sekali Papi harus bertugas, takut nggak nyampe waktunya," jawab Fani mewakili.
"Benar, besok pagi Papi ada tugas jadi lain kali saja kami menginapnya," imbuh Yohan.
______
Setelah Yohan juga Fani pulang Airin juga David baru bisa masuk ke dalam kamarnya, mereka kini sudah selesai bersih-bersih dan mengganti baju rumahan.
Setiap berada di dalam kamar barulah Airin bisa leluasa untuk melepas hijabnya, dan rambutnya yang panjang selalu dia biarkan tergerai indah karena David sangat menyukainya yang seperti itu.
"Yank, kenapa sih kamu selalu saja membuat ku kesemsem, kamu begitu cantik hingga membuatku tak mau berkedip sama sekali saat melihatmu," ucap David yang sepertinya mulai dengan kata-kata nya yang sempat vakum .
"Sudah deh jangan mulai lagi, Yank. Baru saja beberapa hari sadar sekarang sudah mulai kumat lagi," jawab Airin yang geleng-geleng kepala.
"Apa sih, Yank. Aku itu sadar seratus persen sejak lahir,"
__ADS_1
"Benarkah sadar sejak lahir? aku meragukan itu," jelaslah Airin meragukan itu, berapa tahun saja David lupa padanya apa itu bisa dikatakan sadar sejak lahir, hadeuh.
"Iya, hanya sekali itu saja aku lupa. Dan sekarang tidak akan lagi." Jawabnya.
David merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Airin sebagai bantalnya. Dia sangat menyukai posisi itu, dan setelah itu dia akan memainkan rambut Airin yang panjang.
"Yank, apa perlu kita mencoba program bayi tabung?" tanya Airin tiba-tiba, dan terdengar ragu mengatakannya.
"Apakah itu harus? apa tidak sebaiknya kita jalani semua ini dulu, jika bisa cara normal kenapa harus bayi tabung?" jawab David yang sepertinya tidak setuju dengan ide Airin.
"Tapi...?"
"Ssttt..., kita tunggu beberapa bulan lagi, jika masih belum bisa juga baru kita lakukan program itu. Bukankah kita sudah terus berusaha, Allah pasti akan memberikan hasilnya secepatnya," jawab David.
"Hem..," kalah sudah kalau David sudah seperti itu. Mungkin yang di katakan David memang benar.
____#######______
Hay hay semua reader's tersayang... Jangan lupa mampir ke karya author yang masih anget yuk.. Di jamin menguras emosi, juga yang pasti banyak pelajarannya juga..
Jangan lupa masukan favorit, kasih like, komen panjangnya, juga vote dan gift nya ya...
Selamat menikmati karya baru, semoga kalian juga suka.
😘😘😘😘😘😘
__ADS_1