
Begitu Airin sampai di apartemen, ia segera menata barang belanjaannya. Setelah selesai ia memperhatikan ke seluruh ruangan apartemen yang masih bersih, hingga ia memutuskan untuk pulang saja.
Pekerjaan yang di berikan oleh Riko memang benar-benar membuatnya hemat waktu, tidak seperti orang bekerja pada umumnya.
*
*
Hari berlalu begitu saja.
Keadaan Bian semakin hari semakin kacau, hati dan jiwa rasanya ikut pergi bersama Alda. Wanita yang begitu di cintai nya, tapi kini sudah pergi meninggalkannya.
"Bian, sampai kapan kamu seperti ini terus?"
Sofiana tak habis pikir, setiap malam ia mendapati putranya pulang dalam keadaan sempoyongan. Tentu saja dengan bau alkohol yang begitu menyengat.
Sedangkan putranya itu sudah terlelap dalam mabuk nya.
Ketika pagi tiba, Bian perlahan membuka matanya. Hingga kemudian rasa pening lebih mendominasi, di susul perutnya yang bergejolak.
__ADS_1
Cepat-cepat ia bangun lalu menuju kamar mandi, memuntahkan semua isi perut nya.
Hal yang selalu terjadi padanya, sejak ia mulai mencintai club malam.
Di meja makan terlihat Kania yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, menikmati sarapan bersama Sofiana.
"Kak Bian mabuk lagi?" Kania tidak melihat adanya Bian di meja makan.
Dan sebelumnya jika seperti itu kakaknya pasti semalam pulang dalam keadaan mabuk.
"Kamu tau sendiri Kakak kamu itu bagaimana?" ujar Sofiana.
Kania menatap lekat Kakanya, ia hanya heran. Kakaknya tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai pemilik perusahaan, tapi setiap malam pulang dalam kondisi yang berbeda.
"Ada apa?" Bian mengetahui adik perempuannya sedang menatap nya.
"Tidak," sahut Kania cepat. Ia seperti seseorang yang kepergok mencuri. "Ya udah Ma, Kania berangkat dulu." Setelah berpamitan kepada Mama dan Kakak nya ia segera berlalu dari sana.
Sekarang hanya tinggal ibu dan putranya di meja makan.
__ADS_1
"Bian, Mama harap malam nanti kamu tidak akan pulang dalam keadaan mabuk. Semua itu tidak baik untuk kesehatan kamu." Sofiana menasihati. Tapi Bian hanya diam saja. "Jika ada masalah, kamu tidak harus melupakannya dengan cara mabuk-mabukan."
Sudah beberapa kali Bian mendengarkan Mama nya bicara seperti itu, tapi ia merasa dengan cara seperti itulah ia bisa melupakan sakit hatinya.
Di lain tempat, Airin sudah berada di apartemen Riko. Ia seperti biasa selalu memastikan jika apartemen itu selalu terlihat rapi.
Ia terkadang heran, apartemen sebagus itu hanya di gunakan untuk tidur beberapa kali saja oleh pemiliknya. Karena pemiliknya lebih sering tidur di kantor.
"Andai saja jika aku pemilik apartemen ini, pasti sudah aku sewakan. Lumayan bisa jadi cuan, dari pada tidak di tempati." monolog nya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia membuka jendela yang terhubung ke balkon. Membiarkan udara dari luar masuk ke dalam apartemen.
Ia sendiri kemudian duduk di kursi yang berada di balkon, membiarkan hangatnya sinar matahari menerpa dirinya. Dari tempatnya ia bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi apartemen.
Di saat seperti inilah ia selalu teringat keberadaan keluarganya yang sama sekali tidak mengingatnya. Ia hanya tersenyum kecut mengingat itu.
"Semoga Ayah sama Ibu baik-baik saja di sana." Bagaimana pun keadaannya ia masih berharap yang terbaik bagi kedua orang tuannya.
...----------------...
__ADS_1
...Dah lama banget gengs nggak nerusin cerita ini, jadi kalau ada kesalahan nama pada karakter tolong di koreksi ya ðŸ¤. Tenang aja othor mau nerima kritik dan saran kok. Asal jangan julid ya ðŸ¤...