Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Undangan


__ADS_3

Sudah beberapa bulan Airin bekerja menjadi pengasuh Kania, dan ia mulai terbiasa dengan sifat cerewet gadis itu. Bagi Airin cerewetnya Kania adalah salah satu hiburan baginya.


Bagi Airin selama ia bekerja, pekerjaan inilah yang paling membuatnya nyaman. Selain tidak begitu menguras tenaganya, Sofiana selalu majikan juga begitu baik padanya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak betah bekerja dengannya.


Sebagian dari gajinya pun ia tabung, sebenarnya Airin masih mengingat keberadaan orang tuanya. Dan uang itu memang Airin simpan untuk ia kirim pada mereka, tapi apa di kata di rumahnya tidak ada yang mempunyai ATM.


No telp orang rumah pun sudah tidak ada yang bisa di hubungi, mau ia kirim lewat pos, ia takut jika bukan kedua orang tuanya. Karena jika kakak atau adiknya yang menerima, bisa di pastikan uang itu tidak akan sampai kepada orang tuanya. Mengingat pertengkaran terakhir mereka.


Jadi Airin tetap menyimpan uang itu tanpa ia kirim ke rumah, mungkin suatu saat ia akan mengunjungi orang tuanya.


*


*


Sore hari katika ia pulang kerja, ternyata ia bertemu lagi dengan Alda. Setelah sekian lama ia tidak bertemu kembali.


"Airin aku minta no HP kamu, waktu itu aku lupa tidak memintanya." Alda memberikan ponselnya kepada Airin, setelah itu ia fokus kembali mengemudikan mobilnya.


"Kenapa tidak main saja ke kosan, kamu kan udah tau." sahut Airin sembari mengotak atik ponsel Alda untuk menyimpan no nya. Kemudian ia mengembalikannya kembali. "Ini."


Alda hanya tertawa mendengar itu. "Maaf aku tidak sempat." jawabnya. "Oh ya kamu besok ada acara?"


Airin menggelengkan kepalanya. Karena meskipun besok adalah hari libur kerjanya, tapi ia seperti biasa akan menghabiskan waktunya dalam kamar kos. "Tidak, memangnya kenapa?"


"Di rumahku besok ada acara, kamu datang ya?" pinta Alda.


"Acara apa?"


"Tiga bulanan."


Airin yang mendengarnya sedikit terkejut. "Siapa yang hamil?"


"Tentu saja aku, memangnya siapa lagi!" Alda tertawa mendengar pertanyaan dari temannya itu.


"Benarkah!" Airin sedikit tidak percaya, karena jika di lihat penampilan Alda tidak seperti orang hamil. Apalagi tubuhnya yang masih tetap langsing dan perut yang masih terlihat rata.


"Iya," Alda semakin tertawa melihat ekspresi Airin yang tidak percaya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan datang besok." Airin yang menyanggupi.


"Ok, nanti akan aku kirimkan alamat rumahku padamu. Oh ya sekalian aku kenalkan kepada suamiku, kamu kan belum pernah bertemu dengannya." ujar Alda.


Malam hari telah tiba, setelah Airin selesai membersihkan diri ia melihat ponselnya yang di rasa tadi ada pesan masuk ketika ia mandi.


Dan benar saja, pesan dari no baru yang ternyata dari Alda mengirimkan alamat rumahnya.


Pagi harinya Airin sudah terlihat rapi, ia bersiap akan pergi ke rumah Alda.


"Airi lo mau kemana?" Lusi terlihat heran melihat Airin sudah rapi sepagi ini. Biasanya temannya itu hanya menikmati empuknya kasur jika sedang libur.


"Aku mau pergi sebentar, mau menghadiri tiga bulanan temanku." jawab Airin sembari mengunci pintu kamarnya. "Ya sudah aku pergi dulu, ojeknya sudah nunggu di depan."


"Iya, hati-hati."


Airin memutuskan menggunakan ojek online. Meskipun ia sudah beberapa bulan di kota, tapi ia belum begitu hafal arah jalan. Yang ia tau hanya jalan menuju tempat kerjanya, selebihnya ia akan meminta tolong pada Pras jika ingin pergi ke tempat lain.


Tidak membutuhkan waktu lama, ojek yang di tumpagi Airin sudah berhenti di depan gerbang rumah mewah.


"Sudah sampai neng," kata tukang ojek, sembari mematikan mesin motornya.


Airin mengedarkan pandangannya, ternyata rumah Alda berada di kawasan perumahan elit. Tidak heran jika Alda tinggal di kawasan elit, karena Alda sendiri anak orang kaya, dan pastinya suaminya juga orang kaya.


"Airin!" panggil Alda dari halaman rumahnya. Di rumah Alda masih belum ada tamu undangan yang hadir, karena Airin sendiri memang di minta Alda untuk datang lebih awal untuk menemaninya.


Airin tersenyum melihat Alda yang menyambutnya. Meskipun ia dan Alda baru dua kali bertemu, nyatanya mereka langsung akrab. Apalagi mengingat jika pernah berteman waktu sekolah SD.


"Ayo masuk," Alda menggandeng tangan Airin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah terlihat ada seorang pria tinggi, dan tampan yang menggunakan warna baju senada dengan Alda. Angga.


"Mas," panggil Alda pada suaminya. "Kenalin ini Airin temen aku yang waktu itu aku ceritakan." Alda mengenalkan Airin.


Angga tersenyum ramah pada Airin, ia mengulurkan tangannya. "Angga."


Airin juga menjabat tangan Angga. "Airin."

__ADS_1


Sungguh beruntung Alda mendapatkan suami seperti Angga, batin Airin. Karena terlihat jelas jika dari mata Angga yang menatap penuh cinta pada Alda.


Hingga tak lama, terdengar suara seseorang yang baru datang. Pasangan paru baya yang masih terlihat awet muda. Orang tua Alda.


"Pa, Ma." Alda yang melihat kedatangan orang tuanya. Ia dan Angga langsung mendekat pada mereka dan memeluknya bergantian.


"Sayang selamat ya!" Mama Alda yang terharu. Ia merasa begitu bahagia menyambut kehadiran calon cucunya.


"Terima kasih Ma," sahut Alda dengan tersenyum. "Oh ya, Ma Pa, ada Airin juga di sini. Teman Alda dulu waktu SD." Alda memberitahunya dengan antusias.


Mama dan Papa Alda mencoba mengingat sebentar, hingga akhirnya mereka mengingatnya. Karena rumah Airin yang cuma berbeda satu rt dengan rumah Alda dulu.


Airin kemudian mendekat ke arah mereka. Ia kemudian mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Apa kabar?" tanya mama Alda, ia juga senang melihat Airin berada di sana. Begitupun Papa Alda.


"Baik Tante," jawab Airin.


"Airin sedang merantau Ma," jelas Alda. "Untuk bekerja."


Airin hanya tersenyum mendengar itu.


"Wah, berarti kapan-kapan kamu juga harus main ke rumah tante!" pinta Mama Alda.


"Iya tante lain waktu," sahut Airin.


Hingga tak lama, seseorang yang mengatur acara menghampiri Alda untuk menyuruhnya bersiap-siap.


Alda mengajak Airin untuk menemaninya bersiap di kamar. Sebenarnya Alda hanya memperbaiki rasanya saja, karena acara yang akan berlangsung hanya di hadiri beberapa orang.


"Kenapa tidak di rayakan pas tujuh bulan saja?" tanya Airin. Karena sepengetahuannya biasanya acara untuk orang hamil kalau tidak empat bulan ya tujuh bulan.


"Ini semua ide Mama, katanya pas tujuh bulan mau di rayain lagi." cetus Alda. Karena memang Mama Alda yang tidak sabar untuk merayakan kehamilan Alda setelah tahu putrinya itu hamil.


"Itu tandanya kamu beruntung, orang tua kamu begitu sayang sama kamu. Dan terlihat suami kamu juga begitu sayang sama kamu." ujar Airin.


Alda tersenyum tipis mendengar ucapan Airin. "Iya, Mas Angga memang begitu menyayangiku." Tapi tidak dengan sorot matanya yang terlihat sedikit sendu.

__ADS_1


...----------------...


...Habis ini mulai ada konflik ya, untuk di cerita Airin ini aku sedikit slow up karena memang masih mengutamakan Mommy Jessy. Tapi selain itu kisah-kisah di cerita Airin ini aku ambil dari beberapa kisah nyata. Selain kisah ku sendiri, juga kisah seseorang (maaf nggak bisa sebutin ya 🙏☺). Jadi masih menata alurnya. 80% kisah nyata, 20 % kehaluan othor. ...


__ADS_2