Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Keputusan


__ADS_3

Sungguh sakit hati Airin kali ini, mungkin jika orang lain yang mengatakannya, Airin tak akan peduli. Tapi ini adalah keluarganya sendiri.


Airin menepuk dadanya pelan, berharap rasa sesak di dadanya akan berkurang.


Entah apa yang ada di pikiran keluarganya, hingga tega mengatakan itu kepada Airin.


Airin seketika mengingat tawaran Lusi untuk bekerja di Jakarta, meskipun dia tidak punya pengalaman pergi jauh. Setidaknya dia masih mempunyai Lusi yang bisa dia ajak berunding.


Lusi memang lebih berpengalaman jika berpergian jarak jauh, karena sudah terbiasa bekerja berpindah-pindah tempat.


"Mungkin ini memang yang terbaik," gumam Airin.


Airin seketika meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur, mengotak atiknya sebentar, hingga nama Lusi tertera di layar ponsel Airin saat melakukan panggilan telfon.


"Halo Lus!" Saat sambungan telfon tersambung.


("")


"Gue dah putusin mau ke Jakarta."


("")


"Nanti jemput gue ya ...!"


("")


"Jam 23.00 aja," ucap Airin sambil melirik jam dinding yang berada di kamarnya.


("")


"Ok."


Tut.


Airin menghembuskan nafasnya kasar setelah mengakhiri percakapannya dengan Lusi.


"Mungkin, ini sudah di ambang batas kesabaran Gue," ucap Airin, di iringi dengan air mata-nya yang kembali menetes di pipi-nya.


Airin mengambil tas ransel-nya yang berada di atas lemari, dengan segera Airin memasukkan baju-bajunya. Tidak lupa Airin membawa berkas-berkas penting miliknya untuk keperluan melamar pekerjaan.


Tekatnya sudah bulat, untuk apa bertahan dengan keluarganya yang hanya bisa memberinya rasa sakit. Meskipun masih ada sedikit rasa kasih sayang untuk keluarganya.


Ponsel Airin berdering, ada panggilan masuk dari Lusi.


"Halo!"


("")


"Iya, gue keluar sekarang."


Tut.


Ternyata Lusi sudah tiba, berada tidak jauh dari rumah Airin.


Airin keluar dari kamar, tampak sepi. Sepertinya orang tuanya sudah tidur, hanya terlihat Metta dan suaminya yang masih terjaga di ruang tamu karena bekerja.


Airin berjalan melewati Metta dan suaminya. Langkah Airin berhenti saat suara Metta menginterupsinya.


"Mau pergi dari rumah lo? Bagus deh kalau gitu!" Cibir Metta sinis.


Airin menghembuskan nafasnya kasar, lalu berbalik menghadap kakaknya yang sedang duduk di lantai. "Semoga hidup lo akan lebih baik kak, setelah gue pergi," ucap Airin, kemudian berlalu pergi dari sana.


Metta tidak menanggapi ucapan Airin, bahkan tidak ada niatan untuk mencegah adiknya itu untuk pergi.

__ADS_1


"Udah yakin lo?" Tanya Lusi saat Airin sudah menghampirinya.


Airin menganggukkan kepalanya. "Udah, yakin malahan."


"Ya udah ayok," ajak Lusi.


Airin segera naik ke sepeda motor matic Lusi, dan segera melaju ke arah kos'an Lusi. Karena besok pagi mereka akan berangkat ke Jakarta.


Hingga beberapa saat Lusi dan Airin sudah tiba kos'an yang selama ini di tempati Lusi selama bekerja di pabrik sepatu. Ruangan yang sama dengan kamar Airin di rumah 3x3 meter.


"Lo, istirahat dulu deh. Gue mau mandi dulu, tadi sore belum sempat mandi gara-gara ketiduran," jelas Lusi seraya mengambil handuk dan baju ganti.


"Pantes, tadi ada bau-bau asem waktu lo bonceng," cibir Airin sambil mendudukkan bokongnya di kasur Lusi yang masih muat untuk dua orang.


"Sialan lo," umpat Lusi dan berjalan keluar menuju kamar mandi. Kos'an Lusi memang tidak ada kamar mandi dalam, karena Lusi memilih sewa harga kos yang murah.


Airin memang sudah sering bermain di kos'an Lusi saat kerja-nya tidak ada jam lembur.


*


*


Pagi telah menyapa, Airin dan Lusi sudah bersiap untuk pergi.


Airin sejenak melihat ponsel, berharap keluarganya menghubungi untuk mengatakan sesuatu.


Tapi harapan tinggalah harapan, nyatanya Airin tidak menemukan notifikasi apapun dari keluarganya. Padahal sudah pasti, Metta akan memberitahu kedua orang tuanya.


"Rin, kita cari bubur ayam dulu ya! Buat sarapan," ujar Lusi, yang sudah bersiap dangan tas ransel yang berada di punggungnya.


Airin tersadar dari lamunannya. "Oh ... ok," sahut Airin.


Sebelum berangkat mencari makanan, Lusi menyempatkan ke rumah ibu kos yang tidak jauh dari sana. Lusi berpamitan akan pergi dari kos-kosan, karena sudah mendapatkan pekerjaan di kota.


"Siap Neng," sahut penjual bubur ayam.


Airin berjalan ke arah Lusi yang sudah duduk manis di salah satu bangku.


"Habis ini kita harus ke jasa ekspedisi dulu, buat paketin sepeda motor," ujar Lusi, saat Airin sudah duduk di sampingnya.


Airin menautkan kedua alisnya, merasa bingung. Karena dirinya tak pernah melakukan hal seperti itu.


"Ck, udah lo nggak perlu mikir. Nanti ikut saja," ucap Lusi, yang melihat raut kebingungan di wajah Airin.


"Ini Neng pesanannya," penjual bubur ayam itu meletakkan dua mangkok bubur ayam dan dua teh hangat di depan Airin dan Lusi.


"Terima kasih Pak," ucap mereka berdua kompak.


Mereka memakan bubur ayam dengan sesekali membahas di mana mereka akan tinggal ketika tiba di Jakarta.


*


*


Mereka akhirnya berada di dalam kereta api, setelah tadi mengurus sepeda motor Lusi yang akan di kirim ke Jakarta melalui paket ekspedisi kereta api.


Lusi harus mengeluarkan uang 500 ribu, agar sepeda motornya sampai dengan selamat di Jakarta.


Lusi memberi alamat kos-kosan temanya yang berada di Jakarta sebagai alamat tujuan.


Airin dan Lusi membutuhkan waktu 10 jam 20 menit untuk sampai ke Jakarta. Dan tiket seharga 425.000.


"Rin lo kenapa?" Tanya Lusi. Terlihat wajah Airin yang sedikit tegang.

__ADS_1


Airin menoleh ke arah Lusi yang berada di sebelahnya. "Gue deg-deg kan, baru pertama kali pergi jauh," jawab Airin.


Lusi hanya tertawa mendengar jawaban sahabatnya. "Lo tenang aja, selagi ada gue semuanya pasti aman," ujarnya sombong.


Airin hanya menatap jengah pada Lusi.


Karena perjalanan yang masih sangat lama Airin dan Lusi memutuskan untuk tidur, meskipun jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi. Apalagi perut mereka yang masih terasa kenyang.


***


Airin terbangun saat di rasa tidurnya sudah cukup nyenyak. Airin menoleh ke samping, ternyata Lusi masih terlelap dalam tidurnya.


"Masih jam setengah sebelas," gumam-nya, setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Aduh pengen ke toilet," ucap Airin seraya mengarahkan pandanganya untuk mencari letak toilet. Ternyata toilet berada di ujung gerbong.


Karena tak tahan ingin buang air kecil, Airin segera meninggalkan Lusi yang terlelap untuk pergi ke toilet.


5 menit kemudian Airin sudah keluar dari toilet. "Legah ...."


Saat akan kembali ke tempatnya, mata Airin tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang seumuran dengannya sedikit mencurigakan.


Laki-laki itu berhati-hati membuka tas seorang gadis remaja yang terlelap, sesekali dirinya juga melihat ke arah sekitar, tapi tidak menyadari jika Airin memperhatikan aksinya.


Laki-laki itu dengan perlahan menarik dompet dari dalam tas gadis yang sedang terlelap itu.


Dangan perlahan Airin menghampirinya. "Apa yang mau lo lakuin?" Ucap Airin dangan mencekal tangan orang itu.


Sontak saja, orang itu terkejut dengan tindakan Airin. "Diam, jangan ikut campur urusan orang," hardiknya.


Orang menghempaskan tangan Airin yang mencekal nya, dan berusaha untuk melanjutkan aksinya.


Dengan segera Airin menendang lutut kaki orang itu, hingga menyebabkan laki-laki itu terjatuh.


Meskipun Airin tidak bisa berkelahi, tapi setidaknya Airin bukan seorang penakut. Sebenarnya Airin sangat malas mencampuri urusan orang lain, tapi dia tidak tega dengan gadis remaja yang akan jadi korban pencopetan itu. Airin berfikir, mungkin saja nasip nya sama dengannya.


"Pencuri," teriak Airin. Saat melihat orang itu akan membalas perbuatanya. Dengan cepat semua orang mengarahkan pandanganya pada mereka.


Laki-laki itu yang merasa dirinya tersudut, segera mendorong tubuh Airin hingga kini giliran Airin yang terjerembab ke belakang.


Airin segera menarik kaki orang itu, saat melewatinya untuk kabur. Untung saja banyak orang yang segera menolongnya dan membawa pencuri itu ke petugas kereta api untuk di amankan.


"Kak, terima kasih!" Ucap gadis remaja yang hampir saja menjadi korban copet itu.


"Iya sama-sama," ucap Airin, seraya berdiri. "Lain kali hati-hati ya ...." Imbuh Airin.


"Iya. Kenalkan namaku --"


"Airin lo nggak apa-apa kan?" Tanya Lusi yang menghampiri Airin, setelah tadi mendengar keributan.


Lusi terlihat panik, mengira sahabatnya itu akan terluka oleh pencuri tadi.


"Udah nggak apa-apa," sahut Airin.


"Beneran?" Tanya Lusi, dengan mengecek tubuh Airin. Matanya membulat saat melihat siku Airin yang sedikit mengeluarkan darah, mungkin saat Airin terjatuh tadi.


"Rin siku lo berdarah ayo kita obati," Lusi menarik tangan Airin untuk kembali ke tempat duduknya.


"Kak ...." Panggil gadis remaja itu, tapi Airin dan Lusi sudah terlanjur pergi.


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin 😊

__ADS_1


__ADS_2