
Mitha begitu fokus memandangi luar lewat jendela di kamarnya, meskipun hujan terlihat membasahi kaca di bagian luar namun tetap saja dapat menembus keindahan malam di saat turut hujan.
"Kenapa harus hujan sih? Padahal ini kan masih musim panas, jadi gagal kan untuk makan keluar, " Mulutnya berkali-kali monyong, dia begitu menyesalkan karena dia tidak bisa makan di luar karena terhalang hujan.
Rico yang baru masuk langsung menghampiri Mitha, membungkuk di belakangnya dan langsung memeluknya, "kenapa kamu bersedih? Apa karena hujan tiba? " tanya Rico.
Rico pun mengikuti arah pandang Mitha, memandangi tetesan hujan yang belum juga berhenti, "apa kamu masih mau makan di luar?" Tanyanya lagi.
"Iya, tapi kan hujan. Nggak mungkin kan kita keluar dalam keadaan hujan begini, pasti udara sangat dingin dan tidak baik untuk kesehatan," Ucap Mitha yang sangat tau akan hal itu.
"Tuh kamu tau, kalau begitu kita makan di rumah saja, bagaimana? Kamu mau makan apa, biar aku yang masakin, " Tawar Rico.
"Nggak ah! Nanti gosong lagi, kalau nggak gosong pasti rasanya asin, kamu kan nggak pandai masak, " Jawab Mitha.
Rico meringis, dia memang tidak kabar dalam urusan dapur tapi dia bisalah mencoba lagi demi membahagiakan istrinya.
"Kali ini pasti akan enak, aku jamin deh. Aku kan sudah belajar sama mama tadi pas ke sini," Jawab Rico.
"Emang belajar apa? "
"Bikin telur ceplok sama nasi goreng spesial," jawab Rico begitu antusias memberitahu apa yang dia pelajari tadi bersama mamanya.
"Beneran bisa?! " Seketika Mitha menoleh kearah Rico dan langsung mendapatkan senyuman darinya juga anggukan yang kilat.
"Bisa dong! Apa perlu di coba? Yuk, chef Rico siap beraksi! " Teriaknya dengan suka cita.
Tanpa ragu Mitha berdiri mengikuti tarikan dari Rico, pergelangan tangannya terus di pegang olehnya dan di tarik keluar menuju dapur.
Mitha tak bisa menolak atau apapun juga, karena dia juga sangat penasaran dengan rasa nasi goreng yang Rico katakan spesial. Semoga saja tidak seperti sebelumnya yang selalu keasinan atau malah gosong dan pahit tak enak di makan.
Sesampainya di dapur Rico langsung meminta Mitha untuk duduk dan berdiam diri di tempat makan, atau mungkin menjadi penonton apa yang akan dia lakukan.
"Kamu duduk manis di sini, dan tunggu nasi goreng spesial dan telur ceplok ala chef Rico matang oke," Pinta Rico.
"Baiklah," Mitha sepakat untuk berdiam diri menunggu hasil kerja dari suaminya yang masih sangat meragukan, meskipun meragukan Mitha akan hargai apapun hasilnya.
__ADS_1
Rico mulai melangkah ke arah dapur, mulai sibuk dengan peralatan peralatan yang dia butuhkan, dia juga mulai mengambil bahan-bahan yang akan dia masak.
Satu piring penuh nasi putih, dua telur, dan juga bumbu-bumbu yang yang sudah siap untuk di haluskan, "Masakan kali ingin pasti akan enak," gumam Rico yang mencoba untuk percaya diri pada diri sendiri.
Setelah semuanya siap satu persatu bahan di masukan ke dalam wajan, Rico begitu fokus dengan kegiatan barunya itu dia terus berharap kali ini hasilnya akan memuaskan tidak seperti yang sudah-sudah yang selalu mengecewakan.
Mitha begitu penasaran, dia berdiri dan melangkah menghampiri Rico, "Hemm, kelihatannya enak?" ucap Mitha setelah dia sampai di sebelah Rico dan melihat nasi goreng yang belum matang.
"Loh! Kenapa kamu ke sini, Yank? Duduk saja, sebentar lagi mateng kok," Rico kembali fokus setelah sesaat dia melirik ke arah Mitha.
"Aku hanya pengen melihatnya saja, siapa tau kamu butuh bantuan,"
"Tidak lah, aku kan sudah mulai ahli sekarang, Yank. Jadi kamu tinggal duduk manis saja di sana. Duduk saja sana!" pinta Rico.
Mitha hanya menggeleng, di samping dia penasaran akan rasanya doa juga sangat penasaran akan rasanya, entah seperti apa nantinya, "Semoga benar-benar enak," ucapannya seketika membuat Rico menoleh.
"Pasti enak lah, Yank. Kamu harus yakin juga kalau aku akan menjadi suami yang serba bisa dan juga suami siaga empat lima,"
"Amin... "
Siska hanya duduk seorang diri, pikirannya kacau dan juga doa begi uring-uringan karena dia mendapatkan kabar kebangkrutan dari perusahaannya, dan dalam waktu dekat perusahaan akan segera di sita untuk membayar semua kerugian yang dia buat.
Berkali-kali Siska mengacak rambutnya frustasi, dia tidak menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti sekarang ini, semua hasil yang dia dapatkan sebentar lagi akan raib dan hilang dari genggaman.
"Arghhh!! " teriak Siska yang sudah tak kuat lagi menanggung semua kehancuran ini.
"Kenapa papa pergi meninggalkan Siska di saat seperti ini, Pa?" Baru kali ini dia mengingat papanya yang sudah tiada, kenapa baru sekarang setelah semuanya hancur, kenapa tidak kemarin pas dia merasa jaya dan juga berhasil.
"Nona, " Laki-laki yang dulu menjadi asisten dari ayahnya itu datang, menundukkan wajahnya dan masih tetap menghormati Siska sebagaimana dia menghormati almarhum ayahnya.
Mata Siska memicing melirik sinis kepadanya, Siska tan menyukai asisten itu karena dia selalu ikut campur dengan semua urusannya, dan karena dia juga Siska hancur sekarang itulah menurutnya.
"Heh,, kenapa kamu ke sini lagi? Apa belum puas kamu membuatmu hancur seperti sekarang ini? Apa kamu belum puas!" Sungut Siska.
"Maaf, Nona. Bukan seperti itu maksud saya, tapi..? "
__ADS_1
"Sudahlah! Saya tidak butuh apapun lagi dari orang seperti mu. Lebih baik kamu pergi dan jauh-jauh dari ku! "
"Tapi, Nona.."
"PERGI...!!!" teriak Siska keras.
Asisten itu pun menurut, mungkin memang belum saatnya dia berusaha untuk mengubah sifat Siska yang sekeras batu.
Baru saja asisten itu pergi datang lagi laki-laki dengan wajah yang sangat menyeramkan karena di kendalikan oleh amarahnya.
"Siska! Aku minta kembalikan semua hartaku yang kamu ambil!! " Teriakan itu lagi-lagi memberikan membuat Siska kembali terperanjat.
Belum juga satu masalah kelar dan sekarang masalah satu lagi datang. Ya, laki-laki itu adalah Arman yang baru saja bebas karena jaminan dan sekarang dia ingin merebut lagi apa yang telah di ambil oleh Siska dengan cara yang curang.
"Tidak akan pernah! " Siska pun tak mau kalah, dia berteriak menantang Arman yang sudah siap untuk menerkam dengan amarahnya.
Arman mendekat, tanpa berpikir apapun dia langsung mencekik Siska dan menatap bengis ke arahnya, "Kembalikan semua hartaku, atau kamu akan menyesal," Ucapannya begitu menekankan.
Meski mendapatkan ancaman Siska sama sekali tidak takut, dia tetap kekeh untuk memperjuangkan apa yang sudah doa dapatkan, "Jan- gan mim- pi!" ucap Siska dengan suara yang tercekat.
"Kembalikan!! " Bentak Arman.
Fadil datang dan langsung menarik Arman dari Siska, sudah payah dia bernegosiasi dengan Yohan untuk melepaskan papanya tak akan lari doa biarkan papanya kembali melakukan kejahatan lagi.
"Pa, lepas pa! Papa bisa membunuhnya! Bagaimanapun juga Siska tengah mengandung anak papa! " Ucap Fadil berusaha melerai.
"Lepas, Fadil. Lepas! "
"Tidak, Pa! Papa yang harus melepaskan Siska. Semuanya bisa di bicarakan baik-baik, Pa. Tak harus dengan kekerasan seperti ini. Siska masih istri yang sah untuk papa kan?.Dan Fadil tidak akan biarkan papa melakukan kejahatan lagi sekarang! Ingat pa, papa masih dalam pengawasan pihak kepolisian, apa papa mau masuk ke penjara lagi! " ucap Fadil panjang lebar.
Mendengar kata-kata dari Fadil seketika Arman melepaskannya dengan mendorong Siska hingga kepalanya terbentur kursi.
"Kali ini kamu bisa selamat, tapi tidak selamanya."
____#####
__ADS_1