Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Sisi Lain Bian


__ADS_3

Dari lantai atas terlihat Kania yang sedang berlari ke bawah menuju meja makan, di sana sudah ada Bian dan Sofia yang lebih dulu sarapan.


Kania lupa jika hari ini Airin ijin untuk datang terlambat, dan parahnya lagi ia lupa memasang alrm untuk membangunkannya pagi ini. Tampilannya sekarang bahkan mengalahkan seseorang yang habis di serang induk ayam.


Rambut tanpa di sisir, dan seragam dengan kancing baju yang tidak sama. Sehingga membuat seragamnya menjadi panjang sebelah.


"Ya ampun!" Sofiana terkejut melihat tampilan putri cantiknya. "Kamu habis ngapain?"


Begitupun Bian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Kania yang tidak ada anggun anggun nya sama sekali sebagai perempuan.


"Kania kesiangan Mama." Sembari melahap nasi goreng yang baru ia ambil. "Aku lupa jika hari ini Kak Airin akan datang agak siang."


Sofiana mengerutkan dahinya. "Apa Airin ada masalah?"


Kania menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma, katanya mau menjenguk temannya sedang sakit." jelasnya. "Oh tidak, tapi karena pendarahan."


Bian seketika menyemburkan kopi yang baru saja ia seruput, raut wajahnya nampaknya seperti orang terkejut.


"Ih ... Kakak jorok." omel Kania, karena ia sedikit terkena cipratan kopi yang di semburkan Bian.


Bian lalu mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya. "Ma, Bian berangkat dulu." pamitnya.


"Tumben?" heran Sofia.


"Bian lupa ada pertemuan pagi ini Ma." Bohongnya. Setelah itu Bian benar-benar pergi dari sana sebelum mamanya bertanya lebih lanjut.


Di dalam mobil, Bian mengingat kejadian kemarin di rumah sakit. Di mana ia menjaga sang kekasih yang telah kehilangan bayi mereka.


Ya, selama ini yang menjadi tambatan hati Alda adalah Bian.


Bian tidak peduli jika Alda sudah menjadi istri orang, cintanya yang begitu besar terhadap Alda mengalahkan logikanya.


Kemarin Alda sempat bercerita temanya yang akan datang menjenguknya bernama Airin, namun tiba-tiba saja sahabatnya itu ada keperluan lain.

__ADS_1


Awalnya Bian menganggap hanya kebetulan nama sahabat Alda itu sama dengan pengasuh adiknya, namun setelah mendengar cerita Kania ia yakin jika mereka adalah orang yang sama. Dan kemungkinan besar Airin juga tahu tentang hubungannya dengan Alda.


Di tengah perjalanan Bian mencoba menghubungi Alda, dan benar saja ketika panggilan itu tersambung, Alda mengatakan jika ia sedang bersama temannya.


Bian semakin yakin, jika yang bersama sang kekasih sekarang adalah Airin.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Bian sampai di rumah sakit. Ia berjalan tergesa menuju ruang Alda di rawat untuk memastikan apa yang di pikirannya.


Klek.


Ketika ia masuk, ia di sambut oleh senyuman Alda. Wajah kekasihnya yang tak lebih segar di bandingkan kemarin.


"Sayang," panggil Alda agar Bian mendekat padanya.


Bian juga membalas senyuman Alda, namun pandangannya mengarah ke seluruh ruangan. Tentu saja ia mencari keberadaan Airin tapi ruangan itu hanya ada Alda seorang.


"Bagaimana, apa sudah mendingan?" ia mengusap lembut pipi Alda.


"Tadi katanya ada yang menemani, kenapa sekarang sendirian?"


"Iya tadi ada Airin, tapi sekarang sedang pergi ke kantin. Katanya tadi belum sempat sarapan." Alda menjelaskan.


Bian hanya menganggukkan kepalanya, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia yakin jika Airin ingin menghindar dari nya. Sekarang ia harus memikirkan caranya agar bisa mencari Airin yang pastinya tidak pergi ke kantin, gadis itu pastinya akan pergi dari rumah sakit ini. Pikir Bian.


"Sayang, sepertinya ponselku ketinggalan di mobil. Aku ambil dulu ya, siapa tau nanti Miko menghubungiku." Alasan Bian.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama!" Alda yang sebenarnya sedikit berat melepaskan kepergian Bian.


"Hm." Bian memberikan kecupan di kening Alda sebelum ia pergi.


Setelah ia itu Bian mempercepat langkahnya untuk berjalan ke arah jalan keluar rumah sakit.


Bibir Bian tertarik ke atas, setelah menemukan aap yang ia cari. Ia semakin mendekat ke tempat di mana Airin sedang berdiri di pinggir jalan yang akan menaiki taksi.

__ADS_1


Dengan cepat Bian mencekal tangan Airin. "Jangan harap kamu bisa pergi begitu saja."


Airin terkejut melihat Bian yang sekarang mencekal tangannya. "Maksud bapak apa ya?" ia mencoba menenangkan rasa gugupnya. "Lagi pula kenapa bapak berada di sini? Apa ada yang sakit!" Ia seolah olah tidak tau tujuan Bian ke rumah sakit. "Maaf Pak saya harus pergi, nanti non Kania mencari saya." Airin mencoba melepaskan tangannya yang masih di cekal oleh Bian.


Bian semakin tersenyum miring ia tahu jika gadis di depannya ini hanya pura-pura tidak mengerti.


"Hei! Apa kalian jadi naik?" teriak supir taksi. Dari tadi ia melihat sepasang manusia itu yang masih berbicara tanpa berniat untuk masuk.


"Iy--"


"Tidak jadi pak," Bian memotong ucapan Airin. "Istri saya hanya sedang merajuk," imbuhnya.


Mata Airin seketika melotot mendengar ucapan Bian.


Istri?


"Makannya kalau ada masalah di selesaikan baik-baik, jangan sampai bertengkar di jalan, tidak baik di lihat orang." Nasehat supir taksi itu.


"Pak ma--" Belum sempat Airin protes dengan ucapan Bian, ia sudah di tatik pergi dari sana.


"Pak lepas, saya harus pergi." Airin tetap tidak mau mengikuti kemauan Bian.


Bian kemudian berhenti dan menatap tajam ke arah Airin. "Aku yakin kamu tau segalanya."


"Saya ti--" Lagi-lagi Airin di tarik oleh Bian sebelum melanjutkan ucapannya. Tapi anehnya Bian menariknya untuk bersembunyi di balik mobil.


Airin mengikuti arah pandang Bian, yang ternyata ia melihat keberadaan orang tua Alda juga suaminya. Sepertinya mereka sudah pulang dari luar kota.


"Kamu pasti kenal dengan mereka?" Bian juga melihat Airin yang ne mengetahui kedatangan mereka.


...----------------...


...Maaf gengs, untuk novelku yang ini slow update ya 🙏...

__ADS_1


__ADS_2