Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
162. Sakit


__ADS_3

/////


Pikiran yang terlalu mendalam yang dialami Airin membuat kesehatannya kembali turun lagi Airin kembali drop bahkan saat ini dia terus berada di dalam kamar tanpa melakukan apapun dan hanya merebahkan tubuhnya yang sangat lemah.


David tahu jika Airin terlalu memikirkan apa yang selalu David wanti-wanti untuk tidak di buat pikirkan, tapi itu tidak bisa begitu saja Airin lupakan.


Airin sangat mudah sensitif jika mengenai kehamilan yang tak kunjung dia rasakan lagi, dia akan selalu sedih. Seandainya dan seandainya selalu ada di pikirkan Airin, jika saat itu dia tak kehilangan anaknya mungkin mereka sekarang sudah sangat bahagia.


Ingin sekali Airin ikhlas tapi rasanya sangat susah, dua belum bisa melupakan semua yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.


David masuk ke dalam kamar dengan membawa bubur untuk Airin, karena saat seperti sekarang ini dia akan sangat susah untuk makan dia harus memakan makanan yang mudah untuk dia telan tanpa mengunyah begitu lama.


"Yank, makan dulu yuk," ucap David sembari duduk di samping Airin.


Airin sangat malas untuk bicara, apalagi untuk bangun dan makan dia tidak berselera saat ini. Bahkan melihat mangkuk yang David bawa saja Airin sudah sangat nek apalagi memakan isinya.


"Tidak, Yank. Aku tidak lapar," ucapnya dengan memalingkan wajah saat David ingin menyuapinya.


Sedih yang David rasakan, tak seharusnya Airin menyalahkan diri seperti ini. Semua yang terjadi bukanlah keinginan mereka, semuanya adalah yang sesuai dengan Kehendak-Nya.


Jika Airin terus seperti ini pasti kesehatannya akan menurun dan David tak mau ini terjadi. David ingin Airin selalu sehat. Karena itu adalah harta yang tak bisa di tukar dengan apapun.


David berusaha untuk membujuk Airin, meskipun susah tapi dia harus tetap lakukan. Sebentar lagi juga saatnya David berangkat ke rumah sakit, jam sudah sangat siang.


"Sayang, makan ya. Paling nggak beberapa sendok juga nggak masalah, yang terpenting perutmu harus terisi," ucap David.


"Aku tidak lapar," hanya kata itu yang Airin katakan lagi.


"Kalau begitu minum susunya. Dengan ini kamu tetap bisa memiliki tenaga," David menaruh mangkuknya mengganti dengan gelas susu yang tadi dia letakan di atas nakas. Kali ini Airin menerimanya, dia meminumnya meskipun tak habis dan hanya setengah saja.

__ADS_1


"Sudah," ucapan Airin menjauhkan diri dari gelas yang ada di tangan David.


"Di habiskan dong, Sayang," pinta David lagi namun Airin malah menggeleng, "ya sudah, hem..., apa tidak apa-apa kalau aku pergi sekarang?"


"Pergilah, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja, lagian ada bibi juga di rumah." jawab Airin.


"Baik lah, aku berangkat. Tapi kalau ada apa-apa cepat kabari aku, "


"Hem..., " Airin mengangguk menyambut tangan David yang terulur untuk dia salami.


Dalam sejenak David mengecup kening Airin, "cepatlah sembuh, ingat! banyak orang yang menunggumu. Termasuk aku, aku akan menunggu kamu sembuh, aku sangat merindukanmu," ucapan David berhasil membuat Airin tersipu.


Padahal setiap hari mereka bertemu bagaimana mungkin David merindukannya. Mungkin dia merindukan hal yang lain yang sudah beberapa hari juga tidak mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.


"Hem," Airin mengangguk cepat. Dia tidak mau membuat David menunggu seperti ini, tapi dia sendiri tak bisa menguasai dirinya sampai-sampai dia harus sakit seperti sekarang, "maaf, " ucap Airin menyesal.


"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu harus cepat sembuh," jawab David yang begitu sangat perhatian pada Airin, " aku berangkat ya, Assalamu'alaikum.. " pamit David.


Kamar kembali sepi setelah kepergian David, hanya tinggal Airin sendiri di sana. Memang rumah itu ada penghuni lain namun semua sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Baru beberapa saat David pergi tiba-tiba perut Airin merasa mual dia langsung beranjak untuk pergi ke kamar mandi, memuntahkan susu yang tadi dia minum.


"Begitu parah kah sakit ku? " gumamnya.


Tubuh Airin semakin lemas hingga akhirnya dia pingsan saat hendak keluar dari kamar mandi.


####


"Assalamu'alaikum..," teriak Mitha saat masuk ke dalam rumah besar milik Airin.

__ADS_1


Mitha masuk dengan menggendong anak laki-laki kecil, dia adalah anak pertamanya.


"Mam, Ante aiyin di mana?" tanyanya dengan suara yang cadel.


Mitha tersenyum dia mencubit gemas pipi putranya itu, "kita tanya sama bibi dulu ya sayang," jawabnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab asisten rumah.


"Bi, di mana Airin, katanya dia sedang sakit bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mitha.


"Ibu masih di kamar, Mbak. Dari lagi dia belum keluar," jawabnya.


"Kalau begitu saya jenguk dia ya, Bi," pamit Mitha.


Mitha bergegas naik tangga untuk bisa sampai ke kamar Airin, dia sangat gak sabar ingin melihat keadaan sahabatnya itu.


Bukan hanya Mitha saja yang tidak sabar namun si kecil anak nya juga tak sabar ingin bertemu dengan Airin.


"Assalamu'alaikum.., Rin! Airin! " panggil Mitha yang jelas tak akan ada jawaban dari panggilannya itu.


Mitha semakin masuk dia mencari keberadaan Airin namun dia sedikit kebingungan karena tak kunjung menemukannya. Satu tempat yang belum dia datangi tempat itu adalah kamar mandi.


"Airin! Rin! " teriaknya.


Tak ada jawaban sama sekali, "Airin di mana sih?" bingungnya. Namun Mitha masih sangat penasaran, dengan pelan Mitha membuka pintu kamar mandi dia langsung teriak saat melihat Airin yang tergeletak.


"Airin..!! " teriaknya.


///////

__ADS_1


####


__ADS_2