
Satu minggu David juga Airin berada di Negeri Sakura, beberapa obyek wisata juga sudah mereka kunjungi, bahkan mereka juga sempat pergi ke tempat di mana adanya bunga-bunga Sakura itu bermekaran. Lebih tepatnya di Kyoto Botanical Gardens atau juga biasa di sebut Botani Kyoto, taman terbesar kedua yang ada di pusat kota Kyoto. Dan juga masih banyak lagi.
Kini mereka berdua sudah ada di luar bandara Indonesia. Ya, mereka berdua kini sudah pulang, sebenarnya mereka masih ingin berada di sana, masih begitu banyak wisata yang ingin Airin kunjungi, tapi dia juga tidak mau mengabaikan semua tugasnya di dalamnya yang sudah menunggu.
Jemputan sudah datang, bukan sopir pribadi ataupun keluarga inti melainkan sopir dari taksi online yang David pesan untuk mengantarkan mereka pulang.
Bukannya mereka tak mau di jemput oleh orang tua mereka, tapi mereka tidak mau menyusahkan mereka semua dan memilih untuk semuanya menunggu di rumahnya.
"Alhamdulillah, akhir berjumpa lagi dengan tanah kelahiran," David langsung merangkul Airin, sejak dari bandara Nagoya David tak pernah melepaskannya sama sekali, dia dan sekali tak mau jauh dari istrinya, karena setelah sampai di rumah pasti akan ada pengganggu, apalagi jika si kembar juga datang.
"Iya, alhamdulillah akhirnya bisa kembali dengan selamat," Senyum Airin merekah bukan tanpa alasan, tapi karena di sangat bahagia dan juga tak sabar ingin secepatnya bertemu dengan keluarga yang sudah satu minggu ini dia tinggalkan.
Airin juga David langsung masuk ke dalam mobil, dan setelah di pastikan tak ada yang ketinggalan mobil pun mulai berjalan meninggalkan bandara.
Sementara di rumah Airin juga David begitu ramai, orang tua Airin juga David sudah ada di sana, semua keluarga kecil Rayyan juga Pasangan Rico dan Mitha, semuanya sudah siap menyambut kedatangan Airin juga David.
Berbagai makanan ringan sampai makanan berat sudah di siapkan, makanan kesukaan Airin juga David sudah tertata rapi di meja makan, semua itu demi mereka berdua tentunya.
Para wanita sibuk di dapur sementara para laki-laki menyiapkan penyambutan di ruang tengah. Sementara si kembar, mereka masih sibuk berebut balon hijau mereka tiup.
__ADS_1
Begitu menggemaskan kelakuan dua bocah itu, sekali ada balon yang bisa membesar pasti akan membuat mereka saling berebut hingga akhirnya akan ada yang menangis salah satu dari mereka.
Jika sudah ada yang menangis pastilah Rayyan langsung berlari menghampiri mereka berdua dan melerainya supaya tidak terjadi pertarungan sengit hingga mengeluarkan senjata sepuluh jari mereka.
Mungkin itulah resiko mempunyai anak kembar, tapi pasti bakal lebih banyak kebahagiaannya daripada kesedihannya. Hanya saja orang tuanya harus ekstra saat mengamati mereka.
"Assalamualaikum...!" Sampailah David juga Airin, mereka langsung masuk dengan menarik koper. Awal berangkat hanya ada dua koper yang mereka bawa, namun sekarang beranak menjadi tiga koper. Ternyata lebih dulu kopernya yang bertambah daripada keluarga kecil mereka yang sepertinya belum ada kabar apapun.
"Wa'alaikumsalam... " Jawab semuanya serentak.
Semuanya langsung berjalan menuju pintu menyambut kedatangan mereka berdua. Begitu juga si kembar yang berlari dengan membawa balon yang sudah membesar.
𝘋𝘰𝘳...
Dengan sengaja bocah kembar itu meletuskan nya di sebelah mereka berdua, karena Kedua bocah itu berdiri bersembunyi membuat Airin juga David langsung terperanjat kaget.
"Astaghfirullah.. " Seru keduanya, Airin langsung menyentuh dadanya karena benar-benar terkejut.
"Hahahaha..., Aunty lucu. Aunty terkejut, hahaha!! " Tawa Ikhsan.
__ADS_1
"Aunty terkejut karena balon abang, bukan karena balon Ikhsan!" Teriak Akhsan dengan sangat keras, sepertinya perang bocah itu akan di mulai lagi.
"Tidak! Aunty terkejut karena balon Ikhsan!" Balas Ikhsan dengan teriak juga.
"Astaghfirullah hal 'azim, anak-anak, Ray..., mereka mengacau kau kejutan kita." Keluh Fahmi seraya menepuk jidatnya sendiri.
"Hehehe,, maaf Abi." Rayyan hanya bisa meringis. Ya, karena perkelahian kedua bocah itu, kejutan yang mereka siapkan gatot, alias gagal total.
Meskipun gagal namun kejutan tetap berjalan, pita-pita kecil juga guntingan kertas-kertas berterbangan di atas David juga Airin. Suara terompet anak-anak Rico bunyikan, namun itu pun tak berlangsung lama.
"Om, itu terompet Akhsan! " Akhsan langsung berlari dan berusaha merebut terompet yang Rico bawa.
"Eh..., bentar. Om pinjem dulu," Yang pasti Rico tidak akan memberikannya begitu saja kan? Dia sudah susah payah membelinya tadi, tapi dengan enaknya bocah kecil itu mengakui bahwa itu adalah miliknya.
"Itu milik Akhsan, Om! Om tidak boleh pinjem, Om kan nggak pernah kasih es krim pada Akhsan." Celoteh bocah itu membuat mulut Rico menganga sangat lebar.
"Astaga, " satu kata yang mengisyaratkan keadaan hati Rico yang begitu terkagum-kagum dengan bocah kembar itu.
Setelah berhasil merebutnya Akhsan langsung berlari menjauh, dan Ikhsan pun juga mengejarnya, sepertinya akan kembali terjadi perang setelah itu, membuat Rayyan terpaksa meninggalkan sambutan itu dan mengejar kedua anaknya.
__ADS_1
#####