Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Di jodohkan dengan duda


__ADS_3

Siang hari Airin memutuskan untuk pergi bersama Lusi, setelah tadi Lusi menelponnya.


Drrrt.


Drrrt.


Drrrt.


"Halo!" Ucap Airin saat sambungan telfon tersambung.


(""")


"Ya, gue keluar"


Tut.


Airin segera menyambar tas dan dompet-nya, setelah itu keluar dari kamar.


Airin melewati Metta begitu saja di ruang tamu.


"Dasar, nggak tau sopan santun," gumam Metta. Tapi masih bisa di dengar oleh Airin.


Airin malas menanggapi perkataan Metta, berdebat dengan ibu tadi pagi sudah membuatnya malas meladeni ocehan orang.


"Lama," gerutu Lusi, saat Airin sudah datang menemuinya.


"Yaelah, gak sampek lima menit Lus," sahut Airin.


Airin segera menaiki sepeda motor Lusi, setelah menerima helm dari Lusi.


"Kita jadi kemana," tanya Airin setengah berteriak karena suara bising dari kendaraan lain.


"Cari makan aja, lapar nih ..." sahut Lusi, yang setengah berteriak.


Lusi melajukan sepeda motor matic-nya ke salah satu warung bakso langganan mereka.


Hingga beberapa saat motor Lusi sudah berhenti di pinggir warung bakso, di sana ternyata sudah ramai pengunjung yang juga ingin menikmati bakso di siang hari.


"Lus, lo cari tempat, biar gue yang pesan seperti biasa kan?" Tanya Airin yang di angguki Lusi.


Airin berjalan menuju penjual bakso yang sedang melayani beberapa pembeli.


Sedangkan Lusi, mencari tempat yang dekat dengan sawah. Warung bakso itu terletak di dapan sawah, jadi pemilik bakso juga menyediakan tempat di pinggir sawah. Mirip seperti gazebo, cukup menyebarang jalan kecil yang terbuat dari batu paving.


"Nah ... gini nih, sempurna. Udah baksonya murah, pemandangannya juga ok," celoteh Lusi, seraya mendudukkan bokongnya pada kursi yang ia pilih.


Tidak lama Airin datang membawa nampan berisi dua mangkok bakso dan dua es jeruk.


"Makasih," ucap Lusi, seraya mengambil mangkok baksonya.


"Ok," sahut Airin.


Mereka berdua meracik bakso-nya dengan saus sambal, kecap dan jeruk nipis. Jangan lupakan sambal pedas yang menjadi penggugah selera, bahkan mangkok mereka seperti sambal yang di kasih bakso.


(Mereka nggak tau apa harga cabai seperti harga daging sapi 😁)

__ADS_1



Dengan nikmat mereka memakan bakso sambal itu.


"Lus, gimana nih! Belum dapat kerjaan juga," ucap Airin di sela-sela makan mereka. Sesekali mengusap kening-nya yang mulai berkeringat.


"Iya, sekarang susah cari kerjaan," sahut Lusi, sesekali mengelap hidungnya. Sesuatu itu mulai keluar 😁.


"Terus kita cari kemana lagi! Gue udah nggak betah di rumah," keluh Airin.


"Uhm," Lusi mengingat sesuatu sejenak. "Oh ya ... ada temen gue yang lagi kerja di Jakarta, kemarin dia chat sama gue. Katanya di tempat dia kerja ada lowongan kerja, kalau nggak salah OG ( office girl ) gimana! Mau nggak?"


Airin terdiam, selama ini dirinya belum pernah kerja jauh. Apalagi kalau ke Jakarta.


"Gimana?" Tanya Lusi lagi. "Kalau gue sih ok ok aja, lagian dah lama gue udah nggak pindah tempat kerja," imbuh Lusi.


"Uhm ... coba deh nanti gue pikir-pikir lagi," sahut Airin.


"Tapi jangan lama-lama, nanti keburu di tempati orang posisi-nya," ujar Lusi.


"Hm ...."


Mereka kemudian menghabiskan bakso yang tinggal setengah di temani hembusan semilir angin dari sawah.


"Udah ayok pulang kalau begitu," ajak Airin, setelah bakso mereka habis.


"Eh ... ini tadi habis berapa bakso gue?" Tanya Lusi seraya merogoh uang dari dalam saku celana jins-nya.


"Udah, tadi gue yang traktir," jawab Airin.


"Iya."


"Wah ... makasih, kalau gitu sering-sering aja ya traktirnya," ucap Lusi, seraya tersenyum lebar.


Sedangkan Airin hanya menatapnya jengah.


Lusi melajukan sepeda motor-nya kembali ke arah rumah Airin. Hingga sepuluh menit kemudian motor Lusi sudah berhenti di depan pelataran rumah Airin.


"Terima kasih," ucap Airin, sambil memberikan helm kepada Lusi.


"Lo, kayak sama siapa aja," cibir Lusi, sambil menerima helm. "Ya udah, gue pulang dulu," pamitnya.


"Ok, hati-hati di jalan," teriak Airin, karena sepeda motor Lusi yang sudah melaju pergi.


Saat akan masuk rumah, Airin dapat melihat ibu yang sedang berbicara dengan tetangga di samping rumah. Sedangkan Faris selonjoran di kursi teras dengan memainkan ponsel yang berada di tangannya, apalagi kalau bukan game online.


Telinga Airin samar-samar mendengar percakapan ibunya dan wanita paruh baya yang merupakan tetangga-nya itu. Halimah.


"Airin masih di rumah aja mbak? Nggak kerja lagi?" Tanya Halimah.


"Iya, belum dapat kerjaan, padahal juga sudah cari setiap hari," sahut ibu.


"Iya ... kalau sekarang masih tinggal sama mbak, jadi gak terlalu mikirin soal uang," ujar Halimah.


"Iya."

__ADS_1


"Kenapa nggak di suruh nikah saja, mbak! Kan kalau sudah nikah, Airin sudah jadi tanggung jawab suaminya," saran Halimah.


"Airin nggak punya pacar," sahut ibu.


"Kenapa nggak di jodohin aja! Kalau nanti Airin sudah menikah, beban mbak sedikit berkurang," ucap Halimah.


Airin yang mendengarkan percakapan ibu dan tetangganya itu seketika mempercepat langkahnya menuju kamar.


Melempar tas-nya ke pojokan kasur, dan merebahkan tubuh-nya. Mata Airin terpejam, cairan bening itu lolos begitu saja dari matanya. Dadanya begitu sesak, mengingat kembali percakapan ibu dan tetangganya. Apalagi kata 'beban' itu selalu terngiang di telinganya.


"Apa gue ini benar-benar beban!" Gumam Airin.


*


*


Malam telah tiba, semua orang sudah berkumpul di ruang tengah menikmati makan malam. Tidak ada meja makan hanya duduk di lantai dan di temani tv 21"


Terkecuali Metta dan Setya, yang makan di ruang tamu. Mereka memang terpisah jika makan malam.


"Pak, Airin ada yang menawari pekerjaan tapi di Jakarta," ucap Airin kepada ayah.


"Kenapa jauh, di sini nggak ada?" Tanya ayah.


Airin menggelengkan kepalanya. "Airin sudah cari, tapi nggak ada hasilnya. Di kerjaan yang lama, masih belum tau kapan akan ada panggilan kerja lagi," jelas Airin.


"Ibu, nggak setuju kalau kamu kerja jauh. Mending kamu menikah saja," sela ibu.


Airin seketika meremas sendok yang berada di tangannya, sungguh sesak rasanya mendengar ucapan ibunya.


"Iya, kenapa kamu tidak menikah saja! Tapi ayah tidak pernah melihat kamu membawa teman laki-laki!" ucap ayah yang juga menimpali ucapan ibu.


Sekarang rasanya bertambah sesak dada Airin, mendengar kedua orang tuanya berbicara seperti itu.


"Kalau kamu mau, ibu dan ayah bisa berbicara sama Pak Firman yang juragan gilingan padi, dia punya anak yang namanya Joni, dia baru saja menjadi duda," ujar ibu.


Airin tiba-tiba tubuhnya membeku mendengar ucapan ibunya.


"Gimana Rin?" Tanya ayah, yang sepertinya menyetujui saran ibu.


Airin benar-benar tidak menyangka jika orang tuanya tega menjodohkan dengan Joni yang sudah duda empat kali.


"Sudahlah, mau aja," sahut Metta seraya bejalan ke arah dapur. Sepertinya Metta juga mendengarkan apa yang di ucapkan kedua orang tuanya.


"Airin lebih memilih bekerja ke jakarta saja," akhirnya putus Airin.


"Ibu dan ayah tetap nggak setuju," sahut ibu.


"Ayah juga nggak setuju, kalau kamu tetap berangkat, lebih baik kamu tidak usah kembali lagi ke rumah," ucap ayah.


Airin segera berdiri dari duduknya dan menaruh piringnya di dapur. Airin masuk ke kamar-nya, menangis tersedu luapkan rasa sakit di hatinya.


"Mereka nggak punya hati," gumam Airin, di sela-sela tangisnya.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin😊


__ADS_2