Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Setelah selesai melampiaskan kekesalannya, Airin segera pergi dari sana. Ia masih akan melanjutkan untuk mencari pekerjaan.


Laki-laki yang sempat di tolong nya tadi hanya diam di tempat sembari memperhatikan punggung Airin yang semakin menjauh.


Riko menghembuskan nafasnya kasar.


Ya, Laki-laki yang di tolong Airin adalah Riko. Asisten pribadi Alex Pratama.


Kalau saja bosnya itu tidak menelponnya secara mendadak ia tidak akan buru-buru seperti tadi.


Di hari libur, ia masih harus bekerja karena bosnya sedang sibuk mengurus istrinya yang sedang hamil anak kedua mereka.


Ketika ia sampai di perusahaan, tak sengaja ia melihat gadis yang menolongnya tadi sedang berbicara dengan scurity perusahaan. Samar-samar ia mendengar jika gadis itu sedang menanyakan soal lowongan pekerjaan.


Riko berjalan mendekat ke arah mereka seolah-olah ia tidak tahu apa-apa. "Ada apa ini?"


"Anda!" Airin terkejut dengan keberadaan Riko di sana.


Sedangkan scurity membungkukkan badannya memberi hormat pada Riko. "Nona ini sedang mencari lowongan pekerjaan Pak, saya sudah bilang kalau di perusahaan ini --"

__ADS_1


"Kamu ikut saya," Riko menyela. Ia menyuruh Airin untuk mengikutinya ke arah ruangannya. Tapi ketika ia beberapa langkah berjalan ia melihat Airin yang masih diam di tempatnya. "Kamu ingin pekerjaan bukan?"


Airin dengan cepat menganggukkan kepala, dan langsung mengikuti Riko. Meskipun ia masih bingung, tiba-tiba ia bertemu lagi pada pria yang di tolong nya tadi. Bahkan akan menawarinya pekerjaan. Mungkin Riko orang yang berpengaruh di perusahaan yang ia datangi sekarang, pikirnya.


"Silahkan duduk," Riko mempersilahkan Airin setelah sampai di ruangan. "Kamu butuh pekerjaan?"


Airin menganggukkan kepalanya.


"Tapi untuk saat ini, di perusahaan tidak ada lowongan." ujar Riko yang seketika membuat Airin bingung.


Lalu untuk apa Riko mengajaknya ke ruangan jika tidak ada lowongan.


"Kalau kamu ingin bekerja, kamu bisa bekerja di apartemen saya. Karena saya jarang pulang ke sana, jadi tidak ada yang membersihkannya." Riko beberapa minggu memang jarang pulang ke apartemen, ia pulang hanya untuk mengambil beberapa baju. Ia lebih sering tidur di kantor kerena lembur.


Airin menimbang-nimbang pekerjaan yang di tawarkan oleh Riko. Mungkin tidak ada salahnya ia bekerja di sana, dan ia tidak akan lagi bertemu dengan Bian.


"Untuk gaji--"


"Baik, saya mau." sela Airin. Ia tidak peduli berapa gaji yang akan di berikan oleh Riko, setidaknya ia masih mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidupnya setelah ini.

__ADS_1


Riko menautkan alisnya, baru kali ini ia melihat seseorang yang mau bekerja sebelum mengetahui berapa besar gaji yang akan ia Terima. "Baiklah kalau begitu," Riko mengambil kartu namanya dan memberikan pada Airin. "Ini alamatnya."


Riko kemudian teringat sesuatu, ia mengambil selembar kertas dan memberikan ya pada Airin. "Kamu tulis, nama, alamat dan no telepon kamu."


Baru kali ini ia langsung memberikan kepercayaannya pada orang yang baru ia temui, tapi setidaknya ia tahu jika gadis di hadapannya ini orang baik.


Airin segera menulis apa yang di minta Riko, setelah selesai ia memberikannya.


"Airin," gumam Riko membaca nama gadis di depannya itu.


"Uhm, maaf. Saya harus memanggil anda apa?" Karena sedari tadi ia masih belum tahu nama Riko.


"Panggil saja saya Riko."


Setelah itu Airin pamit untuk pergi. Di depan perusahan Pratama, ia sekarang harus memikirkan bagaimana ia harus berpamitan pada Sofiana dan Kania.


Di sisi lain ia merasa berat meninggalkan Kania yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, tapi bagaimana lagi ini jalan satu-satunya ia menghindari Bian.


...----------------...

__ADS_1


...Kang Bian lewat dulu gengs...



__ADS_2