Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Aurel


__ADS_3

Pegawai kantor nampak begitu sibuk di hari menjelang siang, semua berusaha mengerjakan pekerjaan mereka agar bisa selesai tepat waktu.


Tidak terkecuali Bian, meskipun ia seorang CEO mempunyai sekretaris dan asisten tak lantas menyerahkan semua nya pada bawahannya.


Ia juga meneliti berkas kerjasama yang sudah di periksa oleh Miko, melihat seberapa besar keuntungan dan seberapa kecil kemungkinan untuk resiko kerugian kerja sama yang akan di lakukannya.


Perhatian Bian pada berkas terahlikan ketika terdengar ketukan pada pintu ruangannya.


"Masuk." titahnya.


Terlihat Miko masuk dengan tablet di tangannya. "Pak, saya mau mengingatkan jika sebentar lagi kita akan ada pertemuan di luar dengan pihak perusahaan Gemilang Prakasa."


Bian melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan sebentar lagi akan memasuki jam makan siang, ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Baiklah."


*


*


Di salah satu ruangan VIP restoran, Bian nampak berjabat tangan dengan seorang laki-laki paruh baya. Setelah beberapa saat lalu tercipta kerja sama yang di sepakati oleh mereka berdua.


"Saya berharap kerjasama kita akan berjalan dengan baik, Pak." Rekan bisnis Bian yang bernama Seto.


"Tentu Pak." jawab Bian.


Hingga kemudian pertemuan itu di lanjut dengan acara makan siang.


"Saya bangga dengan anak muda seperti Pak Bian, masih mudah sudah mau bekerja keras." Seto mengawali dengan perbincangan ringan.


"Terima kasih Pak atas pujiannya, tapi menurut saya bekerja bukan hanya sekedar kemauan tapi itu sebuah keharusan. Apalagi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk kedepannya."


Seto mengangguk anggukkan kepalanya, ia tersenyum mendengar jawaban anak muda di depannya. Meski Bian berucap tanpa ekspresi, tapi makna ucapannya begitu mendalam.


"Anda memang betul Pak, apalagi sebagai seorang laki-laki. Suatu saat ia yang harus menciptakan kelayakan hidup bagi anak, istri juga keluarganya sendiri." Seto menimpali.


Dan Bian hanya menganggukkan kepala.


"Saya dengar Pak Bian belum berkeluarga?" Seto bertanya.


"Maaf Pak, saya tidak terbiasa membicarakan urusan pribadi."


"Oh... maafkan saya jika saya lancang bertanya." Seto merasa tidak enak."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pak."


Di sebuah bangunan menjulang tinggi, seorang perempuan dengan pakaian seksi memasuki area tersebut. Tanpa membuat janji dan tanpa bertanya ia segera masuk kedalam lift hingga membawanya ke lantai paling atas.


Tentu tidak ada yang berani melarangnya, karena ia adalah putri pemilik perusahaan.


Saat sampai di lantai atas, sekretaris yang mengetahui kedatangan segera berdiri. "Maaf Nona, Pak Seto nya sedang ada meeting di luar kantor." beritahu nya.


Gadis yang tidak lain adalah Aurel itu menghembuskan nafasnya kasar. "Sudah lama?" tanya nya kemudian.


"Sejak makan siang tadi."


"Ya sudah kalau begitu gue tunggu di dalam aja." Aurel lalu masuk ke dalam ruangan Papa nya.


Beberapa saat menunggu akhirnya Seto kembali ke perusahaan, yang di sambut oleh pelukan hangat dari sang putri.


"Kenapa tidak mengabari jika akan ke kantor, untung Papa hanya ada satu pertemuan." Setelah pelukan mereka terlepas.


Namun Aurel hanya tersenyum.


"Apa ada sesuatu?" tanya Seto.


Aurel menggelengkan kepala. "Aku hanya bosan."


"Kalau begitu bantulah Papa di kantor, lagi pula nantinya ini semua akan menjadi milikmu. Dan seharusnya kamu sudah mulai belajar mengelolanya."


"Apa kamu tau! Baru saja Papa menjalin hubungan kerja sama dengan pengusaha mudah, Papa bangga melihat ia yang sudah sukses di usia muda."


Aurel mulai merasa tidak nyaman jika Papa nya sudah membicarakan tentang pekerjaan.


"Kalau saja ia sedang mencari istri, Papa pasti senang jika akan mendapat menantu seperti dia." Seto dengan harapannya.


"Dia laki-laki?" Aurel tiba-tiba merasa tertarik.


"Hm..."


"Namanya?"


"Arbian Nugra Lesmana."


Sontak saja membuat sudut bibir Aurel terangkat membentuk senyuman.


*

__ADS_1


*


Airin menaruh dua kantong kresek besar ketika ia sampai di depan pintu unit Riko. Nafasnya terlihat tak beraturan, akibat lelah yang ia rasakan.


Ketika baru saja pintu terbuka, Airin di kagetkan oleh Riko yang kedatangannya tidak ia ketahui.


"Kalau berat, kenapa tidak minta bantuan security di bawah!" Riko tadi sempat melihat Airin ketika baru keluar dari lift.


"Oh, Pak Riko." Membuat Airin segera menoleh ke arah Riko yang berada di belakangnya. Ia hanya tersenyum mendengar itu.


Tanpa banyak bicara Riko membawa dua kantong kresek belanjaan Airin.


"Pak, saya bisa membawanya." Airin melihat itu.


Tapi Riko terus membawanya hingga sampai di dapur, dan Airin yang mengikutinya dari belakang.


"Terima kasih Pak." sahut Airin tidak enak.


"Tidak apa-apa, lain kali minta bantuan security." ingatkan nya lagi, kemudian ia beranjak dari sana dan berjalan menuju kamarnya.


Di dapur Airin segera menata semua belanjaan nya. Mulai dari sayur, buah, ayam potong, daging sapi, beberapa minuman kaleng. Dan terakhir mie instan favorit nya.


Hingga beberapa saat kemudian, Ia mengolah beberapa sayur dan daging untuk ia jadikan sup. Menu sederhana untuk makan malam Riko.


Sejak ia pertama bekerja dengan Riko hingga sekarang, majikannya itu tidak pernah protes dengan masakan yang ia buat.


Itulah salah satu hal yang membuat Airin betah bekerja dengan Riko.


"Mangkonya di mana?" Airin mencari mangkok yang biasanya ia taruh di laci penyimpanan, namun sekarang tidak ada.


Ia kemudian membuka tempat penyimpanan bagian atas, dan menemukan mangkok itu terdapat di susnan paling atas setelah piring.


"Hei... apa kamu punya kaki? Kenapa pindah ke sana!" Ia yang mengomel pada mangkok yang jelas tidak akan mengerti. Tanpa di sadari Riko di ambang pintu dapur tersenyum mendengarnya.


Airin sudah men jinjit agar bisa menggapai mangkok itu, tapi hanya ujung jarinya yang bisa menyentuh.


"Apa perlu bantuan?" Riko berada tepat di belakang Airin, ia bahkan sudah menggaapi mangkok itu dengan mudah.


Deg.


Sedangkan Airin hanya bisa terdiam di tempatnya, ia merasakan gugup yang teramat sangat, hingga hanya bisa menelan ludahnya.


...----------------...

__ADS_1


...Ya ampun... mulai berkelok kelok 🤭...


...Seperti biasa, jangan lupa dukungannya 🥰...


__ADS_2