
"Assalamu'alaikum, malam. " ucap Rio dengan suaranya yang lesu seharian dia bekerja keras dan setelah malam baru dia bisa pulang dan istirahat.
Seperti biasa dia akan selalu mengantarkan Kirana dulu ke rumah nya sebelum dia pulang ke rumah nya sendiri. meskipun Kirana bisa pulang sendiri atau mungkin di jemput oleh anak buah nya tapi tetap saja itu tidak terjadi karena bos besar lah yang memintanya secara langsung siapa lagi kalau bukan Airin.
Kedua orang tuanya Rio yang tengah duduk di sofa pun langsung menyahuti salam dari Rio, dan menoleh ke arah anak tunggal mereka yang berjalan dengan malas " Wa'alaikumsalam," jawab kedua orang tuanya bersamaan.
Mamanya Rio hanya menggeleng kepala heran anak satu-satunya ini terus saja pulang malam. tak pernah pulang lebih awal padahal dia tau kalau Rio hanya bekerja sebagai dosen saja namun tak tau pekerjaan sebenarnya yang telah di sembunyikan oleh Rio.
" sampai kapan kamu mau pulang malam terus, Rio.?" tegur Mama Rio.
Rio yang sudah bergabung duduk di sofa hanya menatap mamanya malas, seharusnya dia langsung ke kamar nya saja daripada bergabung duduk dan pasti akan mendapatkan omelan dari Mamanya.
" Rio kerja, Ma. " jawab Rio malas.
Rika Mama nya Rio berdecak mendengar jawaban anak nya sangat selalu saja seperti biasa, kerja, kerja. Emang kerja apa sampai Rio selalu saja pulang terlambat seperti sekarang ini.
" Ck.. Sampai kapan kamu akan seperti ini Rio? kamu sudah dewasa umur mu juga sudah menginjak kepala tiga, apa kamu tidak malu dengan teman-teman sebaya mu yang sudah mempunyai satu bahkan ada ada yang sudah punya dua anak. " sarkas Rika.
Orang tua mana yang tak khawatir pada anaknya yang tak kunjung menikah di usianya yang sudah 29 tahun itu. semua teman-teman nya Rio sudah mempunyai anak sedangkan Rio sendiri? berfikir untuk menikah pun sepertinya belum terlintas di otaknya.
" apa sih, Ma.! Rio pasti akan segera menikah tapi bukan sekarang! Rio juga belum menemukan yang pas untuk Rio, Ma" jawab Rio yang langsung kesal.
Agung Papa nya Rio yang sedari tadi diam, mendengarkan perdebatan antara istri dan anak nya akhirnya angkat bicara, yang pasti akan lebih menyudutkan Rio untuk segera mencari pendamping.
" Rio, Mama kamu benar. kamu sudah seharusnya memikirkan masa depan kamu,! kami sudah tua, Rio. kami juga ingin merasakan seperti yang teman-teman Mama dan Papa rasakan!. menimang cucu, bermain bersama, dan juga jalan-jalan bersama cucu sendiri, Rio." imbuh Agung menyudutkan.
Rio semakin kesal. bukan nya dia tak memikirkan masa depan nya untuk berkeluarga, tapi Rio hanya belum mendapatkan yang pas saja di hatinya. bahkan beberapa cewek yang Rika kenalkan pun tak dapat menggoyahkan hatinya yang benar-benar masih kokoh dan belum pernah tersentuh akan cinta.
Rio beranjak dengan mood nya yang benar-benar tak bersahabat, meraih kembali tasnya yang sempat dia taruh di sofa sisi nya dia duduk tadi.
" Rio capek, Rio mau istirahat " ketusnya dan segera melenggang dengan cepat, berlari menaiki satu persatu anak tangga untuk membawanya ke kamar nya yang berada di lantai dua.
" Rio,,!! Mama belum selesai bicara,!! teriak Rika keras.
Rio sama sekali tak bergeming dengan teriakan Rika, dia begitu lelah hati, pikiran dan juga tenaganya. dan istirahat lah satu-satunya jalan untuk menghilangkan semua itu.
Rika menoleh pada Agung dengan wajah kesal, lagi-lagi kata-kata dan sarannya tak di dengar oleh Rio.
" Lihat lah anak Papa itu, dia selalu saja bertingkah semaunya sendiri tanpa memikirkan orang tuanya" ucap Rika kesal.
Agung yang notabene orang yang sangat sabar hanya bisa menghela nafas panjang di saat berada di situasi yang seperti saat ini.
" Sudah lah,Ma. Rio sudah besar. dia pasti bisa memikirkan yang terbaik untuk nya. dan mungkin dia hanya tidak mau kita terlalu mengurusi masalah pribadi nya. " ujar Agung penuh kesabaran.
" Tapi Pa. Kita ini orang tuanya loh, bukan orang lain "
__ADS_1
" Sudah sudah. percaya saja dengan Rio, pasti dia juga sedang memikirkan itu sekarang. sudah, yang penting kita doakan saja yang terbaik untuk Rio, Ma. " imbuh Agung terus berusaha membuat Rika mengerti.
######
Rio menghempaskan tubuh nya dengan kasar di kasur miliknya. menatap langit-langit, mengingat semua akan kata-kata Rika barusan yang di lontarkan untuk nya.
Rio sadar dia sudah tak lagi muda, dia harus memikirkan untuk mesa depan nya juga tak harus dengan pekerjaan nya terus menerus.
Rio berusaha memejamkan matanya mencoba untuk mengistirahatkan semua anggota tubuh nya yang sangat lelah, melupakan kepenatan yang di timbul kan karena desakan orang tuanya untuk segera menikah.
" kembalikan dong pak, itu punya Kirana.!!.
Baru saja matanya benar-benar akan terpejam suara dari Kirana tadi berhasil membuat nya kembali terjaga. " Astaga,, " gumam nya dengan lirih dah hampir tak percaya, kenapa tiba-tiba suara Kirana terngiang di benaknya.
Rio kembali duduk mengacak rambutnya dengan kasar dan pikiran yang benar-benar frustasi. " Argghhh.. "" geramnya pada dirinya sendiri.
" ada apa dengan ku, bisa-bisanya suara Kirana terus berputar seperti kaset di kepala ku, arghhh..!! "
Rio termenung. senyum nya terukir dengan sendirinya saat mengingat kejadian tadi saat bersama dengan Kirana.
" Kirana tidak buruk.. " cicitnya tanpa sadar dengan tatapan kosong menjangkau jauh ke depan dengan senyuman yang tidak luntur sedikit pun dari wajah nya.
FLASHBACK.....
Kirana turun dari mobil begitu antusias, matanya yang tadinya sudah sayu-sayu karena mengantuk sekarang terlihat terang benderang setelah melihat rumah makan dengan papan menyerukan " Rumah makan Padang " di depan matanya.
" Yuk pak " Seru Kirana heboh.
Kirana berjalan dengan cepat, masuk rumah makan padang tersebut dengan semangat, bahkan Kirana dan Rio berjalan sedikit jauh karena Rio yang berjalan terlalu santai di belakang Kirana.
Kirana kembali menoleh karena tak mendapat Rio di sebelah nya, langkah nya terhenti dan berdiri sejenak menunggu Rio dengan tak sabar.
" cepetan pak. lihatlah cacing-cacing Kirana sudah terus berkonser. " teriak Kirana.
Rio mempercepat langkahnya setelah mendapatkan teriakan dari Kirana, tak mau juga sampai orang-orang yang ada di sana melihat nya.
" Iya iya" jawab Rio.
Langkahnya mereka pun kini berdampingan, masuk ke rumah makan itu dengan bersamaan.
mereka berdua duduk di paling ujung, karena hanya tempat itulah yang tersisa. seperti hari-hari biasa nya tempat itu selalu ramai tapi itu lah yang membuat Kirana semakin senang untuk makan di sana.
Semua pesanan mereka telah datang, membuat Kirana tak sabaran untuk memakan semuanya. Sambel lombok hijau dan juga rebusan daun singkong adalah salah satu teman nasi yang selalu saja Kirana kangenin, makan nya tak akan lengkap kalau tak ada keduanya itu.
" Hmm,,,, enaknya " Kirana mengangkat mangkuk kecil berisi sambal hijau dan menghirup terlebih dahulu sebelum memakannya, itu adalah rutinitas yang tak pernah dia lupakan saat berada di sana.
__ADS_1
Rio tak habis pikir, cewek seperti Kirana menyukai makanan yang sederhana itu tak banyak lauk yang Kirana minta, asalkan sudah ada keduanya itu Kirana sudah sangat menikmatinya.
" doyan, atau lapar kau ini? " sinis Rio menatap Kirana yang sudah mulai memakan makanan nya dengan lahap.
" hehehe,, dua-duanya pak " Kirana mendongak dan meringis setelah itu memperlihatkan pada Rio berapa dia benar-benar menyukai makanan itu dan juga sangat lapar.
" emang itu enak? " tanya Rio tapi pertanyaannya keluar karena sangat meragukan akan rasa yang sudah menjadi makanan favorit Kirana itu.
dengan cepat Kirana mengangguk, ini enak bahkan sangat enak bagi Kirana, tak akan ada duanya lagi. " perfect.. " Kirana mengangkat tangannya dan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya.
" benarkah? "
" Hm... , coba saja kalau pak Rio nggak percaya" jawab Kirana.
Rasa penasaran membuat Rio mencicipi makanan itu dari piring Kirana yang dia sodorkan untuk nya. tak mungkin kan Rio akan meminta pada pelayan kalau hanya mau mencicipi saja. " coba sini" ucap Rio
Kirana mengamati wajah Rio saat mencicipi makanan itu. entah kata apa yang akan keluar dari mulut Rio.
" enak. " ucap Rio.
Ucapan Rio yang hanya satu kata berhasil mengubah ekspektasi Kirana akan lidah Rio yang selalu memakan makanan yang serba enak.
" enak kan,? udah di bilangin juga " ketus Kirana.
Tangan Kirana kembali menarik piring yang sempat berada di hadapan Rio barusan dan kembali memakannya.
Karena merasakan memang enak Rio pun tak mau kalah dan memesan yang sama seperti Kirana, tapi sayangnya, makanan yang sama sudah habis baru saja.
Tanpa aba-aba Rio langsung mengambil piring Kirana dan memakan makanan nya yang mana membuat Kirana protes dan berteriak tak rela.
"'kembalikan dong pak, itu punya Kirana!! teriak Kirana dengan kesal.
"'Pak,,!!! balikin!! lagi-!! seru Kirana yang kedua
Teriakan Kirana mah masa bodo buat Rio, yang terpenting sekarang dia ingin memakan nya
" Pak Rio,,!! Kirana menekuk wajah semakin kesal pada Rio, berkali-kali dia teriak tapi tak mendapatkan jawaban .
" Hmmm. " jawab Rio asal dan tampa menoleh sedikitpun pada Kirana.
" Hmmm, Pak, balikin!! teriak Kirana lagi dan lagi.
" Hmm"" dan hanya berdehem saja sebagai jawaban dari Rio, yang pasti membuat Kirana semakin kesal dan dongkol.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1