Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
65.Nara Kusuma


__ADS_3

Fadil terduduk lemas di sebuah taman. merenungi semua perbuatan yang selama ini telah membuat nya menjadi orang yang gila akan harta dan kekuasaan dan mengakibatkan di jauhi dari semua sahabat dan kerabatnya.


matanya menatap berapa bebas nya kupu-kupu terbang. tak ada yang menghalangi mereka untuk pergi dan singgah ke manapun dia mau. mereka sangat bebas berterbangan dan berdiri tegak di sebuah kuntum bunga yang mereka inginkan. mereka memang bukan binatang yang begitu berarti namun sekali mereka di lihat mereka akan di kagumi dan di sukai oleh banyak orang.


seandainya bisa lebih baik hidup seperti mereka bisa berterbangan tanpa pusing akan iming-iming surga dunia yang begitu menyesatkan.


setelah puas disana Fadil putus kan untuk berkeliling mencari udara segar yang akan membuat nya lebih tenang dan rileks. meskipun masih dengan wajah yang sedikit lebam itu tak masalah. lagian itu juga bukan hal yang buruk.


baru kali ini Fadil benar-benar merasakan kesepian. ternyata benar banyak harta bukan berarti akan menjamin sebuah kebahagiaan. bertahun-tahun Fadil mengejar harta hingga dia tak bisa bergaul dengan orang lain dan sekarang dia benar-benar merasakan betapa sepinya hidup tampa adanya seorang teman ataupun sahabat.


" seandainya dulu aku tak gila harta mungkin sekarang aku sedang bersenang-senang dengan teman-teman seperti yang lain. " gumam Fadil menyesal.


penyesalan memang selalu datang belakang. tak akan ada yang tau jika yang kita lakukan akan membuahkan sebuah penyesalan ataupun kebanggaan untuk masa depan.


Brukk...!!


Fadil tertabrak seorang dari belakang. hampir saja orang itu terjatuh namun dengan cepat Fadil menangkapnya. dan akhirnya mereka pun tetap terjatuh bersamaan dan gadis itu tepat berada di atas Fadil.


seorang gadis berkacamata dengan rambut panjang dan menutupi wajah mereka yang hampir saja menyatu. mata yang tajam saling menatap dengan dalam meskipun tersekat dengan kacamata gadis itu tapi tetap saja itu bisa terlihat dengan jelas.


" woii jangan kabur loh..!! teriak orang yang seperti nya tengah mengejar gadis itu.


gadis itu secepatnya berdiri dan bersembunyi di balik semak yang di tumbuhi tumbuhan yang lebat. sedangkan Fadil juga secepatnya bangun dan melihat ada dua orang yang tengah berlari mendekatinya.


" mas, apa mas lihat ada gadis berkacamata dan rambut panjang lewat sini.? tanya salah satu dari mereka.


Fadil melirik kearah gadis itu sekejap terlihat gadis itu menggeleng dan memohon untuk menyembunyikan keberadaan nya pada mereka. " maaf Pak tapi sedari tadi saya tidak melihat ada orang yang datang kesini. mungkin orang yang anda cari berlari ke tempat yang lain. " jawab Fadil berbohong.


" oh ya sudah makasih ya Mas. kami permisi " pamit mereka.


gadis itu keluar dari persembunyian nya setelah kedua orang itu pergi. dengan nafas lega gadis itu melangkah ke arah Fadil yang masih setia berdiri di sana. " ma- makasih ya Mas. " ucap gadis itu.


" kenapa mereka mengejar mu.? apa kamu membuat masalah pada mereka.? tanya Fadil.


" ti-tidak Mas. mereka hanya mau menangkap saya karena saya tengah kabur dari rumah. mereka adalah suruhan dari papa saya. jawab gadis itu dengan nafas yang sesekali masih tersengal.


" kenapa kamu kabur.?


" karena saya tidak mau di jodohin. jadi saya terpaksa kabur. ya sudah saya pergi dulu mas, sekali lagi terimakasih telah menolong saya. " pamit nya.


" tunggu.!! teriak Fadil dan gadis itu kembali menoleh " kamu mau pergi kemana.? tanya Fadil.


" nggak tau.?


" Hmm.? bagaimana kalau kamu tinggal di tempat ku dulu untuk sementara. lagian dengan terus berada di jalanan seperti ini kecil kemungkinan untuk tidak tertangkap pada orang suruhan orang tua mu. ya itu jika loh nggak keberatan sih. " tawar Fadil.


"'Hmm..??


" tenang saja aku tidak akan mungkin menyakiti mu. ya meskipun aku bukan orang yang baik sih karena masih terlalu banyak dosa di dalam diriku . tapi aku janji tidak akan menyakiti ku. "


" Hmm? boleh deh tapi beneran ya. awas kalau sampai bohong. "


" iya iya. " ketus Fadil.


Mobil berhenti pas di garasi rumah pribadi Fadil. rumah yang sangat besar dan juga mewah tak kalah dari rumah Papa nya. Fadil pun segera mengajak gadis itu turun dan masuk ke dalam rumah nya.

__ADS_1


" oh ya.! siapa namamu.? tanya Fadil.


" Saya Nara. kalau Anda.?


" saya Fadil. dan ini rumah saya. semoga kamu betah di sini. " ucap Fadil dan Nara pun mengangguk dan tersenyum kecil.


"mana ada gadis yang tidak betah tinggal di rumah semewah ini. hanya orang bodoh yang tak ingin tinggal " Batin Nara.


" mari masuk. " ajak Fadil.


sebenarnya Nara sedikit heran. memang rumah itu sangat besar namun tak perlu juga ada banyak penjaga di setiap titik rumah. seakan terasa sebuah penjara bukan rumah sih menurut Nara.


Nara masuk dengan takut matanya tak henti-hentinya melirik ke arah semua penjaga yang berdiri tegak dengan tatapan yang sangat fokus. bahkan Nara sangat gemeteran, takut.? itu pasti. siapa yang tidak takut masuk di tempat asing dan dalam keadaan yang sedemikian.


melihat langkah yang ragu Fadil tersenyum melihat ketakutan Nara. Fadil sadar betul bahwa keberadaan para penjaga itulah yang menakuti Nara.


" kalian semua pergilah. dan berjaga di luar. " suruh Fadil.dan semuanya pun mengangguk dan pergi.


" tidak usah takut mereka orang-orang baik. mereka hanya menjaga rumah ini atas perintah saya. " ucap Fadil.


" Mas. sebenarnya ini rumah apa penjara sih. jangan bilang mas membawa Nara kesini karena ada maksud yang terselubuk. atau jangan-jangan Mas orang yang tidak baik ya.? atau jangan-jangan mas mau menjual Nara pada hidung belang. atau jangan-jangan mas mau membuat Nara kerja rodi.? ucap Nara dengan banyak pertanyaan.


" Saya memang bukan orang baik Nara. tapi saya juga tidak sejahat itu. Saya masih punya hati nurani dan lagian saya juga takut sama dosa. mungkin memang dulu saya orang yang sangat jahat tapi tidak setelah hari ini. saya sadar bahwa semua itu tak akan pernah berujung baik. dan itu semua karena dia. " Jawab Fadil dan membayangkan betapa beruntung nya Fadil mengenal Airin dan membuatnya bisa berubah menjadi yang lebih baik.


" Dia siapa.?


" hem.. bukan siapa-siapa.. " jawab Fadil " Bi Susi.!! panggil Fadil dan salah satu Pelayan datang menghampiri Fadil dengan berlari.


" iya Den." jawab Susi.


" Bi, antarkan Nara ke kamar kedua. " pinta Fadil


" baik Den. " jawab Susi patuh. " mari Non, ikut dengan Bibi. " ucap Susi.


" baik bi." jawab Nara dan mengikuti langkah Susi menuju kamar yang di maksud oleh Fadil.


setelah kepergian Nara ,Fadil pun pergi ke kamar utama kamar kebanggaan nya. kamar yang paling besar dari yang lainnya dan di sanalah Fadil bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.


Fadil menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar. dia benar-benar merasa lebih baik sekarang. bahkan hatinya lebih tenang setelah meminta maaf pada keluarga David dan itulah kebahagiaan yang sebenarnya sekarang. kebahagiaan itu datang jika hidup dengan tenang dan hidup bisa tenang jika tak mempunyai musuh.


" terimakasih Airin. karena kamu lah sekarang aku bisa merasakan kebahagiaan ini. rasa yang telah aku miliki untuk mu ternyata benar karena sebuah obsesi yang di sebabkan karena adanya kebencian saja. bukan sebuah cinta. makasih Rin, terimakasih. " gumam Fadil.


******


" mari masuk Non. " ucap Susi


langkah Nara semakin berat rasanya dia benar-benar tak pantas berada di sana. rumah itu sangat megah dan indah tak pantas jika kedatangan seorang yang tak layak seperti dirinya. bahkan Nara pun tak akan pernah pantas masuk kedalam kamar itu.


" Tapi Bi.? ucap Nara ragu dan terus berdiri di depan pintu dan sangat enggan untuk masuk.


Susi tau apa yang ada di pikiran Nara. dengan melihat wajah nya saja Susi sudah tau jika gadis yang di depannya itu gadis yang baik.


Susi kembali dan menarik tangan Nara untuk segera masuk.


" masuk lah Non.ini adalah perintah dari Den Fadil. Non sangat beruntung bisa masuk ke dalam kamar ini. sebelumnya tak ada yang bisa masuk ke sini. Bibi pikir Non adalah orang yang spesial bagi Den Fadil. " ucap Susi.

__ADS_1


" Bibi bicara apasih. Nara hanya orang asing yang di tolong oleh mas Fadil. kami baru saja bertemu mana mungkin bibi bisa bicara seperti itu. " ucap Nara.


" oh. berarti Bibi yang salah. sekarang istirahat lah dan panggil Bibi jika membutuhkan sesuatu. "


" iya bi" jawab Nara.


mata Nara terus melihat keindahan kamar itu bahkan tubuhnya pun ikut berputar untuk bisa melihat semuanya dengan jelas.


Nara begitu mengagumi kamar itu kamar yang tidak sebanding dengan kamar nya sendiri. bahkan kamar nya sendiri mungkin hanya seperempat dari kamar itu.


perlahan Nara duduk di kasur tangannya membelai lembut kasur yang sangat besar itu. sungguh nyaman jika bisa tidur di sana. mungkin dulu semua itu hanya sebuah mimpi untuk bisa sekedar masuk ke kamar yang sangat besar seperti itu dan sekarang semuanya telah nyata. bahkan Nara bisa tidur dan menikmati kenyamanan tidur di kamar yang sangat mewah.


" apa ini nyata.? apa aku tidak sedang bermimpi sekarang.? bingung Nara.


Nara merebahkan tubuhnya di atas kasur rasanya benar-benar sangat nyaman jika bisa tidur terlelap dan mungkin mimpi yang indah pun akan datang.


" ya Tuhan ini benar-benar sangat nyaman. " gumam Nara dengan terus mengelus bantal dan guling yang sangat lembut.


" ini benar-benar seperti istana dalam dongeng. semuanya benar-benar indah dan sangat nyaman. "


Nara kembali bangun dan segera berdiri. Nara berjalan dan duduk di depan meja rias. bahkan meja rias nya saja sangat besar, ini sungguh menganggukkan.


Nara melepaskan kaca matanya dan melihat pantulan wajahnya yang sangat cantik namun tetap terlihat samar-samar karena matanya benar tak mampu melihat dengan jelas.


" wajah ini benar-benar tak pantas berada di sini. seharusnya aku tak ikut dengan mas Fadil. rumah ini akan kotor dengan kedatangan ku, dan udara di sini akan tercemar karena nafas yang keluar dariku. " gumam Nara.


" apa aku harus pergi sekarang. aku juga tak mau menjadi benalu di sini. meskipun aku hanya akan tinggal di sini beberapa hari, tetap saja aku akan merepotkan mereka kan. "


Nara keluar dari kamar dan mencari keberadaan Fadil untuk pamit pergi. dia tak akan bisa tinggal di sana semakin lama lagi.


Kebetulan Nara berpapasan dengan seorang pelayan dan Nara pun bertanya padanya dimana keberadaan Fadil sekarang.


Nara berdiri dengan sangat gugup di depan pintu kami Fadil dan dia juga sangat takut untuk mengetuk pintu.


tok tok tok


Dengan keberanian Nara pun mengetuk pintu dengan perlahan. " Mas Fadil, bisa bicara sebentar. " ucap Nara namun Fadil seperti nya tengah tidur dan tak mendengar nya.


berkali-kali Nara mengetuk pintu namun Fadil tak kunjung keluar. Nara pun putuskan untuk bicara dengan Fadil nanti setelah Fadil keluar. dengan berat hati Nara pun kembali ke kamar yang tadi.


suara ketukan terdengar sangat jelas di telinga Nara. Nara pun berlari dan membukakan pintu melihat siapapun yang datang dan ternyata adalah Fadil yang berdiri di sana dengan tangan berada di saku celananya.


" Nara." panggil Fadil.


" iya Mas. oh ya Mas, sebenarnya Nara.? Nara mau pamit Nara harus segera pergi. "ucap Nara.


" pamit.? kenapa.?


" Nara merasa tak pantas di sini Mas. jadi Nara harus cepat pergi dari sini. " terang Nara takut.


" kamu jangan berfikir seperti itu Nara. kamu tinggal lah di sini untuk sementara waktu. setelah di luar benar-benar aman maka kamu bisa pergi kemanapun kamu mau. " jawab Fadil.


" tapi Mas. "


" sudah ,tinggallah. "

__ADS_1


" tapi.?


Fadil membelai pundak Nara dan meyakinkan nya untuk tinggal. dengan berat hati Nara pun menerima saran dari Fadil dan tetap tinggal di rumah Fadil.


__ADS_2