
Di dalam kamar Airin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami, niat hati ingin menolong namun ia justru mendapatkan perlakuan seperti itu.
Sudah lama ia tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki, bahkan terakhir ia pacaran di saat ia masih di bangku sekolah SMA. Itupun bisa di bilang hanya cinta monyet.
Setelah ia memasuki dunia kerja, hari-harinya hanya ia habiskan untuk bekerja tidak ada yang lain.
Namun hari ini, mantan atasannya itu secara tidak sadar begitu saja menciumnya. Bahkan bisa di bilang memaksanya.
*
*
Pagi harinya seperti hari hari sebelumnya Bian terbangun dengan kepala pening yang mendera.
Di saat pandangannya sudah jelas, ia seketika terduduk. Ia merasa asing dengan tempatnya sekarang. Tempat seperti kamar, namun tidak lebih besar dari kamar mandi nya.
"Bapak sudah bangun!" Pertanyaan dari Pras mencuri perhatian Bian.
Pria muda dengan seragam office boy di perusahaannya.
Pras pagi ini sudah rapi, ia sudah mengenakan seragam kerjanya. Sebenarnya ia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak, kehadiran Bian tentu berpengaruh. Apalagi Bian adalah pemilik perusahan di mana ia mangais rezeki.
Pras baru saja masuk dengan sgelas teh hangat di gelasnya, teh yang ia beli dari warung depan kos.
"Ini Pak teh nya, silahkan di minum." Bian masih hanya diam, ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia juga tidak menolak pemberian Pras.
Bian meminum teh hangat yang masih sedikit mengepulkan asap.
"Apa kamu yang membawa saya ke sini?" tanya Bian. Karena ia ingat jika semalam ia berada di klub.
"Bukan Pak, Airin yang membawa Bapak. Katanya dia melihat Bapak tidak sadarkan diri di jalan." Beritahu Pras.
"Airin?"
Bian sedikit lupa dengan sosok yang bernama Airin, sudah beberapa waktu ia sama sekali tidak bertemu.
Pras terdiam sebentar. "Pengasuh Non Kania."
Bian seketika mengingatnya, apalagi Airin bukan hanya pengasuh adiknya namun juga sahabat dari Alda.
Bian terdiam, beberapa potongan kejadian semalam tiba-tiba bermunculan di ingatannya.
Bukankah semalam Alda yang datang?
Alda yang datang kembali?
__ADS_1
"Kamar kos Airin ada di depan kamar kos saya Pak, dia semalam meminta tolong kepada saya karena dia tidak mungkin --"
Belum selesai Pras berbicara Bian begitu saja berdiri.
Bian mencoba mengingat jelas sebenarnya apa yang terjadi semalam, tentang dirinya dan Alda semalam.
Ia mulai ragu dengan apa yang dilihatnya semalam, dan rasa itu? Apa memang bukan Alda?
Ia keluar dari kamar kos Pras, di saat itulah bertepatan Airin yang juga keluar dari kamarnya.
Sejenak mereka berdua terdiam, namun Airin kemudian melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana. Rasa marah itu tiba-tiba datang kembali begitu melihat wajah Bian.
Bian bisa melihat, jika tatapan Airin tidak seperti sebelumnya. Dan apa itu tadi! Tanda merah keunguan yang berada di leher putih Airin.
"Sial!" Kini ia benar-benar sudah ingat tentang apa yang terjadi semalam.
Seketika saja Bian mengejar langkah Airin, terlihat gadis itu sudah berada di pinggir jalan.
"Bapak apa-apa sih?" Airin yang semakin geram karena kini Bian begitu saja mencekal tangannya.
"Ayo ikut aku!" Bian menghentikan taksi yang melintas, dan memaksa Airin untuk iku bersamanya.
"Pak saya nggak mau!" Airin berusaha keluar dari taksi, tapi Bian sendiri juga bersikeras menahan kepergiannya.
"Siap Tuan," tentu saja supir taksi itu langsung tancap gas. Baginya ini adalah rezekinya di pagi hari.
*
*
Kini Airin berada di salah satu unit apartemen mewah di kota ibu kota, apartemen yang tidak jauh berbeda dengan milik Riko.
Mereka berdua duduk berhadapan hanya terhalang oleh meja, Airin membuang muka karena tidak mau melihat wajah Bian.
Apalagi kejadian di dalam taksi tadi membuatnya semakin kesal kepada pria itu, di mana Bian begitu saja melepas ikat rambutnya. Dengan alasan.
Aku tidak suka melihat rambutmu terkuncir.
Yang benar saja, bukannya ia sejak dulu juga sering menguncir rambutnya ketika menjadi pengasuh adiknya.
Lagi pula apa haknya seperi itu, mereka tidak terikat hubungan apapun dan itu seharusnya salah satu dari mereka tidak boleh bertindak seolah olah berhak.
Bahkan sekarang Bian membawanya dengan paksa ke apartemennya.
"Sebenarnya apa yang terjadi semalam?" Bian ingin memastikan lagi.
__ADS_1
Airin melirik tajam ke arah Bian. "Tidak terjadi apa-apa," sahut Airin ketus. Ia beranjak dari duduknya. "Saya ingin kembali pulang."
Bian tentu saja tidak akan melepaskannya begitu saja, ia menahan kepergian gadis itu. "Benarkah! Lalu ini?" Tangannya mengusap tanda merah yang berada di leher Airin.
Airin terdiam, ia masih berpikir. Segera ia menepis tangan Bian, ia teringat dengan apa yang di lakukan pria itu pada lehernya.
Airin menutupnya dengan tangannya sendiri. "Itu bukan urusan Bapak." sungutnya.
Sudut bibir Bian sedikit tertarik membentuk senyuman. "Jadi benar apa yang aku ingat semalam." ketika wajah Alda yang ia lihat pertama kali, namun semakin lama berganti wajah seorang gadis yang ternyata itu adalah Airin.
"Sudah saya katakan jangan bahas itu," Airin benar-banar geram, apalagi melihat ekspresi Bian.
"Bukankah itu hanya sebuah ciuman? Kenapa harus semarah itu?" Bian dengan entengnya.
Airin mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Bukankah itu hal biasa?" Kata Bian, tapi melihat reaksi Airin yang tidak biasa membuatnya berbikir sejenak. "Jangan-jangan itu yang pertama?" tebaknya.
Airin sejenak memejamkan matanya, dengan nafas yang mulai memburu.
"Ayolah, ini sudah jaman modern." Bian terus mengoceh.
Plak.
Satu tamparan Airin berikan.
"Saya pikir orang terpelajar seperti bapak akan tau cara bagaimana menghargai perasaan orang lain, namun nyatanya Bapak tidak punya itu."
"Tidak pernakah Bapak berpikir jika mempunyai seorang adik perempuan dan Ibu, dan mereka adalah sama-sama seorang wanita. Bagaimana jika mereka mendapat perlakuan sama seperti apa yang Bapak lakukan kepada saya?"
"Atau memang Bapak sudah tidak punya empati? Oh ya saya lupa, bahkan Bapak saja bisa berbuat seenaknya terhadap istri orang lain."
Airin membuang nafasnya kasar setelah meluapkan apa yang membuatnya sesak.
Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Bian yang terpaku.
Melihat punggung Airin yang menghilang di balik pintu, Bian mengeraskan rahangnya. Ia tidak menyangka jika gadis yang dulu di lihat nya lemah lembut bisa berbicara seperti itu.
Airin yang sudah tiba di kosnya segera menunci diri di dalam kamar, air matanya lagi-lagi mengalir begitu saja.
"Apa begitu susah bagi mereka untuk meminta maaf pada seseorang yang telah di sakitnya? Di sela isak tangisnya.
...----------------...
...Ya ampun mulutnya si Bian...
__ADS_1