
Setelah bersembunyi dari keluarga Alda, Bian akhirnya membawa Airin menuju ke tempat mobilnya berada. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan gadis itu dan tempatnya sekarang sudah tidak aman lagi.
Entah kemana Bian akan membawa Airin, yang jelas mobil itu terus melaju tanpa Airin ketahui tujuannya.
"Pak kita mau kemana?" Airin mulai terlihat gelisah. Sudah beberapa saat Bian mengemudikan mobilnya namun tidak ada tanda-tanda berhenti. "Kalau bapak ingin bicara kita bisa mencari tempat sekitar sini."
Bagaimana Airin tidak gelisah, Bian sudah membawanya jauh dari rumah sakit. Bahkan bisa di katakan ia sekarang sudah hampir melewati perbatasan kota.
Bian hanya melirik sekilas pada Airin, namun ia tidak berniat untuk memberhentikan laku mobilnya.
Airin mengeluarkan HP nya, ia berniat menghidupkan GPS. Pikiran buruk tentang Bian tiba-tiba memenuhi pikirannya, ia takut jika Bian melakukan sesuatu terhadapnya.
Mata Airin melotot ketika Bian begitu saja merampas ponsel yang berada di tangannya. "Pak," ia tidak terima.
"Jangan harap kamu bisa menghubungi seseorang," tuduh Bian.
Ia tidak mau sampai ada orang lagi yang mengetahui hubungannya dengan Alda. Hubungan cinta kasih yang terulang kembali tetapi di waktu yang tidak tepat.
Bian sendiri tidak mempersalahkan Alda yang sudah berumah tangga, karena ia menyadari jika ketika dulu mereka berpisah juga karena kesalahannya.
Bian terlalu mementingkan urusan pekerjaannya hingga semakin lama tidak ada waktu bersama dengan Alda. Lambat laut akhirnya Alda memilih mengakhiri hubungan mereka, untuk apa menjalani hubungan tanpa ada komunikasi.
Di saat kehilangan lah Bian baru menyadari jika Alda begitu berharga, hingga meskipun Alda sudah menikah ia tidak memperdulikan itu, selama cinta Alda masih ada untuknya.
__ADS_1
Tiga puluh menit perjalanan mobil Bian baru berhenti.
Airin sedikit bergidik ngeri melihat tempatnya berada sekarang. Entah bagaimana Bian bisa tau tempat seperti ini.
Pemandangan sekitar tampak sepi tidak ada lalu lalang kendaraan, pepohonan yang cukup besar membuat jalan itu sedikit gelap meskipun masih pagi. Udara dingin pun seketika menusuk tulang.
Bian hanya tersenyum miring melihat wajah Airin yang semakin cemas. "Aku tau semua tentang kehidupan kamu, bahkan keluarga kamu yang berada di kampung." Ia mulai berbicara, lebih tepatnya mulai sedikit menekan Airin. "Jika sampai kamu berani buka suara terhadap siapapun, kamu tinggal pilih siapa yang akan menerima akibatnya terlebih dahulu." ucapnya tanpa basa basi.
Dada Airin terasa sesak mendengar ucapan Bian. Padahal dari awal memang ia tidak berniat untuk ikut campur urusan mereka, hanya takdirnya sebagai teman Alda yang membuat ia terseret dalam hubungan mereka.
*
*
Bagaimana bisa ia harus menanggung akibat jika ada orang lain yang tahu hubungan mereka. Seandainya ada orang lain yang tahu bukan karenanya bagaimana? Apa dia juga yang harus di salahkan?
"DORR!!" Kania yang baru pulang sekolah dengan sengaja mengagetkan Airin. "Kakak ngelamun aja," ia kemudian duduk di sampingnya.
Airin yang sempat terkejut kemudian menoleh pada Kania, wajah murungnya hilang seketika terganti oleh senyum manisnya.
Melihat wajah riang Kania, mengalihkan sejenak masalahnya. Masalah yang di sebabkan oleh kakak gadis itu.
"Tidak melamun, hanya sedang tidak ada pekerjaan, jadinya hanya duduk saja. Mau minum apa?" Airin beranjak dari duduknya. Seperti biasa ia akan menyiapkan minuman untuk Kania.
__ADS_1
"Seperti biasa saja," sahut Kania. "Oh ya, bagaimana keadaan teman Kak Airin?"
Airin yang sedang membuatkan minuman sejenak berhenti, tapi kemudian ia sekolah menoleh pada Kania dan tersenyum. "Sudah lebih baik, tapi sayangnya bayinya tidak dapat di selamatkan."
"Andai saja kamu tau jika itu adalah anak dari kakakmu?" batin Airin.
"Kasian sekali, semoga cepat di berikan bayi lucu lagi." Doa Kania.
"Amin," Airin juga berharap yang terbaik untuk Alda.
Melihat Kania dan Sofiana yang begitu baik, entah darimana Bian mempunyai kepribadian yang seperti itu.
Hingga tiba saatnya sore, Airin memutuskan pulang karena jam kerjanya sudah berakhir.
Ketika ia baru saja akan keluar dari rumah, ternyata Bian juga baru saja pulang.
Airin hanya menatapnya sekilas dan sedikit membungkukkan badan, setelah itu ia berlalu dari sana. Ia dan Bian seperti tidak terjadi sesuatu, begitupun dengan Airin yang menghormati Bian sebagai anak majikannya.
Setelah ia mengetahui sosok asli seorang Bian, tentu saja mengubah pandangan Airin. Jika dulu ia menatapnya dengan kagum sebagai pengusaha muda yang sukses dan memiliki wajah yang rupawan, kini semuanya lenyap sudah. Tidak ada lagi rasa kagum pada Bian.
Andai saja ia ada yang menawari pekerjaan baru, pasti ia akan pergi dari lingkungan yang berhubungan dengan Bian.
...----------------...
__ADS_1
...SELAMAT TAHUN BARU 😀🎉🎉...