Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
10. Hujan


__ADS_3

Hujan


 


Hujan tidak pernah bilang kapan dirinya hadir, tapi dia hanya memberi tanda bahwa dia akan menyapa bumi.


Sepertinya itu juga cukup, mengingat berapa banyak air yang akan dia tumpahkan dari langit, sepertinya terlalu berat walau hanya berkata, hai.


Hujan, tahukah kamu bahwa banyak manusia yang merutukmu saat kau menangis? Tapi, ada banyak juga yang mengharapkan sentuhan basahmu, yang ....


Membawa kesejukan, menghapus kekeringan dan menghangatkan cinta kasih dua insan dalam pelukan penuh minat, manakala dengan kehadiranmu, mereka akan lebih bersemangat.


Hujan, terkadang kau menjadi saksi bagi derai air mata. Sebagian wanita lebih senang menenggelamkan dirinya dalam setiap tetesanmu, saat mereka menangis karena dengan begitu, aliran tangisannya tidak akan terlihat.


Hujan, temani mereka yang tampak seperti munafik, mereka yang menangis tapi masih bisa tersenyum, bersedih tapi tampak bahagia, terluka hatinya tapi terlihat baik-baik saja, atau mereka yang ingin pergi tapi tidak bisa, diabaikan tapi masih menghargai orang yang mengabaikannya.


Hujan, silakan kalau memang masih ingin menyelesaikan tugasmu di sini, tapi, jangan terlalu lama, sebab di antara tanah kami, ada yang tidak siap menampung airmu hingga menjadi derita.


***


Winsi mengangguk setelah Meri bertanya,  berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga sahabatnya, bahwa dia akan baik-baik saja. Dia tahu tidak bisa pergi saat hujan sangat deras seperti ini, hatinya terlalu takut untuk menembusnya, dengan kilat dan petir yang menyambar-nyambar di atas kepala. Ada sedikit sesal mengapa ayah Meri tidak menjemput mereka, dengan membawa payung seperti biasanya.


Orang terakhir yang bersamanya pun pergi, dia melihat sekelilingnya yang mulai sepi, sehingga, akhirnya dia nekat pulang dengan berlari-lari kecil menembus derasnya hujan. Dia bisa naik angkutan umum, tapi dia tidak memiliki uang karena hilang. Dari sekian banyak rupiah yang dia punya, nyatanya Cuma bisa mendapatkan segelas es Boba.


Dalam hati dia terus berdoa meminta perlindungan dari kilat dan petir yang menyambar. Seperti yang tertuang dalam Al Quran surat Ar Raad ayat 12. Winsi sudah mengapalnya dengan baik.


Sebuah mobil berjalan dengan kecepatan tinggi melewati air yang menggenang di jalan, membuat cipratan cukup besar dan mengenai tubuh Winsi. Jaket, tas dan semua yang dipakainya menjadi kotor.

__ADS_1


“Hai!” teriak Winsi dalam keputusasaan, tapi sekuat apa pun dia berteriak tidak bisa membuat pengendara mobil itu menghentikan kendaraannya.


“Ah, jadi kotor, kan? Padahal mau aku pake besok ke sekolah!” Winsi kembali berteriak kesal. Bahkan terlalu kesal, hingga dia menendang botol kosong bekas air mineral di depannya dengan kuat, sebagai pelampiasan. Botol itu memang terpental jauh ke jalanan, tapi mengakibatkan tubuhnya tidak seimbang membuatnya tersungkur ke trotoar.


Winsi meringis merasakan sakit di telapak tangan dan lututnya. Sedangkan sepatu usang di kakinya semakin tidak keruan warnanya. Dia kesal seperti sebagian orang yang mengumpat pada saat hujan turun, karena beranggapan hujan akan menghancurkan segala rencana.


Susah payah dia berdiri dari posisinya jatuh tadi, terlihat rapuh dengan isakan tangis kecil yang tidak ada seorang pun tahu, kecuali sang Maha segalanya. Hujan telah mengaburkan pandangan dan air wa matanya yang mengalir nyaris tak terlihat.


Tubuh kurusnya menggigil kedinginan, bibirnya membiru dan mulai gemetar, itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit dipukuli bapak. Dia jadi terbiasa dengan rasa sakit, sedangkan isakan tangis hanyalah pelipur lara. Bukan berarti dia cengeng.


Dia sudah lulus, sekarang sudah lebih besar karena sudah kelas tujuh, harus lebih kuat, hingga kelak dewasa dia akan jadi seorang gadis yang tangguh dan cantik, seperti kata ibunya.


Winsi baru saja melangkah ketika ada sebuah mobil sedan hitam, berhenti tepat di sampingnya.


“Masuk!” kata seorang lelaki dari balik jendela mobil yang terbuka. “Ayo masuk! Kamu mau pulang, kan?” Ada banyak air hujan masuk lewat jendela saat dia bicara.


Melihat Winsi yang hanya diam saja, sementara hujan masih mengguyur tubuhnya, Arkan mematikan mesin,  keluar dan mengitari mobil untuk membuka pintu bagian penumpang.


“Masuklah, ayo Bapak antar pulang,” ucapan Arkan itu membuatnya terkejut karena menyebut kata bapak?


Lagipula Winsi gugup, tapi menurut pada Arkan dan duduk di kursi penumpang samping kemudi. Malu-malu dia menatap pria yang kini duduk dengan gagah, sekilas. Lalu, melihat ke jalanan di depannya ketika mobil mulai  melaju.


“Kenapa kamu hujan-hujanan?”


Ditanya demikian, Winsi bingung harus menjawab apa, sebab banyak sekali alasannya. Selain karena terpaksa, dia tidak memiliki uang untuk membayar angkot, tidak ada yang menjemput dan tidak punya payung pula. Kalau saja tidak ada petir, dia senang juga hujan-hujanan. Biar bagaimanapun juga Winsi tetaplah anak kecil.


“Maaf, kursinya basah.” Winsi justru mengatakan hal lain di luar konteks pertanyaan Arkan. Akan tetapi, pria itu tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, nanti bisa dikeringkan. Kenapa kamu sendiri, mana temanmu yang lain?”


“Sudah pada pulang.”


“Jadi kamu sendirian, nggak ada yang jemput?” Winsi diam dan hanya mengangguk dengan bibirnya yang terkatup.


Biasanya gadis itu akan banyak bicara, tapi di hadapan Arkan, dia merasa takut. Tubuh laki-laki ini lebih tinggi dari bapak, tapi wangi tubuhnya saat mereka berdekatan tadi, sangat enak, tidak seperti bapak.


Arkan melihat anak itu sekilas, dengan tatapan yang rumit. Perjalanan mereka tidak jauh, sebab tempat tinggal mereka cukup dekat. Dia tahu anak gadis itu adalah buah hati Runa dan suaminya, dan dia pikir wajahnya sangat mirip sehingga, melihat gadis itu, seperti melihat wanita yang dulu pernah dicintainya, saat mereka masih remaja.


Pertama kali dia bertemu wanita itu, saat berada di perempatan jalan sedang menjajakan makanan. Dia sempat terkejut dan hampir tidak percaya, siapa yang menduga bila sekarang bisa kembali melihat Runa, setelah hampir dua puluh tahun lamanya.


Mereka pernah bersekolah di tempat yang sama di kampung halamannya. Setelah lulus, sekolah menengah pertama, Arkan dituntut untuk melanjutkan sekolahnya ke luar negeri bersama kedua orang tua yang akan merintis usaha baru mereka di sana.


Arkan kembali ke Nusantara setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, lalu, sibuk mengembangkan bisnisnya sendiri karena tidak ingin tergantung pada kedua orang tuanya. Dia sudah melupakan Runa, gadis manis yang sempat mencuri hatinya. Sebab jarak dan waktu yang memisahkan mereka.


Arkan waktu itu sudah menemukan wanita tambatan hatinya, hingga lahirlah Erlan, buah cinta mereka. Akan tetapi wanita yang telah membuatnya menjadi sosok pria seutuhnya itu, kini telah tiada karena penyakit berat yang merenggut nyawanya. Istrinya pergi meninggalkan, setelah beberapa tahun berjuang bertahan hidup, bertemankan penyakitnya.


Setahun sejak kematian istrinya, Arkan memutuskan pindah rumah dengan niat melupakannya, atau tepatnya setelah Erlan menginkak sekolah dasar. Dia tidak menyangka di tempat baru ini, akan melihat Runa. Pertemuan itu membuatnya mengingat kembali cinta lamanya, tapi dia tidak tahu apakah Runa mengingat cinta mereka atau tidak. Dia tahu, masing-masing mereka sudah menikah dan memiliki seorang anak, tapi dia ikut bahagia melihat keluarga kecil Runa pun bahagia.


“Apa ibumu ada di rumah?”


 


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, give dan votenya”

__ADS_1


__ADS_2