Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
39. Terima Kasih Ya


__ADS_3

Terima Kasih Ya


 


Anas tercengang mendengar ucapan Winsi yang begitu lugas serta menunjukkan kepolosan seorang anak, tapi terasa sangat riskan. Otaknya memikirkan bagaimana kehidupan yang dijalani Runa selama ini apabila semua yang dikatakannya itu benar.


‘Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga itu?’ batin Anas.


Begitu terhanyut pria Itu dalam pikirannya sehingga tidak menyadari jika Erlan berdiri di antara mereka, anak remaja itu tadi berteriak memanggil Winsi karena menghawatirkannya.


Tukang kebun rumah besar itu masih memikirkan Runa sambil menatap Winsi dengan tatapan tak percaya. Dia menyimpulkan jika selama ini Basri tidak pernah mengakui gadis kecil itu sebagai darah dagingnya.


Anas menggerakkan kepalanya sebab, rasanya tidak percaya dan aneh jika Runa menjadi wanita yang tidak setia. Dia mengenal Runa sebagai ibu rumah tangga yang baik dan pekerja keras. Kebetulan kakek mereka berasal dari kota yang sama, Tasikmalaya. Membuat mereka dengan cepat menjadi akrab.


Selama berada di rumah itu pun Runa sangat hati-hati dalam menjaga diri dan pergaulannya. Jadi, tidak mungkin rasanya bila Winsi bukanlah anak kandung dari suaminya.


“Mang, Anas! Urusin Ismi sana!” kata Erlan yang sukses memecahkan gumpalan pikiran di otak pria itu tentang Runa.


Seketika Anas terperanjat dan dengan cepat menoleh pada Erlan sambil tersenyum malu, ekspresi wajahnya seperti pencuri yang ketahuan melakukan aksinya di rumah seseorang. Dia tahu bila sebagai seorang asisten rumah tangga, tidak bisa mengusikn kehidupan wanita yang dilindungi majikannya padahal, dia sangat penasaran.


“Tapi, Ismi sudah saya kasih makan, Den,” sanggah Anas dengan tenang, dia masih ingin berada di sana untuk menanyakan beberapa hal pada anak gadis Runa.


“ Masa, sih? Kok dia nangis terus?” sahut Erlan.


Anas memalingkan pandangan, dia menyadari akal-akalan Erlan yang mencoba mengusirnya dengan cara halus untuk mengurus kera kecil kesayangannya. Ya, anak remaja itu memelihara seekor kera kecil berbulu putih, yang terkadang mengeluarkan suara seperti orang yang sedang menangis apabila dia lapar.


“Iya, Den. Saya kasih makan sekarang ... Bilang saja mau berdua sama Neng Win, pakai nyuruh ngasih makan Ismi segala. Alasan ...” sahut Anas sambil mencebik karena dia tahu keinginan Erlan yang ingin ngobrol berdua dengan Winsi.


“Ck! Pergi sana! Hus ... Hus!” Erlan mengibaskan tangannya dia bermaksud bercanda mengusir Anas dengan cara seperti mengusir ayam keluar dari dalam rumah.


“Win, kamu baik-baik aja kan?” tanya Erlan setelah berlalunya Anas. Dia memberanikan diri untuk bertanya karena melihat bingsi tidak menolak kehadiran dirinya. Wajah Gadis itu pun terlihat biasa saja dan pandangan matanya datar, tidak galak atau menunjukkan permusuhan seperti hari-hari sebelumnya


Winsi tidak menjawab pertanyaan Erlan, dia menarik nafas panjang dan duduk di atas rerumputan. Erlan mengikutinya dan duduk di sebelah gadis yang tengah merapikan jilbab lalu, dia mendongak melihat ke langit yang mulai senja. Mereka berdua menikmati suasana tenang di atas sana, sebuah ruang tanpa batas yang memantulkan sinar matahari dengan lembut.


Sejenak kemudian Winsi menoleh pada Erlan dan tersenyum membuat pria itu tercengang sesaat tapi, dengan segera bisa menguasai diri.


“Aku baik, apa kamu kuatir padaku?” kata Winsi datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


“Ya.” Erlan berkata jujur dia tidak ingin mengecewakan Winsi dengan mengatakan hal buruk. Sebab, sejak kejadian pintu kamar yang tertutup Arkan menasihatinya agar dia tidak bersikap negatif pada apapun di hadapan gadis ini.


Erlan membalas senyum Winsi, gadis itu tampak mengerutkan alis seolah mencari kejujuran di wajahnya. Dia tahu bila Gadis itu sama sekali tidak percaya padanya. Padahal, Erlan benar-benar mengkhawatirkannya.


“Kalau kamu gimana, apa kamu juga baik? Ah ... Seharusnya aku nggak usah nannya, kan, orang seperti kamu punya segalanya, pasti hidup kalian baik-baik saja nggak pernah ada masalah.” Winsi berkata sambil memalingkan muka dan tertawa kecil seperti menertawakan dirinya sendiri.


Dia menganggap Erlan hanya berusaha menyenangkannya dan itu percuma! Tidak mungkin kalau remaja yang selalu memanggilnya Anak Buluk itu punya perhatian tulus padanya. Perkataan Winsi itu membuat mulut Erlan tidak bisa bicara.


Sepertinya Winsi mengungkapkan isi hati sehingga Erlan hanya tersenyum menanggapinya sebab, pada kenyataannya, dia jusru tidak memiliki sesuatu yang sangat berharga yaitu kasih sayang seorang ibunda akan tetapi Gadis itu mengacuhkannya.


‘Apa dia selama ini di rumah tidak bisa melihat aku hidup tanpa seorang ibu? Jadi siapa bilang aku memiliki segalanya dan tidak punya masalah Yang benar saja!’


“Lan, Terima kasih ya?”


“Untuk apa aku nggak ngasih kamu apa-apa kok!”


“Tapi, Kalau aku nggak kenal kamu mungkin aku nggak akan tahu soal Anas!”


“Anas? Mang Anas maksudmu? Jadi, benar dia orang yang kamu cari?”


“Sebenarnya, Apa hubungan kamu sama orang yang namanya Anas?”


“Aku nggak tahu, tapi, kata Bapak, Anas itu Bapakku.”


“Apa?” Erlan begitu terkejut, lalu kembali bicara, “ Jadi, kamu bukan anak Om Basri, begitu?”


Winsi menggelengkan kepalanya isyarat yang menunjukkan makna ambigu bagi Erlan, apakah dari gelengan kepala itu, artinya tidak tahu atau bukan.


“Terima kasih, ya, Lan!” kata Winsi tanpa menjawab pertanyaan Erlan. Hatinya terasa sedikit lega, setelah mengatakan semua beban yang selama ini dia tanggung sendiri, kepada orang lain


Winsi memang sedikit lega setelah berbicara dengan Anas, tapi masih ada rasa penasaran di hatinya tentang nama itu. Dia benci dengan rasa penasaran seperti ini.


‘Kamu pikir hidupku mudah dengan menyandang sebutan anak haram?’ batin Winsi sambil memalingkan pandangan saat dia menangkap perubahan raut wajah Erlan.


Pria itu tampak mengerutkan keningnya begitu dalam karena berpikir atas apa yang baru saja dikatakan oleh Winsi, dia tahu bila Erlan mungkin penasaran setengah mati.


Dengan berat hati akhirnya Winsi menceritakan kejadian di mana kesalahpahaman terjadi sehingga Basri kemudian menyangka bahwa dirinya bukanlah anak kandungnya

__ADS_1


Setelah mendengar semuanya Erlan mengusap wajah berulang kali dengan telapak tangannya. Dia tidak menyangka bahwa masih ada cerita yang menyedihkan lagi selain kekerasan dan kekejaman yang diberikan Basri kepada anak gadisnya.


Jadi inilah yang membuat Winsy secara wajar mempunyai sifat pendiam, rendah diri atau minder. Akan tetapi, dalam beberapa hal dia  menunjukkan sikap lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.


“Lan, kamu tahu nggak kenapa aku cerita sama kamu?”


“Hm ... Hmm ....” Erlan bergumam sambil menggelengkan kepalanya.


“Kamu sudah tahu, kan, soal kejadian di penjara? Jadi, aku pikir nggak masalah kalau kamu juga tahu semuanya tentang aku apalagi kamu juga sudah tahu gimana sikap Bapakku. Iya, kan?”


Erlan sebenarnya berusaha menutupi jika dirinya sudah mengetahui tentang kejadian di penjara waktu itu, hanya saja ekspresi wajahnya tidak bisa melakukannya hingga Winsi bisa dengan mudah mengetahuinya.


“Itu memalukan ya, aku cuma berharap kamu nggak benci sama aku tapi, kalau kamu benci juga nggak masalah, soalnya aku sadar diri, kok!”


Dari ucapan Gadis itu, bisa diukur seberapa parah dan dalam jiwanya terluka.


“Aku nggak benci sama kamu, Win,” sahut Erlan.


“Oh, ya? Terima kasih kalau begitu,” kata Winsi sambil berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya, guna membersihkan pakaian dari sisa rumput dan tanah yang menempel. Lalu, dia beranjak menjauh dari Erlan namun, selangkah kemudian dia membalikkan tubuhnya kembali.


“Oh, ya ... soal uang wisata sekolah ... Dulu kamu pernah bilang kalau uang itu dikasih buat aku?”


Mendengar pertanyaan itu Erlan kembali terdiam karena dia baru menyadari, setelah mendengar kisah Winsi, pada saat dia mengantarkannya ke penjara. Wajar bila gadis ini tidak menikmati uangnya karena mungkin sudah disalahgunakan oleh Basri—bapaknya.


Winsi kembali melihat perubahan pada raut wajah Erlan, dia tersenyum kecil lalu berkata, “Terima kasih kamu sudah baik sama aku Ibu dan Bapakku.”


Setelah berkata demikian, Winsi benar-benar melangkah meninggalkan Erlan yang masih mencerna ucapan terima kasih darinya.


‘Seharusnya dia marah kan Apa dia sudah rela kalau ternyata bapaknya sudah mengambil haknya? Astaghfirullah’ gumam Erlan sambil terus melihat punggung Winsi yang bergerak meninggalkannya menjauh.


Benar apa yang digumamkan dalam hati Erlan bahwa, Winsi memang sudah merelakan uang yang seharusnya menjadi haknya karena tidak ada guna, mengungkit hal memalukan itu kembali sedangkan bapaknya tidak akan pernah mau mengakui.


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2