Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
22. Antara Dua Wanita


__ADS_3

Antara Dua Wanita


Basri melihat Runa dengan kesal, dia menarik napas panjang dan menepuk pundak istrinya, agar tenang. Sikap itu sedikit menenangkan Runa dan juga dirinya sendiri. Dia Hampir saja marah ketika tadi dibangunkan padahal, sedang tidur nyenyak. Akan tetapi, ketika dia tahu bahwa ada Nira di ruang tamu, seketika hilang sudah rasa kantuk dan amarahnya.


Melihat dan menemukan Nira, seperti memiliki saudara, apalagi gadis itu pandai menyenangkan hati dengan memuji dan bersikap manja. Runa sudah hampir tidak pernah melakukan hal itu padanya, sejak kematian anak kedua mereka. Dia merasa wanita yang menjadi pasangannya memang manis dan melakukan tugas-tugas seorang istri dengan Baik, tapi tidak pernah lagi bersikap manja, apalagi memuji seperti Nira.


“Kamu tenang saja, nanti aku beli tempat tidur baru untuk anakmu.” Basri berkata setelah menyelesaikan tepukan di bahu istrinya. Dia bersikap baik pada semua orang karena tidak ingin dianggap menjadi laki-laki yang buruk. Janjinya pada Nira sebagai saudara adalah akan selalu menjaga serta membantu gadis itu memenuhi apa yang dibutuhkan.


“Kalau begitu, biarkan barang-barang Winsi di sini, kamar belakang itu kecil, nggak cukup buat nyimpan meja belajarnya.” Runa berkata sambil meraih tangan Winsi, yang sedari tadi hanya diam lalu, mengajak anak itu keluar. Dia kembali berkata, “Ayo! Kita bereskan kamar belakang.”


Sesampainya di sana, Runa membungkuk dan menyapu wajah anaknya lekat-lekat, meraih bahunya, sambil berkata perlahan-lahan, “ingat ... kamu hanya tidur di sini kalau ada Bapakmu di rumah saja, tapi kalau tidak, kamu bisa tidur sama ibu. Kamu mengerti, kan?”


“Ya,” jawab Winsi sambil mengangguk cepat. Dia mengerti tanpa harus diberi penjelasan.


Tidak masalah bagi Winsi, untuk merahasiakan di mana dia tidur apabila bapaknya tidak ada, bahkan, berada di gudang sendirianpun tidak apa karena dia bukan anak yang penakut. Tidak ada yang lebih menakutkan baginya selain pukulan dari ikat pinggang Basri pada tubuhnya. Merahasiakan sesuatu, atau beberapa hal yang dia lakukan bersama ibunya saat bapak tidak ada, itu mudah saja.


Membereskan gudang, dari mulai membuang barang-barang yang tidak berguna, merapikan kembali lalu, membersihkan sisanya, ternyata memerlukan waktu yang tidak sebentar. Mereka berhasil menyelesaikannya, setelah hari sudah larut malam. Keduanya pun lelah bahkan Runa tidak sempat menyiapkan makan malam.


“Bu, aku lapar.” Winsi berkata sambil mengusap peluh di dahinya. Dia belum sempat mandi sejak pulang tadi, sekarang sudah larut malam, rasanya sudah terlalu lelah hanya untuk membersihkan diri.


“Ayo! Kita bkikin mie saja.” Runa menjawab sambil melangkah keluar dan tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya, menyulap gudang menjadi kamar anak yang layak.


“Kemana Bapak, Bu,?”

__ADS_1


Mereka keluar kamar sambil menengok ke kanan dan ke kiri memeriksa keberadaan Nira dan Basri. Akan tetapi dua mahkluk itu tidak ada di sekitar. Namun, baik Runa maupun Winsi tidak perduli, ke mana bapak dan adik angkatnya itu pergi.


“Biarkan saja kemana perginya bapakmu, mereka nggak bilang kan? Jadi mana mungkin Ibu tahu ....”


Runa masih kesal dan mengingat betapa dirinya sangat cemburu tadi, saat melihat Basri langsung tersenyum ceria, menemui Nira yang tengah duduk di sofa ruang tamu, menunggunya. Wajah yang semula cemberut, berubah menjadi semringah, bahkan memeluk Gadis itu di depan matanya tanpa ragu-ragu.


Sejenak, dia menangkap seringai tipis di sudut bibir gadis dalam pelukan suaminya. Dia tahu, maksud seringaian Nira yang menunjukkan kemenangan atas dirinya.


Melihat hal itu, Runa meradang dengan suara keras, menunjukkan siapa yang paling berhak atas suaminya. Dia mengatakan sebuah kebenaran, bahwa, walaupun, mereka sudah menjadi adik dan kakak angkat, tetap saja mery bukan mahram. Mana boleh mereka saling berpelukan sembarangan karena sangat memalukan.


Akan tetapi, sekeras apa pun Runa menolak hubungan dan niat baik suaminya pada Nira, Basri tidak menggubrisnya. Pria itu tetap saja bersikap layaknya sepasang kekasih pada adik angkatnya dan tidak merasa bersalah sedikit pun. Dia menganggap semua yang mereka lakukan adalah sebuah kewajaran. Akh ... yang benar saja!


Hati Runa bagai ditumbuk dengan tumbukan besi dan nyaris rata pada tulang belulang dalam tubuhnya. Semua karena dia mendengar pernyataan dan kesanggupan Basri untuk menanggung hidup Nira, mempersilakannya tinggal di rumah dan meyakinkan agar gadis itu melenjutkan kuliahnya, sampai berhasil mendapatkan gelar sarjana.


“Dahlah ... kamu nurut saja apa kata suamimu ini, Run!” jawab Basri sambil berdiri membawa Nira ke kamar Winsi.


“Tapi, Pak?” Runa berkata sambil berusaha menahan langkah mereka.


“Jangan kuatir, aku nggak akan mengurangi jatah belanjamu tiga ratus ribu seminggu!” tukas Basri.


Sementara Nira menahan tawa mendengar pernyataan pria di sampingnya tentang berapa jumlah uang belanja yang diberikan pada Runa—istrinya.


“Pak, kalau biaya makan bertiga sama dia, mana cukup uang segitu, belum lagi untuk biaya listrik dan air?” Runa kembali menyatakan keberatannya.

__ADS_1


“Kamu kira aku nggak tahu apa, kamu punya uang dari daganganmu? Harusnya kamu jangan pelit bantu suami cari nafkah, kan uangnya juga buat memenuhi kebutuhan kamu sendiri?” Basri menyanggah tak bisa di kalahkan.


Dia seolah berada di persimpangan, antara dua wanita. Istrinya berada di satu jalan dan Nira berada di jalan lainnya. Dia tidak bisa melepaskan Runa yang sangat bermanfaat untuk dirinya, tapi dia juga menyukai kelembutan dan kemanjaan Nira yang membuatnya begitu bahagia.


Namun dia tidak bisa menikahi Nira, selain karena belum dewasa, dia benar-benar tulus menyayanginya sebagai adik dan ingin menjadi kakak yang berhasil mewujudkan cita-citanya.


‘Oh. Jadi, selama ini dia tahu, tapi tahu dari mana?’ batin Runa.


“Memang benar, kalau suami tidak mampu dalam hal nafkah, istri tidak boleh menuntut, tapi, nggak begini caranya. Kalau suami tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, ya suami juga harus membantu pekerjaan istrinya, tidak boleh semena-mena!”


:Apalagi, harus mengurus wanita lain yang tidak ada hubungan sama sekali dengan istrinya!’ batin Runa, sementara wajahnya bersungut-sungut.


‘Masih mending kalau wanita ini baik dan punya tatakrama, tapi, wanita ini nggak punya etika!’ batinnya lagi.


Setelah selesai makan malam, Winsi meraih tangan ibunya, meminta agar menemani sebentar sebelum dia benar-benar bisa terlelap. Suasana masih baru, dan gadis itu perlu menyesuaikan diri, lagipula ini kesempatan untuk bermanja lagi. Mendapatkan belaian tangan Runa seperti obat yang menyembuhkan luka hati dan fisiknya.


“Bu, tadi aku ketemu Erlan lagi, dia mau mengajakku sekolah di SMP Bunga Bangsa yang mahal itu. Dia pikir kita siapa?”


Runa tertegun sejenak, lalu, bertanya, “Terus, kamu bilang apa?”


Bersambung


“Jangan lupa, like, komen, give dan vote nya. Bantu dukung ya Guys ... Terima kasih”

__ADS_1


__ADS_2