Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
15. Pemandangan Yang Lebih Menyakitkan


__ADS_3

Pemandangan Yang Lebih Menyakitkan


Pandangan Runa mengikuti arah yang ditunjukkan Winsi, dengan menyipitkan mata. Hatinya tiba-tiba bergemuruh karena dia memang melihat Basri, berada di seberang jalan dan semua yang dilakukannya sangat jelas terlihat dari tempatnya dan Winsi berada.


Dua orang berlawanan jenis duduk dalam mobil truk yang biasa dipakai mencari nafkah. Kebetulan mobil itu mogok di pinggir jalan, saat itulah wanita yang berpakaian ketat datang mendekat dan Basri tidak mampu menolak pesonanya.


Runa masih muda, begitu pula wanita yang duduk di samping suaminya tapi, wanita itu lebih seksi dan menggoda tidak seperti dirinya.


Basri tampak begitu gembira bersama wanita yang bermanja, bergelayut mesra di lengan dan menyandarkan kepala di bahunya. Seketika hati Runa begitu perih seperti sedang dilubangi, dengan serpihan kaca, matanya menghangat karena mulai berair. Dia masih menghormati suaminya, walau sering berbuat kasar dan tidak mengakui anaknya sendiri, serta menuduhnya berselingkuh tanpa bukti. Kesalahannya bertambah di mata Runa karena kali ini, dia mencondongkan hatinya pada wanita lain.


Runa memalingkan pandangan karena tidak kuat melihat sesuatu yang bisa menjadi kesenangan bagi orang lain, tapi kesedihan bagi orang lainnya. Ini adalah hal yang lebih menyakitkan dari pada ditampar atau ditendang dengan sekuat tenaga. Dia benar-benar akan berpisah bila, terbukti benar suaminya berselingkuh.


Semua yang Basri tuduhkan padanya tidak masuk akal sebab Basri hanya melihat selintas saja, ada seorang lelaki dalam kamarnya, padahal itu keadaan darurat, bahkan ada saksi bahwa dia tidak melakukan apa pun dengan pria yang menolongnya. Akan tetapi yang dilihat Runa adalah sesuatu yang berbeda, mereka dengan jelas terlihat begitu mesra dan, sesekali Basri mencium punggung tangan wanita di sampingnya.


“Ayo! Win, kita pulang. Berskan dulu semuanya,” kata Runa pada akhirnya. Dia melirik anak gadisnya yang masih melihat bapaknya di seberang sana begitu bahagia, tapi bukan dengan ibu atau dirinya. Pandangan Winsi begitu nanar, bahkan air matanya membayanginya dan kekecewaan terlihat jelas pada raut wajahnya.


‘Siapa perempuan itu?’ batinnya.


Melihat Winsi tetap diam dan tidak melakukan perintahnya, Runa menepuk pundak anaknya lalu, dia berkata, “Sudah, jangan dilihat terus bapakmu, kita pulang saja.”


“Ya, Bu.”

__ADS_1


Winsi tersadar dari pikirannya dan segera menuruti perintah ibunya, dia berkemas memberskan tempatnya berjualan, dan membawanya kembali ke rumah. Akan tetapi dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang siapa wanita yang sudah merebut kebahagiaanya dan ibunya. Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui apa itu perselingkuhan di dunia orang dewasa, tapi dia cukup tahu bahwa hal itu membuatnya tidak enak lalu, merasakan kebencian seperti awan mendung bila hendak turun hujan, semakin lama semakin tebal dan gelap.


*****


Beberapa hari kemudian, Basri pulang setelah hari hampir menjelang sore. Saat dia memasuki rumah, Runa tidak menyambutnya seperti biasa. Keadaan rumah rapih dan Runa tidak menampakkan batang hidungnya.


‘Kemana perempuan itu?’ batin Basri dan dia mengitari seluruh ruangan sambil memanggil-manggil nama istrinya, tapi tidak ada susra yang menyahut panggilannya. Dia lelaki kasar yang sebenarnya tetap membutuhkan seorang istri dalam hidupnya dan, menghadapi keadaan seperti ini, dia merasa khawatir bila, Runa meninggalkannya.


“Runa! Keluar kamu, jangan bercanda. Kamu ada di rumah, kan? Runa!” teriaknya sambil berjalan kesegala penjuru rumah, apalagi dia sangat lapar. Baginya, makanan yang dimasak Runa sangatlah enak.


Basri duduk di sofa ruang tamunya yang kecil, sambil menyalakan sebatang rokok. Lalu, pikirannya melayang pada masa-masa yang dilaluinya selamaini dengan istrinya. Dia sudah semena-mena selama ini kepada Runa dan anaknya, tiba-tiba ada rasa sesak menjalari dadanya sesaat setelah dia merasa rumahnya begitu sepi. Hatinya juga seperti ikut ditarik dalam kesepian, mengingat dirinya telah banyak berbuat kejam.


Akan tetapi, dia merasa semua yang dilakukannya pada Runa seperti memukul dan menampar, adalah wajar sebagai suami yang harus ditaati. Apalagi dia yang telah bekerja keras mencari nafkah, sedangkan istrinya hanya seorang yang kebetulan dia nikahi lalu, tinggal bersama di rumahnya. Harusnya seorang istri bersyukur ... memukul dan menampar itu merupakan pelajaran, agar sang istri tunduk pada suaminya.


Kini setelah lama berpikir dan sadar bahwa dia tidak pernah membahagiakan Runa akhir-akhir ini, rasa bersalah kembali mendera. Berbagai pikiran buruk mencuat dalam benaknya, bahwa dia benar-benar sudah di tinggalkan. Memikirkan kembali semua perbuatannya pada Runa dan Winsi, dia memaklumi bila dua wanita itu akhirnya pergi. Ahk ... kalaupun memang Winsi bukan darah dagingnya sendiri, tidak seharusnya dia bersikap begitu kasar, sebagai bentuk kemanusaiaan.


Basri berniat untuk pergi keluar rumah saja, menemui wanita lain yang mungkin bisa menyenangkannya malam ini dan, baru saja dia hendak membuka, pintu itu sudah terbuka dari luar. Tampak Runa dan Winsi berdiri di depan pintu sambil memegang mukena dan kitab suci di tangan mereka.


“Kapan Bapak pulang?” Winsi bertanya setelah mengucapkan salam. Tanpa menunggu, dia meninggalkan kedua orang tuanya ake kamar. Dia bertanya, tapi sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Raut wajahnya kusut dan menunjukkan ketidaksukaannya.


“Dari mana, kalian!” tanyanya kemudian.

__ADS_1


Basri merasa kesal dengan anak itu, rasa kesal dan marah yang antah kapan akan hilang. Setiap kali melihat Winsi, maka yang dia lihat adalah bayangan lelaki di kamar bersama istrinya, baik di rumah ataupun di rumah sakait. Kebetulan macam apa yang terjadi sebanyak dua kali? Apalagi waktu itu dia tidak memiliki banyak uang, hingga dia berpikir bila Runa menjual diri, demi mendapatkan penghasilan.


Runa pun bersikap acuh tak acu, bahkan terkesan mengabaikan Basri, seoalah-olah hanya lalat yang terbang di udara. Dia masih ingat semua yanga dilihatnya beberapa hari yang lalu, hingga merasa jijik dan marah, tapi dia tahan sekuat tenaga karena dia tidak ingin mendapatkan kemarahan, hari demi hari sellau melelahkan.


“Bikinin kopi! Aku juga lapar ...” kata Basri memberi perintah. Dia sudah hampir menyerah kalah bila dia di tinggalkan, namun nyatanya tidak, Runa masih ada dan dia bisa menuntaskan hasratnya malam ini.


“Kamu, dari mana?” tanya Basri kemudian, sambil duduk di meja makan, di mana Runa sudah menyiapkan sebelum kepergiannya ke mushola dan menemui seorang teman yang bisa memberinya pandangan ruhani. Sudah lama dia tidak mengunjungi temannya itu.


Runa tetap diam, dia malas sekali bicara dengan suami ini. Sejak kemunculannya, dia tidak bicara dan menanyakan sesuatau seperti biasanya, wanita itu akan terus berceloteh memecahkan kesunyian.


“Runa, aku tanya kenapa diem? Kamu dengar nggak sih aku ngomong?” kata Basri sambil berdiri dan melotot pada istrinya, hilang sudah rasa sesal yang tadi sempat ada.


“Ya dengar,” jawab Runa singkat dan tanpa ekspresi.


Setelah selesai menyiapkan minum dan makanan ke piring, Runa pergi begitu saja ke kamarnya. Sikapnya kembali menimbulakan kecurigaan Basri, sebab baisanya dia akan menemaninya sampai selesai.


“Runa, kesini kamu!”


“Kenapa, si Pak. Ibu itu capek. Biarin istirahat!”


“Kamu?”

__ADS_1


“Ya, aku kenapa?”


bersambung


__ADS_2