
Bilang Padaku
“Tunggu!” kata Winsi begitu kaca jendela mobil itu hampir saja tertutup. Dia berpikir tidak mungkin pulang dengan menggunakan kendaraan umum sementara bajunya basah kuyup. Bisa saja orang menduga bahwa dia anak yang ceroboh sehingga bajunya basah, atau mencandainya sudah mandi di siang hari.
Erlan menghela napas panjang dan melirik Winsi dari jendela, lalu membuka pintu mobil agar Winsi segera masuk. Setelah gadis itu duduk, tanpa sengaja tangan Erlan menyentuh tas yang basah hingga kedua alisnya berkerut.
Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang, hanya sesekali Hasnu melirik pada dua remaja yang duduk pada kursi penumpang belakang, melalui kaca spion di depannya.
“Kenapa tas dan bajumu basah?” tanya Erlan Setelah sekian lama diam. Pandangannya menelisik ke arah pakaian Winsi yang basah. Gadis itu duduk berjauhan dan lebih memilih mendekati pintu mobil dari pada dirinya. Dia terlihat canggung!
“Nggak apa-apa,” jawab Winsi tanpa menoleh pada Erlan.
“Jangan bohong, kamu. Mana ada kamu mandi di sekolah?” kata Erlan lagi sambil menahan tawa, kali ini sukses membuat Winsi melirik padanya meski dengan acuh tak acuh.
Erlan memalingkan pandangannya dan melihat keluar jendela, masih dengan senyum lucu di bibirnya, mengejek Winsi yang basah kuyup.
Tidak masalah bagi Winsi ditertawakan anak ini sebab dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mungkin membalasnya, akan apalagi Erlan sudah memiliki sabuk hitam dalam ilmu bela diri taekwondonya.
Gadis itu tahu tentang kemampuan Erlan, saat secara tidak sengaja, dia melihat sekilas seragam taekwondo teronggok di jok kursi depan. Itu adalah seragam dengan logo salah satu perguruan yang cukup terkenal di kota, bahkan sudah sabuk hitam. Jadi, dia tidak bisa macam-macam dengan pria ini.
Erlan tahu kalau Winsi berbohong, tapi dia tidak akan mendesak agar gadis itu bicara tentang apa yang telah terjadi pada dirinya kecuali, atas kemauannya sendiri.
‘Aku harap kamu mengakui dengan jujur, Win, apa yang sudah kamu alami, apa ada yang mengerjaimu? Bilang padaku!’
“Bukan urusanmu!” Akhirnya itulah ucapan yang keluar dari mulut Winsi.
Erlan menyandarkan kepalanya, menarik napas sebentar lalu melirik gadis yang duduk di sampingny, dia ingin sekali bila Winsi mengakuinya dengan jujur tentang apa yang dialami.
__ADS_1
Dia ingat saat dahulu, pertama kali melihat Winsi bersembunyi di mobilnya dengan ekspresi wajah begitu ketakutan, tak lama sesudah itu dia melihat Basri yang keluar rumah dengan terburu-buru sambil membawa ikat pinggang di tangannya.
Dalam pikirannya, Erlan menduga bila Winsi saat itu tengah menghindar dari bapaknya yang akan berbuat zolim. Sejak saat itu, timbul naluri kecilnya ingin melindungi terlepas dia mampu atau tidak, bahkan dia tidak tahu apakah Winsi akan menerimanya atau tidak.
Mobil berhenti di depan rumah Winsi dan saat hendak turun, Erlan membukakan pintu dengan mengulurkan tangannya melewati tubuh Winsi, membuat gadis itu tersentak dan reflek memundurkan badannya ke sandaran kursi.
Laki-laki remaja itu berkata, setelah duduk kembali. “Bilang kalau ada yang usil sama kamu, atau ngerjain kamu.”
Winsi menoleh dan berkata, “Bilang sama siapa?”
“Sama akulah!”
“Sama kamu?”
“Ya. Kenapa memangnya?”
Erlan mendengus kesal sambil menutup pintu mobil. Setelah mobil kembali berjalan menuju ke arah rumahnya, dia berkata pada Hasnu yang tengah mengemudi. “Ayah, bantu aku menyelidiki apa yang terjadi pada Wiwin hari ini, bisa tidak?"
“Baik, Den. Bisa ...."
“Bisa kan kita cari informasi soal CCTV jalan kota?”
“Bisa, tapi ... apa harus bilang dulu pada Tuan besar?” jawab Hasnu sopan.
“Tidak perlu. Ayah pasti maklum, aku tidak akan melakukan itu kalau tidak ada masalah.”
“Baik,” sahut Hasnu sambil mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah."
Hasnu siap membantu keinginan laki-laki yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Erlan juga memintaannya agar mengambil beberapa rekaman kamera pengawas pada beberapa instansi yang terkait. Mengingat permintaan seperti itu tidak akan bisa dilakukan bila tanpa melibatkan pihak berwenang setempat.
Keluarga Arkan, bukanlah aristokrat sebuah kawasan, bukan pula penguasa kota di mana mereka tinggal sehingga bisa seenaknya saja meminta rekaman kamera pengintai. Akan tetapi, memiliki banyak mitra kerja dan bisnis yang siap diajak bekerja sama dalam banyak hal. Sehingga untuk hal semacam ini akan sangat mudah untuk menangani.
Erlan hanya perlu menghubungi beberapa teman dan kenalan yang juga menuntut ilmu di sekolah yang sama dengan Winsi. Dia juga bisa melihat beberapa rekaman kamera jalan, maka dia langsung tahu tentang semua yang terjadi dengan gadis itu hari ini.
*****
Sesampainya di rumah, Winsi disuguhi pemandangan yang menyedihkan. Dia melihat Runa memohon sesuatu dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sambil bersimpuh di hadapan Basri dan Nira.
‘Ada apalagi, kali ini?’ batin Winsi terenyuh melihat ibunya yang tampak begitu lemah. Di hadapan orang yang sudah berbuat semaunya itu.
Dia masih lelah, pakaiannya juga basah, dia ingin sekali pergi ke kamar dan mengistirahatkan dirinya. Sementara hatinya tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Namun yang menyambutnya adalah, keadaan di mana hatinya semakin terasa bagai dicabik-cabik oleh cakaran singa berkuku tajam serta runcing hingga menimbulkan luka bergaris garis yang berlumuran darah.
Kemana kekuatan Runa yang kemarin sempat muncul saat membela diri dan anaknya malam itu? Kemana?
“Nah, ini dia Si Biang Kerok sudah pulang!” teriak Nira.
"Apa maksud Tante?" tanya Winsi sambil melemparkan tas ke atas sofa di ruang tamu lalu, menggamit baju Runa agar berdiri dari posisi bersimpuh di lantai seperti yang tadi dia lakukan
Akan tetapi, ibunya menolak dan tetap duduk di lantai sambil berkata, "Biarkan Ibu, Winsi! Semua ibu lakukan agar kamu tidak masuk penjara!"
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1
“Jangan lupa like, komen, give, fav dan vote, ya .... terima kasih atas dukungannya”