Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
35. Dia Yang Datang


__ADS_3

Dia Yang Datang


Belum sempat pria yang berdiri di dekat Runa dan Winsi itu menjawab, kegaduhan terdengar di ruangan lain. Kemudian dia pergi untuk melihat apa yang terjadi. Tampak baku hantam antara dua orang masih berlanjut.


Semua orang yang ada di seluruh ruangan berkumpul untuk menyelesaikan masalah .... Seorang pria yang mendobrak pintu, dan Ibu Tua yang bertugas membersihkan kantor, menceritakan kejadian yang mereka lihat.


Mereka hendak mengambil beberapa barang di gudang, akan tetapi merasa heran karena pintu terkunci dari dalam. Selain itu, mereka curiga setelah mendengar sebuah suara aneh di dinding, mirip seperti sesuatu yang terbentur. Akhirnya mereka mendobrak pintu dan betapa terkejutnya saat melihat Ran hampir saja memperkosa gadis muda yang selama ini berada dalam tahanan bersama ibunya.


“Ran! Kamu bejat sekali, merusak citra polisi dan menodai kantor ini, kurang ajar kamu, ya!” Kata salah seorang perwira polisi, sambil mencengkeram kerah baju pria bertato yang dipanggil Ran. Pria yang marah itu sepertinya mempunyai kedudukan lebih tinggi di antara polisi lainnya.


“Maaf, Kak! Aku khilaf, anak itu menggoda sekali,” bantah Ran dengan suara terbata-bata. Dia memegangi wajahnya yang bengkak setelah cukup lama dipukuli.


“Masukkan dia ke sel tahanan dan buat laporannya!” kata perwira itu.


“Jangan, Ndan! Kasian anak istri saya, Ndan! Ampuni saya, maaf, saya janji nggak akan begitu lagi ....” kata Ran sambil memohon dan menangis. Pria besar dan berotot ternyata begitu cengeng. Hilang sudah sikap arogan dan kasar yang menemani dirinya selama ini. Hilang sudah kebengisan dan kebrutalannya saat mencoba menggagahi Winsi.


“Tidak bisa! Kamu pikir apa jadinya bila semua penjahat yang tertangkap itu, memohon diampuni sepertimu, lalu, meminta belas kasihan demi anak istri?” semua orang diam saat dia bicara.


“Lalu di mana otakmu saat melakukan dosa, apa kamu juga ingat anak istri? Hah!” kata komandan itu dengan tegas, sambil menarik napas berat. Dia Kapolsek kabupaten kota, yang bertanggung jawab penuh atas semua kejadian di kantor yang dipimpinnya.


“Apa jadinya martabat hukum di negeri ini, bila kejahatan bisa diampuni hanya karena berjanji dan berkata bahwa dia tidak akan mengulangi?” katanya lagi.


“Kamu bisa saja berbohong, dan itu artinya hukum sudah cacat dan kamu bukan hanya melecehkan anak itu, tapi juga melecehkan hukum negara bahkan harga diri! Borgol dia, sebagai prosedur ... dan ambil dokumentasinya,” kata komandan itu sambil berbalik badan, dia terlihat kesal dan muak melihat wajah Ran, orang yang sudah dia percayai selama ini, tidak disangka akan mengecewakannya sedalam ini.


Anak buahnya pun segera melakukan perintah sang komandan mereka.

__ADS_1


Namun, tepat disaat hendak melangkah, dia tiba-tiba berhenti dan menatap seseorang yang sangat dikenalnya ada di sana. Seketika wajahnya berubah lembut dan menyapa dengan gugup.


Sementara orang yang di tatap, tengah mendekati Ran dan melayangkan tinju sekuat tenaganya pada pria yang sudah berbuat keji itu.


Buk!


Semua orang tidak bisa mencegah gerakannya yang begitu tiba-tiba.


“Pak, Arkan?” katanya sambil mengulurkan tangan, menggamit Arkan. Selain untuk menyalami, dia juga berniat menghentikan perbuatannya.


Laki-laki yang tadi berdiri di dekat Runa dan Winsi adalah Arkan. Dia melihat kedua wanita yang saling berpelukan sambil menangis keras dari balik jeruji besi. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan tangisan mereka tapi, setelah mendengar semua penjelasan tadi, dia pun mengerti.


Dia sengaja pulang setelah mendengar kabar dari Erlan. Kedatangannya tepat di saat Winsi sudah berhasil selamat dari pelecehan yang dialaminya.


Arkan dan komandan itu duduk di sofa dan melihat Ran digelandang ke ruang tahanan. Mereka membicarakan maksud dari kedatangan Arkan bersama pengacaranya yaitu untuk melakukan jaminan atau prosedur penangguhan penahanan bagi Runa.


Tidak ada istilah tebusan dalam prosedur hukum pidana, dengan memberikan sejumlah uang, tidak. Akan tetapi, istilah uang jaminan dari pihak tertuduh itu ada. Terdapat dalam pasal 31 KUHP-Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tentang jaminan penangguhan sebagai upaya hukum agar seorang tersangka, bisa keluar dari tahana sementara, dengan perjanjian tertentu.


Jadi, para tertuduh itu tidak harus berada dalam tahanan asalkan, tidak menghilangkan barang bukti dan tetap akan berlaku baik selama menunggu masa pemidangan mereka.


Setelah Arkan selesai melakukan semua syarat dan prosedur bersama seorang pengacaranya, Runa dan Winsi pun di bawa keluar dari ruang tahanan. Dengan wajah penuh tanda tanya, mereka mengikuti perintah Arkan yang meminta menunggu di mobil, sementara dia bercakap-cakap dengan pengacara dan komandan polisi. Dia berencana mengajukan pelaporan atas pencemaran nama baik.


Ini merupakan serangan balasan bila Nira dan Basri tidak mencabut tuntutannya. Mereka masih punya kesempatan bila tidak ingin pengajuan kasus pencemaran nama baik benar-benar dipidanakan. Waktu mereka tidak lama sebelum delik aduan yang mereka laporkan, diproses pada jenjang berikutnya dalam waktu satu pekan kedepan.


*****

__ADS_1


“Loh!” Nira begitu terkejut, saat melihat Runa dan Winsi tiba-tiba masuk rumah yang pintunya tidak terkunci, sambil mengucapkan salam. Itu kebiasaan baik mereka, walaupun tidak ada siapa pun di dalam, tetap akan mengucapkan salam karena mencegah setan yang ingin masuk bersama setiap manusia yang tidak mau mengucapkan salam.


“Kenapa kalian bisa pulang? Bahkan ini baru tiga hari.” Nira berkata sambil mengucek matanya yang masih merah karena dia baru saja bangun dari tidur setelah mendengar suara berisik di pintu rumah.


“Kamu sembrono sekali ... Kamu tidur dan rumah tidak dikunci! Seharusnya kamu tahu sebagai seorang istri atau nanti sudah punya suami kamj harus menjaga kehormatan diri dan berhati-hati, kalau tidak mengunci pintunya, bagaimana kalau ada orang masuk dan melakukan sesuatu padamu? Apa kamu tidak tahu bagaimana cara menjaga kehormatan dirimu sendiri?” tanya Runa dengan tatapan tajam ke arah Nira yang justru melengos. Dia memalingkan wajah menyebalkan, mengabaikan ucapan yang mengandung kebenaran. Ya, secara tidak langsung, Runa memberitahunya tentang bagaimana cara menjaga harkat dan martabat seorang wanita bila berada di rumah, apalagi jika sudah menikah maka, seorang wanita wajib menjaga harga dirinya demi suami dan juga keluarganya.


Sementara Winsi menatap Nira penuh permusuhan karena wanita inilah dia mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. Bahkan sampai sekarang pun sekujur tubuhnya masih terasa sakit, apalagi di area sensitifnya. Dia menganggap Nira sebagai penyebab segalanya, kalau bukan karena perempuan itu maka, dia tidak akan mengalami hal buruk dalam hidupnya.


“Heh! Kalian ... berhenti!” teriak Nira ketika Winsi dan Runa mengabaikannya. “Kenapa kalian bisa keluar dari penjara? Tanya Nira.


Dua wanita itu terus berjalan menuju kamar mereka masing-masing untuk mengemasi barang-barang yang ada.


Nira menyusul Runa ke kamar, dilihatnya wanita itu tengah melipat semua pakaiannya yang ada di lemari dan memasukkan ke dalam koper besar. Dia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran nira yang menatapnya penuh selidik.


“Apa kalian mau pergi dari rumah ini? Itu bagus!” kata Nira sambil tersenyum kecut. Dia sangat penasaran bagaimana Runa dan Winsi bisa keluar dari tahanan. Akan tetapi sepertinya kedua orang itu tetap tutup mulut dan tidak akan memberitahu kejadian yang sebenarnya.


Semua sikap Runa dan Winsi memang atas permintaan Arkan yang ingin agar tidak memberitahukan kepada siapa pun atas kebebasan dirinya dan akan menuntut balik pada Nira dan Basri atas tuduhan yang berbeda. Pria itu yakin kalau Runa dan Winsi tidak bersalah. Selain itu mereka diminta untuk pindah ke rumah miliknya.


Arkan mengatakan semua maksudnya ketika mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Runa dan Winsi selain menurutinya karena apabila mereka tetap berada di rumah itu, kemungkinan besar jebakan yang dan fitnah yang lain akan dilakukan lagi oleh Nira.


Winsi dan Runa sudah selesai mengemasi barang mereka, termasuk semua uang simpanan yang mereka kumpulkan selama ini. Dua orang ibu dan anak itu berniat hanya akan tinggal sementara di rumah besar milik Arkan, sebelum menemukan rumah sewa yang cocok untuk mereka berdua.


“Oh. Jadi, kalian memang benar-benar mau pergi dari sini? Baiklah kalau begitu, aku mau bilang sama Mas Basri sekarang.” Nira berkata sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya, saat itu Runa dan winsi sudah berjalan ke arah pintu. Mereka hendak menghampiri Arkan yang menunggu di halaman.


“Silakan! Beritahu juga sama Mas Basri, aku harap dia mau bercerai dan kamu sekarang yang harus menanggung semua pengeluaran rumah ini, seperti yang aku lakukan dulu karena Basri hanya memberiku uang cukup untuk makan, sementara kebutuhan lain aku yang memenuhi.” Runa berkata sambil membuka pintu, melangkah keluar diikuti Winsi.

__ADS_1


“Apa? Jadi, kamu minta cerai? Terus aku yang harus menanggung semuanya?”


Bersambung


__ADS_2