
Uangku Hakku
Begitu mendengar suara panggilan dari pintu, Basri segera menegakkan punggung setelah melepaskan bekapan tangannya dari mulut Winsi, anaknya sendiri. Dia merapikan pakaiannya kemudian berjalan kw luar. Dia sudah siap memasang wajah ramah, tapi kembali terlihat masam dan mengerikan, setelah melihat seseorang yang berdiri di depan pintu.
“Permisi, Pak Basri ....” Kata orang itu ramah sambil menundukkan kepala. “Maaf saya mengganggu, sebentar.”
Dia Wira, tetangga yang mengontrak rumah tak jauh dari sana. Orang itu memang masih tinggal dengan cara sewa walau sudah memiliki tiga orang anak.
“Iya, ada apa? Nggak usah basa-basi!” jawab Basri ketus, tanpa mempersilakan tamunya masuk.
Basri selalu ketus pada semua orang yang dia anggap tidak menguntungkan, apalagi pada orang yang pernah mengecewakannya, dia akan bersikap sangat kasar.
Semua orang di lingkungan itu, mengenal Basri sebagai seorang sopir truk yang selalu blak-blakan saat bicara, tanpa memandang siapa lawan bicaranya. Dia hanya ramah pada orang yang pernah memberinya sesuatu saja.
Seperti pada Wira, tetangga yang dinilainya miskin karena tidak punya rumah dan dia berpikir bahwa laki-laki itu akan merepotkan.
“Maaf, Pak. Apa mobil truknya bisa di sewa? Saya mau pindah rumah,” kata Wira dengan wajah semringah.
“Oh, mau pindah ke mana, kamu? Sini masuk.” Basri akhirnya mempersilakan tamunya masuk.
“Tidak jauh, Pak. Beda kecamatan saja. Saya nggak bisa pindah jauh-jauh dari kantor.” Wira menjawab sambil memosisikan diri, duduk di hadapan Basri.
“Memangnya kenapa kamu pindah?”
“Rumah itu mau di bongkar sama ahli warisnya, kalau bisa saya mau ngontrak lama di sana.”
“Kamu ini, pindah rumah terus. Beli rumah, makanya. Kayak saya.” Basri menepuk dada menyombongkan diri, dengan rumah peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
Basri sudah tinggal di desa itu sejak lahir, dia anak satu-satunya dari pasangan Sanusi dan Suti, yang merupakan penduduk asli, serta sesepuh desa. Mereka meninggal dalam waktu yang berdekatan, setahun, sebelum Basri menikah dengan Runa.
Sedangkan Wira menjadi penduduk di sana baru sekitar lima tahun yang lalu.
Wira hanya tersenyum, menanggapi ucapan Basri. Seorang pegawai seperti dia harus menabung cukup lama untuk bisa membeli sebuah rumah, apalagi sudah memiliki beberapa orang anak, membuat penghasilannya tersedot begitu banyak untuk pengeluaran sehari-hari. Akan tetapi, dia suami yang bertanggung jawab walaupun, hanya memiliki penghasilan pas-pasan, dia tetap berusaha untuk membahagiakan keluarganya.
“Sekali jalan lima ratus ribu. Itu sudah termasuk bensin,” kata Basri.
“Wah ..., tidak bisa kurang, ya, Pak?”
“Boleh, kalau mau dikurangi, tapi kamu bawa mobilnya sendiri! Kamu nggak biasa bawa mobil truk kan?” kata Basri melirik Wira acuh tak acuh, lalu kembali berkata, “makanya nggak usah nawar-nawar ... itu juga sudah murah.”
“Baik kalau begitu.” Wira berkata sambil mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang kepada Basri.
“Nah, gini kan enak. Kapan kamu mau berangkat?” tanya Basri sambil menghitung jumlah uang dan memasukkannya ke saku celana.
Setelah berkata demikian, Wira pun pamit pulang untuk meneruskan membereskan barang-barang.
Melihat tamunya sudah pergi, Runa berjalan mendekat dengan perlahan lalu, duduk di tempat Wira tadi berada. Wajahnya bengkak, bekas tamparan masih jelas di pipinya, matanya sembab karena menangis cukup lama. Penampilan wanita itu sungguh mengenaskan.
Sejak Winsi lari keluar rumah tadi siang, tubuhnyalah yang menjadi sasaran kemarahan Basri, dia tidak hanya menampar Runa berulang kali, tapi laki-laki itu juga menjambak, hingga beberapa helai rambutnya rontok. Setelah puas menganiaya istrinya, Basri membersihkan diri, berganti pakaian rapi dan berniat pergi.
Runa tidak perduli ke mana tujuan suaminya pergi, dia meringkuk di kamar menyembuhkan diri sendiri, sambil menangis dan hampir tertidur. Dia terbangun setelah mendengar suara teriakan Winsi dan Basri secara bersamaan. Begitu dia keluar kamar, yang dilihatnya adalah pria itu kembali menyakiti anaknya!
Kini kedua orang itu duduk saling berhadapan, Runa mengerutkan alisnya sambil menatap suaminya lekat-lekat. Dia tidak percaya bila Basri selalu tidak membawa uang saat pulang, bahkan tidak ada yang suaminya itu lakukan selain menggaulinya sampai puas lalu menyiksa anak perempuannya.
‘Apa dia tidak memberikan uang padaku karena dia tahu jualanku sekarang sudah lebih banyak? Dari mana dia tahu?’ batin Runa sambil merapikan kerudungnya.
__ADS_1
“Pak, sekarang ada uang, kan? Itu cukup buat membayar biaya sekolah Winsi.” Runa berkata dengan lemah lembut, agar tidak menyinggung suaminya.
“Apa kamu bilang? Enak saja kamu minta uang ini buat anak itu!”
Winsi masih meringkuk di lantai dapur, air mata masih mengalir di pipinya dan dia bangkit, menempelkan telinga ke dinding, mencoba mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
“Kalau dibayarin ke sekolah juga masih ada sisanya, cukup buat bensin ....”
“Kamu pikir kebutuhanku Cuma bensin?”
“Ya, sekali-kali lah, Pak. Kasih buat anakmu itu, selama ini, selalu aku yang urus semua kebutuhan Winsi?”
“Oh, jadi kamu mau mengajari aku?” Basri berkata sambil memajukan badannya, lalu, menyeringai sambil berkata, “ini uangku, artinya itu hakku. Terserah aku mau dipakai apa aja karena aku yang cari uangnya, kamu pikir gampang jadi sopir itu capek tahu? Enak aja minta-minta. Kan, kamu sudah punya uang sendiri wajar kamu ngurusin anak itu, kamu kan ibunya!”
“Ya, memang aku punya uang sendiri, tapi kan uang itu sudah dipakai untuk bayar listrik, air sama kebutuhan rumah lainnya, Pak! Itu juga tanggung jawabmu!”
“Lho, kan, kamu yang tinggal lebih lama di rumah? Seharusnya kamu bersyukur, nggak seperti Wira sama istrinya itu pindah melulu. Kalau aku, kan, banyak di luar, di rumah paling Cuma dua atau tiga hari. Jadi wajar kalau kamu yang ngurusin rumah ini.”
Mendengar ucapan Basri, Runa tercengang, ternyata seperti itu pikiran laki-laki ini, lalu, di mana janjinya dulu yang akan terus menyayangi dan memenuhi semua kebutuhannya, ketika mereka pertama kali bertemu.
Runa sangat terpesona dengan penampilan dan kata-kata pria itu, dulu. Dia sangat menjanjikan, semua wanita berharap bahwa laki-laki yang menjadi suaminya adalah orang yang akan bertanggung jawab pada kehidupan dan masa depannya hingga dia bisa bertahan hidup dengan keadaan yang baik-baik saja.
Tentu saja Runa pun menyetujui keinginan Basri, yang ingin melamar di hadapan orang tua angkatnya, tak lama dari setelah pertemuan mereka.
Saat itu, Runa tinggal di rumah majikan tempatnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka sangat baik dan menganggapnya sebagai keluarga, atau orang tuanya sendiri. Mereka sudah mengentaskan Runa dari keadaan yang terlunta-lunta dan tidak memiliki apa-apa.
Runa telah kehilangan segalanya sejak dia remaja, tepat di hari kelulusannya dari sekolah lanjutan tingkat atas. Rumahnya ludes, saat kebakaran besar terjadi di kampungnya. Kejadian itu di malam hari, sedangkan wanita itu tengah menginap di rumah salah satu temannya. Dia pulang dalam keadaan syok karena menemukan harta benda miliknya, bahkan kedua orang tuanya pun ikut hangus terbakar.
__ADS_1