Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
114. Tidak Terlibat


__ADS_3

Tidak Ingin Terlibat


Sepekan sudah Winsi berada di rumahnya kembali, sejak kepulangannya dari rumah besar untuk menengok keluarga. Dia melakukan aktivitas seperti biasanya, apabila tidak libur pagi-pagi dia akan bersiap untuk berangkat kuliah. Saat pulang di sore harinya dia membersihkan rumah dan membersihkan diri, setelah itu belajar, mempelajari studinya yang ia dapatkan tadi.


Namun, apabila libur kuliah, dia akan ikut menjaga toko dari pagi sampai malam hari. Seperti itulah aktivitas sehari-hari bersama dengan Nia. Suka duka mereka bagi bersama bahkan bekerja sama untuk membersihkan toko dan rumah serta peralatan-peralatan lain yang mereka gunakan bersama.


Anas benar-benar menepati janjinya untuk bekerja sama dengan Winsi, dia mempercayakan dua pegawainya untuk menjaga toko dan juga cafe yang dibukanya sebagai cabang baru. Dia pegawai Anas itu akan bertanggung jawab penuh ketika Winsi dan Nia melakukan kewajibannya sebagai mahasiswa.


Hari itu di akhir pekan, saatnya Winsi dan Nia ikut beraktivitas dengan dua pegawai lain, bekerja sama untuk menjaga dan membuka toko seperti biasanya. Mereka mengerjakan tugas masing-masing penuh dengan semangat karena semakin hari, kafe yang menyajikan berbagai minuman khas racikan dari Anas itu semakin ramai pembeli.


Waktu bergulir begitu saja hingga tanpa terasa sudah melewati siang, hari itu kalender menunjukkan masa peralihan antara bulan Mei dan Juni. Di mana siang hari terasa begitu terik.


Beberapa pengunjung ramai memesan minuman yang menyegarkan dan juga terkesan baru, serta aneh hingga minuman yang mereka pesan itu, dijadikan obyek swa foto. Beberapa foto yang mereka ambil, kemudian menjadi bahan konten juga status untuk status sosial media mereka.


Cara-cara seperti inilah yang justru mengundang banyak pelanggan yang melihat beberapa postingan dari pelanggan lainnya sehingga mereka tertarik untuk datang.


Tiba-tiba terdengar suara keras dari dentingan benda jatuh ke lantai dari satu gazebo yang ada di luar toko. Suara itu berasal dari seorang pengunjung yang tanpa sengaja menjatuhkan gelasnya hingga mengenai pelanggan yang lainnya.


Percakapan antara dua orang yang tidak mengenal tapi, saling bertatapan dengan tajam pun terjadi.


“Heh! Kurang ajar, Lu, Ya!” kata seorang pria bertubuh tinggi yang bajunya kotor oleh minuman.


“Maaf, Mas. Nggak sengaja!”


“Kamu memang nggak punya mata, apa? Lihat nih, baju Gua kotor, tahu?”


“Maaf, maaf ... Lu sengaja, kan?”

__ADS_1


“Nggak, Mas!”


“Bohong, Lu!”


Tanpa di duga pengunjung yang bajunya kotor itu marah besar, dia tersinggung dan menampar pengunjung lain yang tidak sengaja menumpahkan minuman.


Seorang yang ditampar itu tidak terima dirinya diperlukan demikian, hingga dia membalas tamparan. Dia adalah salah seorang pelajar yang baru saja merayakan kelulusannya dari sekolah menengah pertama. Terlihat dari pakaian putihnya yang dicoret-coret oleh spidol dan juga pilox.


“Kenapa Lu pukul Gua? Hah! Kan, Lu yang salah?”


“Kan, Gua juga udah minta maaf!”


Kedua orang itu saling bersitegang.


Tak jauh dari tempat mereka, ada beberapa anak lain yang kemudian mendekat dan membela temannya.


Seperti itulah jika manusia sudah dikuasai oleh emosi dan harga diri. Sungguh sebagian besar masalah yang terjadi di dunia hanya karena masalah ini, yaitu emosi dan harga diri.


Mereka sama sekali tidak memikirkan apa akibat dari apa yang akan mereka lakukan hingga mereka disebut sebagai manusia-manusia yang bersumbu pendek. Yaitu mereka yang tidak pernah berpikir jauh ke depan.


Perkelahian itu tidak hanya sebentar tapi, cukup lama karena mereka berusaha saling mengalahkan. Winsi, Nia dan teman-teman berusaha menghentikan hanya dengan teriakan karena tidak ingin terlibat perkelahian. Bahkan, Nia sudah menangis melihat beberapa properti yang rusak parah.


Tidak di duga, perkelahian itu merambat karena satu pukulan mengenai pelanggan lainnya yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya. Namun, karena tersinggung hingga ikut memukul orang yang lainnya yang sama-sama sebagai pelanggan.


Begitulah, perkelahian yang terjadi di depan toko itu membuat suasana kacau yang cukup ramai. Ada beberapa orang yang tidak terlibat mengambil gambar dan membuat video lalu, menguploadnya di media sosial mereka tanpa seijin dari pemilik toko.


Ada beberapa pelanggan yang menjadikan konten atau pun momen, dari perkelahian itu sebagai live streaming di media sosialnya hingga tanpa diduga terlihat oleh Anas. Pria yang tengah duduk santai itu secara tergesa-gesa meninggalkan restorannya sendiri dan bergegas menaiki mobilnya. Dia memacu kendaraan dengan cepat menuju ke restoran Winsi berada.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan dia sibuk menghubungi beberapa orang yang bisa meredam perkelahian dan membereskan semua perkara di restoran cabangnya itu.


Ah! Anas hanya mendesah kasar sambil meraup wajah dengan telapak tangan.


Sesampainya di sana, Anas sudah melihat kedatangan beberapa polisi yang tadi sempat dia hubungi, juga beberapa preman lain yang dia kenal bisa meredam amukan masa jika perkelahian terus berlanjut. Namun, dia merasa lega karena semua sudah bisa di atasi.


“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Anas sambil merangkul para pegawai termasuk Winsi.


Semua mengangguk cepat karena mereka memang tidak terlibat dan juga tidak mengalami apa pun, hanya sedih melihat kekacauan yang terjadi di depan toko juga gazebo-gazebo yang di sediakan sebagai tempat pelanggan menikmati hidangan pun rusak parah. Keadaannya berantakan dan kotor. Nia masih sesenggukan karena ketakutan.


Polisi sudah mengamankan beberapa orang yang dianggap biang keladi dari kerusuhan, tapi nanti, mereka tetap membawa Winsi dan teman-teman ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, dan juga sebagai saksi dari kejadian yang tergolong kasusu kerusuhan massa itu.


“Syukurlah kalau kalian baik-baik saja!” kata Anas sambil melepaskan pelukan pada anak buahnya. Dia lelaki yang hangat dan biasa bersikap akrab seperti itu kepada siapa saja yang dekat dengannya.


“Alhamdulillah, Om.” Sahut semua wanita secara serempak.


“Gimana, kita masih mau lanjut apa tidak?”


Anas bertanya sambil melihat ke sekitar tempat itu, hanya bagian depan saja yang terdapat banyak kerusakan. Namun, di bagian dalam, masih aman dan baik-baik saja.


Ke empat wanita muda yang menjaga toko hari ini, bersiap mengikuti polisi setelah menutup toko. Pihak keamanan sudah menyediakan satu mobil khusus yang akan membawa mereka ke sana. Namun, baru saja mereka hendak masuk ke dalam kendaraan pihak berwajib itu, seseorang berteriak keras dari dalam mobil yang dikemudikannya sendiri.


"Hai! Kalian ini, kurang ajar sekali ya, berani-beraninya!"


"Apa maksudmu, sih?" sahut Winsi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2